Tuesday, March 4, 2025

Percakapan Imaginer dengan Almarhum Papa

 

Judul: Percakapan dengan Papa

(Sebuah dialog imajiner antara saya dan almarhum Papa, dalam kenangan tentang cita-cita, prinsip, dan pesan hidup yang beliau tinggalkan.

Saya: "Pa, dulu Papa ingin aku jadi TNI, ya?"

Papa: tertawa kecil "Iya, tentu saja. Kamu anak lelaki, aku ingin kamu mengikuti jejakku. TNI itu bukan sekadar profesi, tapi panggilan jiwa. Membela negara itu kehormatan, bukan sekadar pekerjaan."

Saya: "Tapi aku nggak mau, Pa. Aku nggak bisa membayangkan hidup dalam disiplin militer seperti Papa."

Papa: "Aku tahu. Dan aku juga tidak pernah memaksamu. Aku hanya ingin kamu mengerti kenapa aku dulu berharap begitu. Aku ingin anak-anakku punya semangat juang, punya rasa tanggung jawab, dan mencintai bangsa ini dengan tulus."

Saya: "Walau aku tidak jadi TNI, aku tetap bisa membela negara dengan cara lain, kan, Pa?"

Papa: "Tentu saja. Yang penting, kamu tidak hidup dalam budaya korupsi. Aku berjuang di medan perang dengan senjata, tapi kamu bisa berjuang dengan kejujuran dan integritas. Kalau semua orang hidup tanpa korupsi, negara ini tidak perlu perang untuk bertahan. Cukup dengan punya pemimpin dan rakyat yang bersih hati."

Saya: "Pa, waktu Papa meninggal, kenapa tidak mau ada upacara militer?"

Papa: tersenyum "Karena aku ingin semua orang yang datang bisa satu level. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Saat kita mati, kita sama di mata Tuhan. Pangkat, jabatan, semua itu hanya urusan dunia."

Saya: "Tapi Papa tetap dimakamkan di TMP?"

Papa: "Iya, karena kalau nanti mama meninggal, aku ingin tetap bersamanya. TMP bukan soal kehormatan bagiku, tapi soal keluarga. Aku ingin tetap dekat dengan mama, seperti seumur hidupku aku ingin menjaganya."

Saya: "Dan soal pemakaman yang pakai foreiders untuk buka jalan, itu juga karena prinsip Papa?"

Papa: "Iya. Buat apa orang yang sudah meninggal harus terburu-buru? Tidak ada lagi yang dikejar. Aku ingin semua orang yang datang bisa mengantar dengan tenang, tidak perlu tergesa-gesa. Kematian itu bagian dari hidup, harus dijalani dengan hormat, bukan dengan tergesa."

Saya: "Pa, pesan Papa yang paling aku ingat adalah jangan korupsi."

Papa: "Karena itulah bentuk perjuangan di zamanmu. Dulu aku bertempur di medan perang, tapi zamanmu beda. Musuhmu bukan penjajah, tapi keserakahan. Jangan pernah tergoda untuk mengambil yang bukan hakmu. Hidup cukup itu lebih mulia daripada kaya dari cara yang salah. Kamu tidak harus berperang seperti aku, tapi kamu bisa menjaga kehormatan keluarga dengan hidup bersih dan jujur."

Saya: "Aku berusaha, Pa. Kadang godaan itu ada, tapi aku selalu ingat pesan Papa."

Papa: "Dan itu sudah cukup buatku. Aku tidak butuh anak-anak yang berpangkat tinggi atau kaya raya. Aku hanya ingin anak-anakku hidup dengan kehormatan. Itulah cara terbaik membela negara."

Saya: "Terima kasih, Pa. Aku rindu Papa."

Papa: "Aku selalu ada di hatimu, Nak. Lanjutkan hidup dengan baik."

Percakapan ini mungkin hanya imajinasi, tapi prinsip dan nilai yang Papa tinggalkan tetap nyata dalam hidupku.

No comments: