Mayoritas tulisan kuno meyakini Kitab Ayub adalah kitab yang ditulis Musa dan ditulis lebih dahulu sebelum beliau menulis Taurat. Ada juga yang meyakini Musa hanya mengambil satu kisah kuno di masa lalu dan mempopulerkan nya di tengah bangsa Yahudi dan dia bukan penulis kitab Ayub karena kisah ini sudah ada jauh sebelum Musa.
Tetapi apapun pilihan dari dua alternatif yang dominan saat itu maka MUSA tetap tokoh kuncinya dan tanpa MUSA mengenalkan kisah ini maka mustahil kisah ini populer di kalangan Bangsa Yahudi dan dijadikan salah satu kitab pegangan hidup dan ajaran mereka.
Ada satu pertanyaan menggelitik karena apapun pilihannya adalah alasan Musa mengangkat kisah ini apakah ini simbol dari apa yang Musa alami sebagai pangeran/Putra angkat Firaun dan karena pilihan membela umat Allah akhirnya terbuang dan menjadi penjahat yang dikejar oleh penguasa/Firauan.
Mari kta dalami kisah ini sebagai pengetahuan tambahan untuk memudahkan kita mengenal Kitab Ayub ini dan semoga tulisan ini bermanfaat.
Mari kita lihat tafsir simbolik dan tipologis dari kitab Ayub yang memang sejak dulu jadi bahan refleksi para penafsir kuno Yahudi maupun Kristen. Mari kita analisis secara menyeluruh: apakah Ayub bisa dianggap personifikasi dari Musa, dan apakah ada penulis atau tafsir kuno yang pernah menyinggung gagasan serupa.
1. Asal Usul Gagasan: Apakah Ayub = Musa?
Secara historis, tradisi Yahudi kuno memang pernah mengaitkan kitab Ayub dengan Musa, tetapi bukan dalam arti bahwa Ayub adalah Musa, melainkan bahwa Musa-lah yang menulis kitab Ayub.
📜 Talmud Babilonia (Baba Bathra 14b–15a) menyatakan:
“Musa menulis kitabnya sendiri (Taurat), kitab Bilangan Balaam, dan kitab Ayub.”
Artinya, sebagian rabi Yahudi percaya bahwa kitab Ayub ditulis oleh Musa, mungkin saat ia di Midian, sebelum ia kembali ke Mesir untuk memimpin umat Israel keluar dari perbudakan.
Namun — di sini muncul pandangan menarik:
jika Musa menulis kisah Ayub ketika ia sendiri sedang berada dalam masa penderitaan, maka bisa saja kisah Ayub ini merefleksikan pengalaman batin Musa sendiri.
2. Pararel Spiritual: Ayub dan Musa
Meskipun tidak ada teks eksplisit yang mengatakan bahwa Ayub adalah Musa, banyak kemiripan simbolik antara keduanya yang membuka ruang tafsir personifikatif (Ayub sebagai cermin batin Musa):
| Aspek | Ayub | Musa |
|---|---|---|
| Status awal | Orang terkaya dan paling dihormati di Timur (Ayub 1:3) | Pangeran Mesir, terdidik di istana Firaun (Kis 7:22) |
| Kehilangan & penderitaan | Kehilangan anak, harta, kesehatan | Meninggalkan kemewahan istana, hidup sebagai gembala di padang Midian |
| Pencarian makna ilahi | Mempertanyakan keadilan Allah, mencari jawaban dalam penderitaan | Bergumul di padang gurun, mencari panggilan Allah dari semak yang menyala |
| Perjumpaan dengan Allah | Allah menampakkan diri dari badai (Ayub 38:1) | Allah menampakkan diri dalam semak menyala (Kel 3:2) |
| Akhir hidup | Dipulihkan dan dimuliakan kembali (Ayub 42) | Dipanggil Allah untuk memimpin bangsa dan menjadi nabi terbesar Israel |
| Inti pesan hidup | Iman yang tumbuh melalui penderitaan | Ketaatan dan kerendahan hati melalui penyangkalan diri |
Dengan kata lain, Ayub dapat dilihat sebagai refleksi rohani dari pengalaman eksistensial Musa — seorang manusia besar yang kehilangan segalanya untuk menemukan Allah sejati.
3. Tafsir Kuno dan Pandangan Para Penulis Tua
Beberapa penafsir dan tradisi kuno pernah menyinggung kedekatan ini:
🔹 a. Targum dan Midrash
Dalam Midrash Rabbah dan Targum Job, Ayub dipahami sebagai orang bijak dari bangsa-bangsa lain, namun memiliki hubungan moral dan spiritual dengan Israel.
Beberapa rabi bahkan berpendapat bahwa Ayub hidup sezaman dengan Musa — ada yang mengatakan ia adalah penasehat Firaun bersama Balaam dan Yitro (tradisi dalam Midrash Tanhuma).
Jadi, menurut tradisi ini, Ayub bukan Musa, tetapi seorang kontemporer Musa, dan nasibnya menjadi cermin penderitaan umat Israel di bawah Mesir.
Namun, tafsir simboliknya bisa diperluas:
Ayub sebagai representasi batin Musa dan bangsa Israel — orang benar yang menderita, namun akhirnya dibebaskan oleh kasih setia Allah.
🔹 b. Origen (abad ke-3 Masehi)
Bapa Gereja Origen dari Aleksandria melihat kitab Ayub bukan sekadar sejarah literal, tetapi drama rohani yang menggambarkan jiwa yang diuji dalam pencarian kebenaran Allah.
Ia tidak menyebut Musa secara langsung, tapi menegaskan bahwa Ayub adalah lambang manusia saleh yang meninggalkan dunia untuk Allah.
Dalam kerangka ini, paralel dengan Musa sangat mungkin secara tipologis.
🔹 c. Gregorius Agung (540–604 M) – Moralia in Job
Gregorius menulis 35 jilid tafsir moral atas kitab Ayub.
Ia melihat Ayub sebagai tipe Kristus, tetapi juga sebagai lambang para nabi dan orang saleh yang meninggalkan dunia demi Allah.
Jadi, walau tidak eksplisit menyebut Musa, tafsirnya membuka ruang bahwa Ayub mewakili semua figur penurut Allah yang rela menderita demi iman, termasuk Musa.
🔹 d. Filon dari Aleksandria (20 SM – 50 M)
Filsuf Yahudi Helenistik ini tidak menulis langsung tentang Ayub, tetapi dalam tulisannya, Filon menggambarkan Musa sebagai simbol jiwa manusia yang meninggalkan duniawi untuk mencapai kebenaran ilahi.
Dalam kerangka alegoris ini, Ayub dan Musa adalah dua wajah dari jiwa yang sama — jiwa yang diuji dan dibentuk oleh penderitaan untuk mengenal Allah.
4. Analisa Teologis: Ayub sebagai Cermin Batin Musa
Jika kita membaca kitab Ayub sebagai karya yang ditulis oleh Musa (seperti diyakini sebagian rabi), maka kisah Ayub dapat dianggap proyeksi rohani Musa sendiri, di masa pengasingannya di Midian:
-
Musa mungkin menulis tentang “manusia saleh yang menderita tanpa tahu sebabnya” — padahal itulah dirinya sendiri yang diasingkan dari Mesir.
-
Dengan menulis Ayub, Musa sedang menggumulkan makna penderitaannya sendiri di hadapan Allah.
-
Melalui kisah ini, Musa belajar bahwa iman sejati tidak bergantung pada status, pangkat, atau kekuasaan — tetapi pada perjumpaan pribadi dengan Allah.
Dalam arti ini, Ayub bukan Musa secara literal, tetapi merupakan refleksi spiritual Musa — sebuah personifikasi batin tentang iman, kehilangan, dan pemurnian rohani.
5. Kesimpulan
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Penulis | Tradisi Yahudi menisbatkan kepada Musa |
| Tokoh Ayub | Bisa tokoh nyata, bisa figur hikmat dari bangsa Timur |
| Kemungkinan hubungan dengan Musa | Tinggi dalam arti simbolik dan reflektif; rendah dalam arti literal |
| Pandangan penulis kuno | Rabi Yahudi: sezaman atau ditulis oleh Musa; Bapa Gereja: figur universal orang benar |
| Makna teologis | Ayub mencerminkan pengalaman batin Musa dan seluruh umat Allah: menderita, bergumul, dan akhirnya mengenal Allah lebih dalam |
Refleksi Penutup
Jika Ayub memang personifikasi dari batin Musa, maka pesan kitab ini menjadi semakin kuat:
Sebelum Allah dapat memakai seseorang secara besar, Ia akan lebih dahulu mematahkan kesombongan dan kekuatan duniawinya.
Musa meninggalkan istana; Ayub kehilangan segalanya.
Namun keduanya menemukan kemuliaan sejati: mengenal Allah bukan dari kata orang, melainkan dari perjumpaan pribadi.
No comments:
Post a Comment