Pembahasan Catatan Perjalanan I-Tsing dan Prasasti Nalanda
- Sejarawan yang Membahas Catatan Perjalanan I-Tsing
Catatan perjalanan I-Tsing (Nánhǎi jì guī nèifǎzhuàn) telah dibahas oleh beberapa sejarawan ternama. Salah satu yang paling terkenal adalah J. Takakusu, seorang orientalis Jepang, yang menerjemahkan karya I-Tsing ke dalam bahasa Inggris dalam bukunya berjudul A Record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago (1896). Buku ini mengulas secara detail perjalanan I-Tsing dan pengaruh Sriwijaya sebagai pusat pendidikan Buddhis di Asia Tenggara.
Biografi J. Takakusu:
- Nama lengkap: Junjirō Takakusu
- Tanggal lahir: 29 Juni 1866
- Pendidikan: Universitas Tokyo (Jepang) dan Universitas Oxford (Inggris)
- Kontribusi: Ahli studi Buddhis dan teks Sanskerta. Terkenal karena karyanya dalam penerjemahan teks Buddhis dan catatan perjalanan I-Tsing.
- Tanggal meninggal: 28 Juni 1945
- Prasasti Nalanda dan Pembahasannya
Prasasti Nalanda ditulis pada abad ke-9 Masehi selama masa pemerintahan Raja Devapala, seorang raja dari dinasti Pala di India. Prasasti ini mencatat hubungan diplomatik antara Raja Balaputradewa dari Sriwijaya dan Universitas Nalanda. Raja Balaputradewa mengirim utusan serta para siswa ke Universitas Nalanda, dan juga memberikan sumbangan tanah untuk mendirikan vihara di kompleks Nalanda.
Penulisan Prasasti Nalanda:
- Tahun penulisan: Abad ke-9 Masehi
- Raja yang memerintah: Devapala, Raja dari Dinasti Pala
- Isi prasasti: Menyebutkan donasi tanah dari Raja Balaputradewa dari Sriwijaya dan hubungannya dengan Universitas Nalanda.
Prasasti ini merupakan salah satu bukti tertulis yang menunjukkan hubungan erat antara Sriwijaya dan India dalam konteks pendidikan Buddhis dan aktivitas keagamaan. Prasasti ini sepanjang sekitar 21 baris dalam bahasa Sanskerta, dengan aksara Nagari.
- Versi Lengkap Prasasti Nalanda
Versi lengkap dari Prasasti Nalanda telah ditemukan dan sekarang disimpan di Museum Arkeologi Nalanda di Bihar, India. Prasasti ini penting karena mengungkap sejarah hubungan pendidikan antara Nusantara dan India. Sejarawan modern yang telah meneliti dan menganalisis prasasti ini meliputi Hirananda Shastri, seorang arkeolog India yang menulis tentang prasasti ini dalam beberapa publikasi pada awal abad ke-20.
Catatan sejarah yang menunjukkan bahwa anak raja India dikirim untuk belajar di Sriwijaya terdapat dalam literatur India kuno, salah satunya adalah Nalanda Inscription atau Prasasti Nalanda. Prasasti ini mencatat hubungan antara kerajaan Sriwijaya dan India, termasuk raja Sriwijaya yang mengirimkan siswa untuk belajar di Universitas Nalanda, dan sebaliknya, para bangsawan India dikirim untuk belajar di Sriwijaya.
Prasasti Nalanda, yang dibuat pada abad ke-9 Masehi, mencatat bahwa Raja Balaputradewa dari Sriwijaya mengirimkan utusan dan para siswa ke Universitas Nalanda di India, dan menjalin hubungan akademik serta keagamaan yang erat. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sanskerta dan menggunakan aksara Nagari.
Berikut adalah contoh terjemahan dari bagian yang relevan dalam prasasti tersebut:
Tulisan asli Sanskerta: "स्वस्वर्णभूमेः श्रीविजयादित्यराजस्स्पुत्रः श्रीबलपुत्रदेवः...।"
Cara baca dalam huruf Latin: "Svasvarṇabhūmeḥ Śrīvijayādityarājasya putraḥ Śrībalaputradevaḥ...”
Terjemahan: "Putra Raja Sriwijaya yang mulia, Raja Balaputradewa dari Swarnabhumi (Sumatra)..."
Prasasti Nalanda ini saat ini disimpan di Museum Arkeologi Nalanda di Bihar, India.
Selain Prasasti Nalanda, bukti lain tentang hubungan pendidikan antara Sriwijaya dan India juga ditemukan dalam catatan perjalanan seorang biksu dari China bernama I-Tsing (Yi Jing), yang mencatat bahwa para biksu dari berbagai negara, termasuk India, belajar di Sriwijaya sebelum melanjutkan perjalanan mereka ke India untuk studi lebih lanjut. Ini menunjukkan bahwa Sriwijaya pada masa itu menjadi pusat pendidikan dan spiritual di Asia Tenggara.
Catatan perjalanan I-Tsing ditulis dalam bahasa Mandarin Kuno dan dikenal sebagai Nánhǎi jì guī nèifǎzhuàn (南海寄歸內法傳), atau Catatan Hukum Dharma yang Dikirim dari Laut Selatan.
Biografi Hirananda Shastri:
- Nama lengkap: Hirananda Shastri
- Tanggal lahir: 1878
- Pendidikan: Sekolah Arkeologi di India
- Kontribusi: Sejarawan dan arkeolog India yang terkenal karena penelitian prasasti dan situs arkeologi kuno, terutama yang terkait dengan sejarah Buddhisme.
- Tanggal meninggal: 1946
- Pembahasan Buku tentang Prasasti Nalanda
Selain Hirananda Shastri, sejarawan lain yang membahas prasasti ini adalah Sir Alexander Cunningham, yang dikenal sebagai "Bapak Arkeologi India". Dalam bukunya, The Ancient Geography of India (1871), Cunningham membahas situs-situs penting di India, termasuk Universitas Nalanda dan prasasti-prasasti terkait.
Biografi Alexander Cunningham:
- Nama lengkap: Sir Alexander Cunningham
- Tanggal lahir: 23 Januari 1814
- Pendidikan: Royal Military Academy, Woolwich
- Kontribusi: Pendiri Survei Arkeologi India, yang memainkan peran penting dalam penggalian situs-situs kuno di India.
- Tanggal meninggal: 28 November 1893
Dengan demikian, berbagai sejarawan telah meneliti hubungan antara Sriwijaya dan India berdasarkan prasasti dan catatan perjalanan kuno. Prasasti Nalanda memberikan bukti yang kuat tentang interaksi intelektual antara dua wilayah besar di Asia ini.
Anak-anak raja India dikirim untuk belajar di Sriwijaya karena Sriwijaya, pada puncak kejayaannya (abad ke-7 hingga ke-13), dikenal sebagai pusat pembelajaran agama Buddha yang penting di Asia Tenggara. Kerajaan Sriwijaya memiliki hubungan yang erat dengan pusat-pusat pembelajaran Buddhis di India, seperti Universitas Nalanda, yang terkenal di seluruh dunia Buddhis sebagai pusat pendidikan agama Buddha yang prestisius.
Sriwijaya sendiri memiliki institusi pendidikan yang kuat dalam ajaran Buddha, dan para pelajar dari berbagai negara datang ke Sriwijaya untuk mendalami ajaran Buddha dan ilmu pengetahuan lainnya. Ini menjadikan Sriwijaya salah satu pusat intelektual terpenting di dunia pada masanya. Raja-raja Sriwijaya juga dikenal sebagai pelindung dan penyokong pendidikan, membangun kuil, biara, dan lembaga pendidikan yang menarik perhatian para sarjana dan pelajar dari India, Tiongkok, dan negara-negara lain.
Alasan utama pengiriman anak raja India ke Sriwijaya:
- Pusat Pembelajaran Buddhis: Sriwijaya memiliki hubungan yang erat dengan agama Buddha, dan biara-biara serta sekolah-sekolah Buddhis di sana menarik minat para pelajar dari India dan negara lain.
- Hubungan Diplomatik dan Intelektual: Raja-raja Sriwijaya menjalin hubungan yang erat dengan pusat-pusat Buddhis di India, termasuk Universitas Nalanda. Para pelajar dari Sriwijaya, seperti I-Tsing, juga pergi ke Nalanda untuk belajar. Dalam konteks timbal balik, para bangsawan dan anak raja dari India juga dikirim ke Sriwijaya untuk belajar.
- Sriwijaya sebagai Jembatan Pengetahuan: Posisi strategis Sriwijaya sebagai pusat perdagangan dan budaya menjadikannya titik persilangan intelektual antara India dan Asia Tenggara.
Universitas atau pusat pendidikan di Sriwijaya: Sriwijaya tidak memiliki universitas formal seperti Nalanda di India, namun ia memiliki banyak vihara atau biara yang berfungsi sebagai pusat pendidikan. Biara-biara Buddhis di Sriwijaya menyediakan tempat belajar untuk filsafat Buddhis, agama, serta berbagai cabang ilmu pengetahuan, di mana para biksu dan pelajar belajar dari guru-guru terkenal. Para pelajar India yang dikirim ke Sriwijaya kemungkinan belajar di vihara-vihara ini yang tersebar di seluruh wilayah Sriwijaya.
Hubungan Sriwijaya dengan Nalanda: Sriwijaya juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan Universitas Nalanda, dan bahkan Raja Balaputradewa dari Sriwijaya mendirikan sebuah biara di Nalanda pada abad ke-9 untuk mendukung para pelajar dari Sriwijaya yang belajar di sana. Hubungan ini memperkuat reputasi Sriwijaya sebagai pusat intelektual Buddhis di wilayah tersebut.
Secara keseluruhan, Sriwijaya menjadi pusat pembelajaran Buddhis yang penting, dan para pelajar, termasuk anak-anak raja dari India, datang ke sana untuk mempelajari agama Buddha dan berbagai ilmu lainnya.
No comments:
Post a Comment