Sunday, September 29, 2024

Kerajaan Sunda Tertua vs Tulisan Tertua

 Kerajaan-kerajaan di wilayah Sunda pada abad ke-5 memang sudah ada, namun peninggalan prasasti dalam bentuk tulisan dari masa tersebut sangat terbatas. Salah satu kerajaan tertua yang dikenal dari wilayah Sunda adalah Kerajaan Tarumanegara, yang berdiri pada abad ke-5 M. Meskipun kerajaan ini sudah ada sejak awal abad ke-5, peninggalan dalam bentuk prasasti dari periode tersebut memang ada, namun tidak menggunakan aksara Sunda Kuno melainkan menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta.

Berikut beberapa prasasti dari masa Kerajaan Tarumanegara, meskipun tidak ditulis dalam aksara Sunda Kuno, namun ini adalah bukti tertulis dari kerajaan-kerajaan Sunda awal:

1. Prasasti Ciaruteun (Abad ke-5 M)

  • Lokasi Penemuan: Ditemukan di tepi Sungai Ciaruteun, Bogor, Jawa Barat.
  • Tahun Pembuatan: Diperkirakan dari sekitar tahun 450 M.
  • Bahasa dan Aksara: Ditulis dalam bahasa Sanskerta menggunakan aksara Pallawa.
  • Isi Prasasti: Prasasti ini memuat cap telapak kaki Raja Purnawarman dan menyatakan bahwa telapak kaki tersebut seperti telapak kaki Dewa Wisnu. Ini menunjukkan kekuasaan dan keagungan Raja Purnawarman sebagai raja yang berkuasa atas Kerajaan Tarumanegara.

2. Prasasti Kebon Kopi I (Abad ke-5 M)

  • Lokasi Penemuan: Ditemukan di Kebon Kopi, Bogor, Jawa Barat.
  • Tahun Pembuatan: Diperkirakan dari sekitar tahun 450 M.
  • Bahasa dan Aksara: Ditulis dalam bahasa Sanskerta menggunakan aksara Pallawa.
  • Isi Prasasti: Prasasti ini juga memuat gambar cap telapak kaki gajah dan mengacu pada gajah tunggangan Raja Purnawarman, yang menggambarkan keagungan kekuasaannya.

3. Prasasti Tugu (Abad ke-5 M)

  • Lokasi Penemuan: Ditemukan di Tugu, Cilincing, Jakarta Utara.
  • Tahun Pembuatan: Diperkirakan dari sekitar tahun 450 M.
  • Bahasa dan Aksara: Ditulis dalam bahasa Sanskerta menggunakan aksara Pallawa.
  • Isi Prasasti: Prasasti ini memuat keterangan tentang penggalian sungai Candrabhaga dan Gomati, yang dilakukan oleh Raja Purnawarman untuk pengairan dan irigasi pertanian di wilayah kerajaan.

Apakah Ada Prasasti dengan Aksara Sunda Kuno dari Abad ke-5?

Prasasti-prasasti dari Kerajaan Tarumanegara, meskipun berlokasi di wilayah Sunda (Jawa Barat modern), tidak ditulis menggunakan aksara Sunda Kuno melainkan dengan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta, yang merupakan bahasa dan aksara umum pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara. Hingga saat ini, prasasti-prasasti tertua yang secara jelas menggunakan aksara Sunda Kuno baru ditemukan dari periode yang jauh lebih kemudian, yaitu sekitar abad ke-14, pada masa Kerajaan Sunda Galuh atau Kerajaan Pajajaran.

Mengapa Tidak Ada Prasasti Berbahasa Sunda Kuno dari Abad ke-5?

  • Pengaruh Budaya India: Pada abad ke-5, Kerajaan Tarumanegara yang berkuasa di wilayah Sunda masih sangat dipengaruhi oleh budaya India, terutama dalam penggunaan bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa. Penggunaan bahasa dan aksara lokal (seperti aksara Sunda Kuno) belum berkembang secara signifikan pada periode ini.
  • Perkembangan Aksara Lokal: Aksara Sunda Kuno baru berkembang secara mandiri di kemudian hari, setelah pengaruh India mulai meredup dan kerajaan-kerajaan di Sunda berkembang dengan lebih banyak unsur lokal.

Buku-Buku yang Membahas Prasasti Tarumanegara:

  1. "Prasasti Indonesia, Vol. I" oleh F.D.K. Bosch

    • Buku ini merupakan salah satu rujukan utama untuk mempelajari prasasti-prasasti kuno di Indonesia, termasuk prasasti-prasasti dari Tarumanegara.
    • Biografi Penulis: F.D.K. Bosch adalah seorang epigraf dan arkeolog Belanda yang banyak meneliti prasasti-prasasti kuno di Nusantara, termasuk prasasti-prasasti yang berasal dari Kerajaan Tarumanegara.
  2. "Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno" oleh Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto

    • Buku ini memberikan ulasan mengenai sejarah Indonesia kuno, termasuk pembahasan tentang Kerajaan Tarumanegara dan prasasti-prasasti yang ditemukan dari masa itu.
    • Biografi Penulis: Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto adalah sejarawan Indonesia yang menyusun seri sejarah nasional Indonesia. Mereka dikenal atas kontribusi mereka dalam menulis sejarah Indonesia dari berbagai periode, termasuk zaman kuno.


PERBEDAAN AKSARA PALAWA DAN HANACARAKA

Aksara Pallawa dan Hanacaraka adalah dua sistem penulisan yang berbeda yang berkembang di Nusantara, tetapi keduanya memiliki hubungan sejarah yang kuat. Aksara Pallawa berasal dari India, sedangkan Hanacaraka (juga dikenal sebagai aksara Jawa) adalah aksara lokal yang berkembang dari adaptasi aksara-aksara India termasuk Pallawa. Mari kita bahas perbandingannya dalam hal asal, bentuk huruf, dan perkembangan:

1. Asal Usul

  • Aksara Pallawa: Berasal dari India Selatan, aksara Pallawa diperkirakan mulai digunakan di Nusantara pada abad ke-4 hingga ke-5 Masehi, terutama di prasasti-prasasti awal kerajaan Hindu-Buddha seperti Tarumanegara dan Kutai. Aksara Pallawa merupakan salah satu varian dari aksara Brahmi, yang juga menjadi asal dari banyak aksara lain di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
  • Aksara Hanacaraka: Merupakan aksara asli Nusantara yang berkembang di Jawa dan Bali. Aksara ini berasal dari turunan aksara Kawi, yang pada gilirannya merupakan adaptasi dari aksara Pallawa. Hanacaraka mulai digunakan secara luas pada abad ke-9 hingga ke-10 Masehi di Jawa, dan masih digunakan sampai sekarang dalam beberapa konteks budaya di Jawa dan Bali.

2. Bentuk Huruf

  • Aksara Pallawa:
    • Memiliki bentuk yang lebih kaku dan geometris dibandingkan aksara Nusantara yang berkembang kemudian.
    • Ciri khas Pallawa adalah penggunaan garis-garis lurus dan bentuk-bentuk huruf yang cenderung kotak, mencerminkan asal-usul aksara ini dari India Selatan.
  • Aksara Hanacaraka (Aksara Jawa):
    • Memiliki bentuk yang lebih melengkung dan artistik, sering kali terlihat lebih halus dibandingkan aksara Pallawa.
    • Huruf-huruf Hanacaraka lebih dekoratif, dengan bentuk bulat dan melengkung yang mencerminkan adaptasi lokal dari aksara India dan pengaruh budaya setempat.
    • Setiap huruf mewakili suku kata tertentu, mirip dengan aksara Pallawa, namun pengembangan bentuknya lebih estetis.

3. Contoh Huruf

  • Aksara Pallawa: Bentuk aksara Pallawa cenderung sederhana dengan banyak garis lurus dan sudut. Beberapa contohnya bisa dilihat dalam prasasti kuno seperti Prasasti Tugu.

    • ka (क) -
    • na (न)
    • ta (त)
    • pa (प)
    • ma (म)
  • Aksara Hanacaraka (Jawa): Huruf-hurufnya lebih halus dan dekoratif, terdiri dari 20 huruf utama yang dikenal sebagai "Hanacaraka" yang masing-masing mewakili suku kata.

    • ha (ꦲ)
    • na (ꦤ)
    • ca (ꦕ)
    • ra (ꦫ)
    • ka (ꦏ)
    • da (ꦢ)
    • ta (ꦠ)
    • sa (ꦱ)
    • wa (ꦮ)
    • la (ꦭ)

4. Perbandingan Bentuk Huruf

  • Ka dalam aksara Pallawa: क

  • Ka dalam aksara Hanacaraka: ꦏ

  • Na dalam aksara Pallawa: न

  • Na dalam aksara Hanacaraka: ꦤ

  • Ta dalam aksara Pallawa: त

  • Ta dalam aksara Hanacaraka: ꦠ

Aksara Pallawa cenderung lebih sederhana dalam bentuk dan sangat terpengaruh oleh gaya penulisan India kuno. Sementara itu, Hanacaraka lebih artistik, dengan gaya lokal yang lebih mengalir dan melengkung.

5. Perkembangan dari Pallawa ke Hanacaraka

  • Aksara Pallawa digunakan di Nusantara pada prasasti-prasasti kuno, seperti prasasti dari kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa dan Sumatra. Seiring waktu, aksara Pallawa ini mulai diadaptasi dan dimodifikasi menjadi aksara Kawi (juga dikenal sebagai Jawa Kuno), yang merupakan pendahulu dari aksara Hanacaraka.
  • Aksara Kawi mulai berkembang sekitar abad ke-8 dan terus digunakan sampai akhir abad ke-15 di berbagai kerajaan di Jawa dan Bali. Dari aksara Kawi inilah kemudian berkembang menjadi aksara Hanacaraka pada abad-abad berikutnya.
  • Aksara Hanacaraka atau aksara Jawa adalah bentuk paling modern dari aksara-aksara ini, dan digunakan untuk menulis bahasa Jawa, Bali, serta kadang-kadang bahasa Sunda Kuno.

6. Cara Membaca

  • Aksara Pallawa dan Hanacaraka keduanya menggunakan sistem abugida, di mana setiap konsonan membawa vokal bawaan (biasanya "a"). Vokal-vokal lain ditambahkan melalui tanda diakritik.
    • Contoh pada aksara Pallawa: "क" (ka) bisa ditambahkan dengan tanda vokal diakritik, seperti "कि" (ki) atau "कु" (ku).
    • Pada aksara Hanacaraka, hal yang sama terjadi: "ꦏ" (ka) bisa ditambahkan dengan tanda vokal seperti "ꦏꦶ" (ki) atau "ꦏꦸ" (ku).

7. Buku yang Membahas Aksara Pallawa dan Hanacaraka

  • "Aksara Pallawa di Nusantara" oleh J.G. de Casparis
    • Biografi Penulis: J.G. de Casparis adalah seorang epigraf terkemuka asal Belanda yang mempelajari prasasti-prasasti kuno di Indonesia. Ia banyak meneliti aksara Pallawa dan penggunaannya di prasasti-prasasti dari masa Hindu-Buddha di Nusantara.
  • "Aksara Jawa" oleh Poerbatjaraka
    • Biografi Penulis: Poerbatjaraka adalah seorang ahli filologi dan sastra Jawa yang banyak meneliti aksara dan literatur Jawa Kuno. Ia dikenal atas kontribusinya dalam penelitian naskah-naskah dan aksara Jawa.


Kesimpulan:

Prasasti-prasasti tertua dari wilayah Sunda pada abad ke-5, seperti Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi, dan Prasasti Tugu, merupakan peninggalan dari Kerajaan Tarumanegara dan ditulis dalam aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta, bukan aksara Sunda Kuno. Peninggalan tertulis dengan aksara Sunda Kuno baru ditemukan dari abad ke-14, terutama dari masa Kerajaan Sunda Galuh dan Pajajaran.

Aksara Pallawa dan Hanacaraka memang memiliki hubungan sejarah, di mana aksara Pallawa dari India menjadi salah satu sumber utama dalam perkembangan aksara lokal di Jawa, termasuk Hanacaraka. Meskipun bentuk dan gaya penulisannya sangat berbeda, keduanya berbagi beberapa prinsip dasar dalam sistem penulisan mereka.



No comments: