Sunday, September 29, 2024

Tulisan Jawa dan Sunda

 


Tulisan Bahasa Jawa Kuno dan Sunda Kuno adalah dua sistem tulisan yang berbeda meskipun memiliki beberapa kesamaan dalam bentuk aksara dan struktur karena keduanya berakar dari perkembangan aksara Brahmi yang berasal dari India. Namun, tulisan ini berkembang di wilayah yang berbeda (Jawa dan Sunda) dan memiliki perbedaan tertentu dalam gaya dan penggunaan.

1. Tulisan Bahasa Jawa Kuno dan Sunda Kuno:

  • Aksara Jawa Kuno (Aksara Kawi):
    • Aksara Jawa Kuno dikenal sebagai Aksara Kawi, yang berasal dari aksara Pallawa dari India Selatan.
    • Bahasa yang digunakan dalam prasasti-prasasti beraksara Kawi umumnya adalah Bahasa Jawa Kuno.
    • Aksara Kawi mulai digunakan sekitar abad ke-8 Masehi.
  • Aksara Sunda Kuno:
    • Aksara Sunda Kuno juga berasal dari aksara Brahmi dan Pallawa, namun dengan perkembangan yang berbeda dari Kawi.
    • Aksara ini digunakan untuk menulis Bahasa Sunda Kuno, yang digunakan di Kerajaan Sunda (sekitar abad ke-14 hingga 17 Masehi).
    • Aksara Sunda Kuno mulai dikenal pada abad ke-14 Masehi.

2. Perbandingan Tulisan:

  • Bahasa Jawa Kuno umumnya ditulis menggunakan aksara Kawi, dan Bahasa Sunda Kuno ditulis menggunakan aksara Sunda Kuno. Aksara ini berkembang secara mandiri setelah masa Kerajaan Hindu-Buddha di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
  • Aksara Kawi lebih tua dibandingkan aksara Sunda Kuno dan sudah digunakan sejak abad ke-8 Masehi, sedangkan aksara Sunda Kuno lebih muda dan mulai berkembang sekitar abad ke-14.
  • Keduanya memiliki pengaruh dari aksara Pallawa dan Brahmi, namun berkembang dengan variasi dan perbedaan lokal yang unik.

3. Aksara Hanacaraka:

Aksara Hanacaraka adalah nama untuk Aksara Jawa yang merupakan turunan dari aksara Kawi, dan masih digunakan hingga hari ini dalam bentuk modern yang dikenal sebagai Aksara Jawa atau Aksara Carakan. Aksara ini terdiri dari 20 aksara dasar yang disebut Hanacaraka, yang masing-masing mewakili suku kata.

Berikut adalah bentuk asli Aksara Hanacaraka dan cara membacanya:

Aksara Hanacaraka:
ꦲ ꦤ ꦕ ꦫ ꦏ
ꦢ ꦠ ꦱ ꦮ ꦭ
ꦥ ꦝ ꦗ ꦪ ꦚ
ꦩ ꦒ ꦧ ꦛ ꦔ
Cara Membacanya :
Ha Na Ca Ra Ka Da Ta Sa Wa La Pa Dha Ja Ya Nya Ma Ga Ba Tha Nga
  • Cara Membaca:

    • Aksara ini adalah suku kata. Setiap huruf mewakili sebuah suku kata yang terdiri dari satu konsonan diikuti oleh vokal "a". Untuk menambahkan vokal lain atau untuk membuang vokal "a", berbagai tanda diakritik (sandhangan) digunakan.
    • Misalnya, "Ha" adalah suku kata yang dibaca sebagai "ha", tetapi jika ditambah sandhangan pepet, maka dibaca "he".
  • Perkembangan Aksara:

    • Aksara Jawa berkembang dari aksara Kawi, dan aksara ini berubah mengikuti pengaruh agama Hindu, Buddha, dan kemudian Islam. Aksara ini mengalami pembakuan pada masa Mataram Islam sekitar abad ke-17.
    • Aksara Sunda Kuno yang mulai digunakan pada abad ke-14 tidak mengalami perubahan sebanyak aksara Jawa dan lebih singkat penggunaannya, terutama digantikan oleh aksara Latin sejak kolonialisme Belanda.

