Mari kita bahas dengan cermat dari teks asli, konteks historis, dan tafsir para ahli.
TEKS ASLI DAN TERJEMAHANNYA
Ayub 2:9 (LAI)
“Maka berkatalah isterinya kepadanya: Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!”
Teks Ibrani:
וַתֹּ֤אמֶר לוֹ֙ אִשְׁתּ֔וֹ עֹ֥דְךָ֖ מַחֲזִ֣יק בְּתֻמָּתֶ֑ךָ בָּרֵ֥ךְ אֱלֹהִ֖ים וָמֻֽת׃
(Vattomer lo ishto: ‘odkha machaziq betummatekha; barekh Elohim vamut.’)
1. Masalah Utama Ada pada Kata “בָּרֵךְ (barekh)”
Kata "barekh" secara harfiah berarti “memberkati.”
Namun, dalam konteks tertentu di Alkitab Ibrani, kata ini digunakan sebagai “eufemisme” (ungkapan halus) untuk arti sebaliknya — “mengutuk.”
Contohnya:
-
Ayub 1:5 dan 1:11, Iblis berkata bahwa Ayub akan “memberkati Allah,” tetapi jelas maksudnya “mengutuk Allah.”
-
Jadi, kata “barekh” bisa berarti “memberkati” atau “mengutuk” tergantung konteks kalimat dan situasi.
➡️ Dengan demikian, terjemahan “Kutukilah Allahmu dan matilah!” adalah tafsiran kontekstual, bukan terjemahan literal.
2. Dua Penafsiran Besar tentang Ucapan Istri Ayub
🅰️ Pandangan tradisional (umum di gereja dan sinagoga):
Istri Ayub dianggap lemah iman dan berbicara dengan nada putus asa:
-
Ia melihat penderitaan suaminya begitu berat dan tidak tahan lagi.
-
Maka ia berkata dengan getir, “Sudahlah, tinggalkan imanmu, akhiri saja hidupmu!”
-
Ayub menegurnya dengan lembut namun tegas:
“Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10)
🩸 Esensi pandangan ini:
Istri Ayub menjadi simbol manusia yang kehilangan harapan di tengah penderitaan, sementara Ayub menjadi contoh iman yang tetap teguh.
🅱️ Pandangan alternatif (beberapa ahli tafsir modern & rabinik):
Istri Ayub tidak sedang menghujat Allah, melainkan mengungkapkan kepedihan dan mengajak Ayub untuk menyerahkan diri kepada Allah sepenuhnya — bahkan sampai mati.
Alasan mereka:
-
Kata barekh Elohim vamut bisa juga diartikan:
“Berkatilah Allah dan istirahatlah (mati) — lepaskanlah penderitaanmu.”
Maksudnya bukan “hujat Allah,” tapi “serahkan hidupmu pada Tuhan, biarkan Dia yang mengambilmu.” -
Ia tetap berada di sisi Ayub — tidak pergi meninggalkannya.
Dalam seluruh kitab Ayub, istrinya tidak disebut berbuat dosa, tidak ditegur Allah, dan tidak termasuk dalam kelompok yang ditegur (berbeda dengan ketiga sahabat Ayub). -
Di akhir kitab, ketika Ayub dipulihkan dan memperoleh anak-anak lagi, teks tidak mengatakan bahwa Ayub menikah ulang. Ini berarti istrinya tetap bersamanya — mendampingi sampai pemulihan.
-
Karena itu, sebagian ahli menyimpulkan:
Istri Ayub bukan tokoh jahat, tetapi simbol manusia yang menangis bersama penderita, meskipun tidak mengerti maksud Allah.
💡 Tafsir rabinik menarik:
Midrash Tanhuma dan beberapa penulis Yahudi klasik berpendapat bahwa istri Ayub mengucapkan kalimat itu dengan air mata — bukan dengan marah, melainkan dengan rasa iba dan cinta, karena tidak tahan melihat suaminya menderita.
3. Mengapa Ayub Tidak Mendoakan Istrinya di Pasal 42?
Ayub 42:8–9 — ia mendoakan ketiga sahabatnya.
➡️ Tidak disebutnya istri Ayub bukan berarti dia bersalah, tetapi karena Allah tidak menegur istrinya.
Yang ditegur hanyalah ketiga sahabat karena mereka “tidak berkata benar tentang Aku seperti hambaku Ayub.”
Artinya:
-
Istrinya tidak salah berkata tentang Allah (tidak salah teologi).
-
Ia hanya berbicara dari kedalaman rasa sakit manusiawi.
Maka Ayub tidak perlu mempersembahkan korban pengampunan untuknya.
4. Refleksi Teologis dan Iman
Kisah istri Ayub tidak harus dibaca sebagai kisah “wanita yang gagal beriman,” tetapi juga bisa dipahami sebagai kisah pendamping yang jujur di tengah penderitaan.
Kadang orang yang paling mengasihi kita mengucapkan kata-kata yang keliru karena tidak tahan melihat penderitaan kita, bukan karena melawan Tuhan.
Istri Ayub mungkin adalah cermin empati manusia, sementara Ayub adalah cermin keteguhan iman.
Keduanya menunjukkan dua sisi pengalaman rohani manusia:
-
Sisi kemanusiaan yang rapuh (istri Ayub),
-
Sisi iman yang kokoh (Ayub),
dan Tuhan hadir di antara keduanya.
Kesimpulan Akhir
| Aspek | Pandangan Tradisional | Pandangan Alternatif |
|---|---|---|
| Arti “barekh Elohim vamut” | “Kutukilah Allahmu dan matilah!” | “Berkatilah Allah dan istirahatlah (serahkan hidupmu kepada-Nya)” |
| Sikap istri | Menyerah dan lemah iman | Setia mendampingi, berbicara dari kasih dan keputusasaan |
| Alasan Ayub tidak mendoakannya | Mungkin dianggap salah berbicara | Tidak bersalah, karena tidak ditegur Allah |
| Makna teologis | Iman sejati bertahan tanpa kompromi | Kasih dan kesetiaan bisa tetap nyata meski dalam kebingungan rohani |
Pendapat pribadi (berdasarkan analisis teks dan konteks):
Saya menilai bahwa istri Ayub tidak layak dicap sebagai pendosa atau pengkhianat iman.
Ia adalah manusia yang sedang hancur oleh kehilangan, sama seperti Ayub.
Kata-katanya lebih merupakan jeritan kasih dan keputusasaan, bukan dorongan untuk menghujat Allah.
Dalam terang keseluruhan kitab Ayub, perannya adalah saksi penderitaan dan kasih yang tetap mendampingi, walau tidak mengerti rencana Allah.
Dan justru karena itulah — ia menjadi bagian dari iman yang hidup dalam penderitaan bersama.
No comments:
Post a Comment