4. Buku Tentang Tulisan Aksara Jawa dan Sunda Kuno:

Ada beberapa buku yang mengkaji tentang perkembangan aksara Jawa dan Sunda Kuno. Berikut beberapa di antaranya:

1. "Aksara Jawa: Sejarah dan Perkembangannya" oleh P.J. Zoetmulder

  • Isi: Buku ini menjelaskan tentang sejarah dan perkembangan aksara Jawa dari aksara Kawi hingga bentuk aksara Carakan yang digunakan saat ini. Zoetmulder juga membahas perubahan gaya penulisan sepanjang sejarah Jawa.
  • Biografi P.J. Zoetmulder:
    • Kelahiran: 29 Januari 1906, Utrecht, Belanda.
    • Pendidikan: Zoetmulder belajar bahasa dan sastra Jawa Kuno di Universitas Leiden dan menyelesaikan doktoralnya dengan fokus pada sastra Jawa Kuno.
    • Karya: Zoetmulder adalah seorang ahli filologi yang dikenal luas karena kontribusinya dalam kajian bahasa Jawa Kuno dan sastra. Karyanya yang terkenal adalah "Old Javanese-English Dictionary" yang hingga kini masih digunakan sebagai rujukan utama.

2. "Sunda Kuno: Kajian Aksara dan Prasasti" oleh Edi S. Ekadjati

  • Isi: Buku ini adalah kajian tentang aksara dan prasasti Sunda Kuno, memberikan analisis terhadap prasasti-prasasti Sunda Kuno yang ditemukan di Jawa Barat, seperti Prasasti Kawali dan Sanghyang Tapak.
  • Biografi Edi S. Ekadjati:
    • Kelahiran: 2 Juni 1937, Bandung, Indonesia.
    • Pendidikan: Edi Ekadjati meraih gelar sarjana dan magister di bidang sejarah dari Universitas Padjadjaran dan melanjutkan pendidikan doktoralnya di Universitas Indonesia.
    • Karya: Edi Ekadjati adalah seorang ahli sejarah Sunda dan peneliti utama dalam bidang kajian Sunda. Ia juga dikenal sebagai salah satu penulis penting dalam sejarah kebudayaan Sunda.

3. "Perkembangan Aksara di Nusantara" oleh Casparis

  • Isi: Buku ini membahas perkembangan berbagai aksara di Nusantara, termasuk aksara Kawi, Jawa Kuno, dan Sunda Kuno, serta bagaimana pengaruh aksara dari India berkembang di kepulauan ini.
  • Biografi Casparis:
    • Kelahiran: Jan Casparis lahir pada tahun 1916 di Belanda.
    • Pendidikan: Ia adalah seorang epigraf dan arkeolog yang meraih pendidikan tinggi di Universitas Leiden.
    • Karya: Casparis banyak meneliti prasasti-prasasti di Asia Tenggara, terutama Indonesia. Salah satu karyanya yang terkenal adalah kajian prasasti-prasasti dari masa Hindu-Buddha di Indonesia.

5. Ahli yang Bisa Membaca Aksara Jawa Kuno dan Sunda Kuno di Indonesia:

Beberapa ahli epigrafi di Indonesia yang memiliki keahlian dalam membaca aksara Jawa Kuno dan Sunda Kuno antara lain:

  • Dr. Timbul Haryono (Universitas Gadjah Mada) – Ahli arkeologi dan epigrafi yang mengkhususkan diri pada aksara Jawa Kuno.
  • Dr. Ayatrohaedi (alm.) – Ahli bahasa dan sastra Sunda Kuno dari Universitas Indonesia yang banyak meneliti aksara Sunda Kuno.

Mereka telah berperan besar dalam mengungkap dan menguraikan prasasti-prasasti serta naskah-naskah kuno dalam bahasa Jawa dan Sunda.

6. Perkembangan Hanacaraka dari Abad ke Abad

a. Abad ke-8 hingga Abad ke-10 (Aksara Kawi)

  • Aksara Hanacaraka berakar dari Aksara Kawi, yang digunakan pada prasasti-prasasti Jawa Kuno sekitar abad ke-8 hingga abad ke-10 Masehi.
  • Aksara Kawi adalah turunan dari aksara Pallawa, yang dibawa oleh pengaruh India melalui kontak budaya dan perdagangan.
  • Aksara Kawi digunakan dalam penulisan prasasti-prasasti Hindu-Buddha di Nusantara, seperti Prasasti Canggal dari tahun 732 M yang dikeluarkan oleh Raja Sanjaya.

b. Abad ke-12 hingga Abad ke-15 (Aksara Jawa Kuno)

  • Aksara Kawi berkembang menjadi Aksara Jawa Kuno atau Aksara Majapahit pada masa Kerajaan Majapahit (1293–1527 M). Aksara ini mengalami sedikit penyederhanaan dari bentuk aksara Kawi sebelumnya.
  • Aksara ini digunakan dalam penulisan prasasti dan manuskrip yang berkaitan dengan keagamaan, hukum, dan sejarah kerajaan.
  • Contoh penggunaan aksara ini terdapat pada prasasti-prasasti seperti Prasasti Trowulan dari abad ke-14.

c. Abad ke-17 hingga Abad ke-18 (Aksara Carakan)

  • Pada masa Mataram Islam, aksara Jawa mulai mengalami penyederhanaan lebih lanjut dan menjadi bentuk yang dikenal sebagai Aksara Carakan atau Aksara Hanacaraka.
  • Perkembangan ini terjadi seiring dengan pengaruh Islam yang lebih dominan, tetapi aksara ini tetap mempertahankan bentuk yang diwarisi dari masa Hindu-Buddha.
  • Pada abad ke-17 hingga ke-18, aksara Carakan digunakan dalam Serat (naskah sastra) seperti Serat Ramayana dan Serat Bratayudha.

d. Abad ke-19 hingga Sekarang (Aksara Jawa Modern)

  • Seiring dengan kolonialisme Belanda, aksara Jawa mulai tergeser oleh aksara Latin, tetapi aksara ini tetap digunakan untuk keperluan budaya dan pendidikan.
  • Pada abad ke-19, aksara Jawa mengalami standarisasi oleh pihak kerajaan dan digunakan dalam teks-teks sastra.
  • Hingga saat ini, aksara Hanacaraka tetap diajarkan di sekolah-sekolah di Jawa dan masih digunakan dalam konteks budaya, seperti dalam penulisan papan nama, naskah tradisional, dan upacara adat.

7. Tata Cara Membaca Aksara Jawa

Setiap aksara dasar mewakili suku kata yang terdiri dari satu konsonan dengan vokal bawaan "a". Jika ingin mengganti vokal atau menambahkan bunyi lain, digunakan diakritik (sandhangan):

  • Sandhangan Swara (untuk vokal):

    • Pepet (ꦼ): Mengubah vokal menjadi "e" (contoh: "ha" menjadi "he").
    • Taling (ꦶ): Mengubah vokal menjadi "i" (contoh: "ka" menjadi "ki").
    • Taling Tarung (ꦷ): Mengubah vokal menjadi "o" (contoh: "wa" menjadi "wo").
    • Cecek (ꦁ): Mengubah konsonan menjadi nasal atau tenggorok (contoh: "nga").
  • Sandhangan Konsonan:

    • Pangkon (꧀): Menghilangkan vokal "a", hanya menyisakan konsonan (contoh: "ha" menjadi "h").
    • Cecak (ꦁ): Menambahkan bunyi nasal atau 'ng'.

8. Buku-Buku tentang Aksara Jawa

Berikut adalah beberapa buku penting yang membahas aksara Jawa dan perkembangannya:

a. "Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang" oleh P.J. Zoetmulder

  • Isi: Buku ini memberikan pandangan menyeluruh tentang sastra Jawa Kuno, termasuk penggunaan aksara Kawi dalam penulisan teks-teks kuno. Zoetmulder mendalami sejarah, perkembangan, dan estetika aksara Kawi dan aksara Jawa Kuno.
  • Biografi Penulis: Zoetmulder adalah seorang ahli filologi dan sastra Jawa Kuno yang terkenal. Dia lahir di Utrecht, Belanda, pada tahun 1906, dan menjadi pelopor dalam kajian sastra dan bahasa Jawa Kuno.

b. "Aksara Jawa dan Budaya Literasi" oleh Sutrisno

  • Isi: Buku ini membahas tentang sejarah dan perkembangan aksara Jawa dari masa ke masa, serta perannya dalam budaya literasi di Jawa.
  • Biografi Penulis: Sutrisno adalah seorang ahli budaya Jawa yang mendalami aksara dan sastra Jawa. Dia aktif sebagai peneliti dan dosen di bidang kajian Jawa di Universitas Gadjah Mada.

c. "Prasasti Indonesia" oleh J.G. de Casparis

  • Isi: Buku ini memberikan kajian tentang prasasti-prasasti kuno di Indonesia, terutama yang menggunakan aksara Kawi dan aksara Jawa. Casparis menganalisis prasasti dari berbagai masa, mulai dari abad ke-8 hingga abad ke-15.
  • Biografi Penulis: Casparis adalah seorang epigraf terkemuka asal Belanda yang banyak meneliti prasasti-prasasti di Nusantara. Dia lahir pada tahun 1916 di Belanda dan telah berkontribusi besar dalam kajian sejarah dan epigrafi di Asia Tenggara.

Dengan berbagai perkembangan ini, aksara Hanacaraka masih menjadi bagian penting dari identitas budaya di Indonesia, khususnya di pulau Jawa.

No comments: