Saturday, March 8, 2025

Masa Kecilku (Lahir di Sumatra, SD kelas satu di Solo dan lanjut SD sampai SMP di Cimahi-Bandung)

Tulisan ini aku buat untuk mengingat jasa Almarhum Papa dan Mama yang sudah mendidik aku dan adik adik ku dan menjadi teladan buat hidup kita. Tidak ada manusia yang sempurna tetapi setidaknya mereka sudah membentuk karakter kita sejak muda untuk menghargai Talenta yang Tuhan berikan dan tidak menggunakan untuk diri sendiri.

KEHIDUPAN MASA KECILKU

Aku lahir di Padang pada tanggal 30 Juli , di tengah keluarga yang berkecukupan, meskipun tidak bisa dibilang kaya. Papaku, saat itu sebagai lulusan AMN  1964 dan kembali dari konfrontasi Indonesia Malaysia tahun 1966 kemudian menikah dengan Mama  dan kemudian ditugaksn  menjadi pimpinan di  Detasemen Polisi Militer (Dandenpom) di sebuah kota di Sumatra Barat, sedangkan keluarga besar di pihak Mama dan Papa memiliki peran penting di berbagai bidang. Adik dari eyang (kakek) adalah gubernur di provinsi itu, dan kakak tertua Mama menjabat sebagai salah satu petinggi di perusahaan minyak terbesar di Indonesia kala itu yang puasatnya juga di provinsi itu.

Koneksi keluargaku juga sangat luas. Para petinggi militer saat itu banyak yang merupakan teman Pakde ketika ia menjadi pimpinan Tentara Rakyat di masa perjuangan kemerdekaan. Keluarga kami memiliki latar belakang yang kuat dalam dunia pendidikan/penelitian dan  pemerintahan, militer, dan bisnis, tetapi Papa dan Mama selalu menekankan bahwa kekayaan sejati adalah kemandirian, kerja keras, dan ketekunan.

Eyang/Bapak dari mamaku adalah Dokter Peneliti  dan salah satu petinggi di  Lembaga Pasteur dan pendiri Pasteur Industrie yang dikenal  sekarang dengan nama Bio farma.  Salah satu penelitian Eyang saat itu yang cukup dibutuhkan adalah obat semacam Antibiotik yang sangat diperlukan di masa perang kemerdekaan dimana banyak korban perang yang membutuhkan dan detil biografi eyang ada di blog ini : Keluarga Besar Alm. Eyang Soekarnen: Biografi Lengkap Soekarnen Kertoredjo

Masa Kecil di Solo

Ketika tiba saatnya aku masuk sekolah dasar, aku tidak langsung tinggal bersama orang tuaku. Aku dititipkan kepada kakek dan nenek dari pihak Papa yang tinggal di Solo. Resiko sebagai anak Tentara yang orang tuanya bisa pindah tugas setiap saat dan ikuta aneka pendidikan maka sebagai anak aku terpaksa berpisah dengan orang tua dan ikut sama kakek nenekku. Ini adalah pengalaman yang sangat membentuk karakterku, karena kakek dan nenek adalah orang-orang yang memiliki usaha sendiri dan tidak pernah bergantung pada jabatan atau kedudukan keluarga.

Kakekku memiliki usaha pembuatan kok bulutangkis, produksi getuk—makanan khas Solo—dan juga seorang penjahit. Rumah kakek adalah yang terbesar di kampung itu dan letaknya tepat di depan sekolah SD-ku. Ini memberi kemudahan, karena aku bisa berangkat sekolah hanya setelah mendengar bel berbunyi, dan sering kali aku baru mandi saat jam istirahat pertama.

Namun, kemudahan ini tidak membuatku menjadi anak yang manja. Kakek sangat disiplin dan selalu mengajarkan nilai kerja keras. Sejak kecil, aku sudah terbiasa membantu mengantar getuk ke pedagang-pedagang di pasar. Dari sini, aku mulai belajar bahwa mendapatkan uang saku bukanlah sesuatu yang diberikan begitu saja, tetapi harus diusahakan. Aku merasa bangga bisa mendapatkan uang sendiri, meskipun jumlahnya tidak seberapa. Ini adalah pelajaran pertama dalam hidupku tentang pentingnya kemandirian dan tidak bergantung pada orang lain.

Di rumah kakek, aku juga belajar banyak keterampilan lain. Aku melihat bagaimana proses pembuatan kok bulutangkis dilakukan, bagaimana getuk diproduksi dan dijual, serta bagaimana bisnis penjahitan berjalan. Semua ini membentuk pola pikirku sejak kecil bahwa tidak ada pekerjaan yang hina, selama itu dilakukan dengan jujur dan sungguh-sungguh.

Pindah ke Cimahi: Awal dari Jiwa Wirausaha

Setelah Papa menyelesaikan pendidikan lanjutan militernya, keluarga kami pindah ke Cimahi. Ini berarti aku harus pindah sekolah lagi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Pindah sekolah bukanlah hal yang mudah, tetapi dari kecil aku sudah terbiasa beradaptasi dengan cepat.

Di Cimahi, Mama tidak betah hanya tinggal di rumah. Ia adalah sosok yang penuh energi dan selalu ingin melakukan sesuatu yang produktif. Mama memulai usaha pembuatan es lilin dan bisnis di gunung batu. Di sinilah aku mulai belajar lebih dalam tentang dunia bisnis dan bagaimana cara berusaha dari nol.

Setiap pagi, saat berangkat sekolah, aku membawa es lilin dan menitipkannya di warung-warung di sepanjang perjalanan. Es lilin ini kemudian akan terjual, dan aku mendapat bagian dari hasil penjualan tersebut. Ini adalah cara yang sederhana tetapi sangat efektif untuk belajar bisnis sejak dini. Aku tidak merasa malu melakukan pekerjaan ini, karena sejak kecil sudah diajarkan bahwa tidak ada pekerjaan yang rendah selama itu halal dan dilakukan dengan niat baik.

Selain itu, aku juga sering diminta Mama untuk pergi ke gunung batu guna mengecek kondisi para pekerja. Ini adalah tugas yang tidak mudah bagi anak kecil seusiaku, tetapi aku melakukannya dengan bangga. Setiap kali selesai melakukan tugas ini, aku selalu mendapatkan uang lelah sebagai bentuk apresiasi. Ini mengajarkan aku bahwa kerja keras akan selalu mendapatkan imbalan, baik dalam bentuk materi maupun pengalaman.

Papa dan Mama selalu menekankan bahwa dalam hidup, kita harus berani bekerja dan tidak malu melakukan hal-hal kecil yang dianggap rendah oleh sebagian orang. Justru dari hal-hal kecil inilah seseorang bisa belajar dan berkembang.

Pelajaran Hidup dari Keluarga

Satu hal yang aku syukuri dari masa kecilku adalah bagaimana keluargaku mendidik aku dengan penuh disiplin tetapi tetap penuh kasih sayang.

Papa, sebagai seorang perwira militer, selalu menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan keteguhan dalam menghadapi tantangan hidup. Ia selalu mengatakan bahwa tidak peduli seberapa besar pengaruh dan koneksi yang dimiliki keluarga, setiap orang harus bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Aku melihat sendiri bagaimana Papa tidak pernah menggunakan jabatannya untuk keuntungan pribadi, dan ini mengajarkan aku tentang pentingnya integritas.

Mama, di sisi lain, adalah sosok yang penuh semangat dan tidak pernah takut untuk mencoba hal baru. Dari Mama, aku belajar bahwa seorang anak tidak boleh hanya mengandalkan orang tua, tetapi harus memiliki kemandirian dan keberanian untuk berusaha. Mama mengajarkan aku bahwa bisnis bukan hanya tentang mencari keuntungan, tetapi juga tentang membangun karakter dan memahami nilai kerja keras.

Dari kakek dan nenek di Solo, aku belajar bahwa usaha kecil pun bisa menjadi sumber kehidupan yang stabil jika dikelola dengan baik. Dari mereka, aku melihat bagaimana kerja keras dan keuletan dapat menghasilkan sesuatu yang bernilai.

Semua pengalaman ini membentuk pola pikirku tentang kehidupan. Aku tumbuh dengan pemahaman bahwa hidup bukanlah tentang mencari kenyamanan, tetapi tentang bagaimana kita bisa terus berusaha dan berkontribusi.

 Masa Kecil yang Penuh Pelajaran

Meskipun aku lahir dari keluarga yang memiliki kedudukan dan pengaruh, aku tidak pernah diajarkan untuk bergantung pada hal tersebut. Sebaliknya, aku tumbuh dengan nilai-nilai kerja keras, kemandirian, dan keberanian untuk mencoba berbagai hal.

Dari Solo hingga Cimahi, perjalanan masa kecilku diisi dengan pengalaman berharga yang membentuk karakter dan prinsip hidupku. Aku belajar bahwa tidak ada pekerjaan yang hina, bahwa mendapatkan uang harus dengan usaha, dan bahwa kesuksesan bukan datang dari warisan, tetapi dari kerja keras dan ketekunan.

Pelajaran dari Papa, Mama, Kakek, dan Nenek masih terus aku bawa hingga saat ini. Masa kecilku bukan hanya sekadar kenangan, tetapi fondasi yang membangun siapa diriku hari ini.

Hidup Harus Bekerja: Jangan Malu Melakukan Apa Saja

Sejak kecil, aku selalu diajarkan bahwa bekerja adalah bagian dari kehidupan. Tidak peduli seberapa tinggi pendidikan atau jabatan seseorang, hidup tidak boleh hanya bergantung pada warisan, koneksi, atau belas kasihan orang lain. Papa dan Mama selalu menekankan bahwa satu-satunya cara untuk menjadi manusia yang mandiri adalah dengan bekerja keras, tidak pilih-pilih pekerjaan, dan selalu berpikir bagaimana usaha kita bisa bermanfaat bagi orang lain.

Pesan ini begitu melekat dalam diriku sejak aku masih di Solo, ketika kakek mengajarkan aku untuk ikut mengantar getuk ke pedagang. Awalnya aku merasa itu hanya tugas kecil, tetapi lama-kelamaan aku menyadari bahwa usaha ini bukan hanya untuk kepentingan keluarga, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang. Ada para pengrajin getuk yang bekerja di rumah kakek, ada pedagang kecil yang bergantung pada penjualan getuk di pasar, dan ada pelanggan yang menikmatinya sebagai makanan sehari-hari. Dari sinilah aku mulai paham bahwa pekerjaan sekecil apa pun bisa berdampak besar bagi orang lain.

Ketika pindah ke Cimahi dan Mama mulai berbisnis es lilin dan gunung batu, pelajaran itu semakin dalam tertanam dalam pikiranku. Aku tidak malu membawa es lilin ke warung-warung setiap pagi sebelum sekolah. Teman-temanku ada yang mencibir, menganggap itu pekerjaan yang tidak pantas bagi anak seorang perwira militer. Tapi aku tidak peduli. Bagiku, usaha ini bukan hanya tentang mencari uang jajan, tetapi juga tentang memberikan penghidupan bagi orang lain.

Di usaha es lilin ini, Mama mempekerjakan beberapa ibu rumah tangga di sekitar rumah kami. Mereka membantu dalam proses pembuatan dan distribusi es lilin, sehingga mereka memiliki penghasilan tambahan untuk keluarga mereka. Mama selalu berkata, "Kalau kita bisa memberikan pekerjaan kepada orang lain, itu jauh lebih baik daripada sekadar memberi uang."

Pesan ini begitu kuat dan menjadi prinsip hidupku hingga saat ini. Bahwa bekerja bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa membuka pintu rezeki bagi orang lain.

Tidak Ada Pekerjaan yang Hina

Salah satu pelajaran paling berharga yang aku dapatkan dari Papa dan Mama adalah bahwa tidak ada pekerjaan yang hina. Yang hina adalah mereka yang tidak mau berusaha dan hanya mengandalkan bantuan orang lain tanpa berbuat apa-apa.

Aku masih ingat ketika Mama meminta aku pergi ke gunung batu untuk mengontrol para pekerja. Sebagai anak kecil, awalnya aku merasa ini bukan tugas yang cocok untukku. Tetapi setelah beberapa kali pergi ke sana, aku mulai mengerti bahwa pekerjaan ini adalah bagian dari kehidupan. Aku melihat bagaimana para pekerja di gunung batu bekerja keras mengangkat dan memecah batu untuk dijual. Aku melihat keringat mereka, kesabaran mereka, dan bagaimana mereka menggantungkan hidup pada pekerjaan ini.

Dari sini, aku belajar bahwa tidak ada pekerjaan yang rendah. Bahkan pekerjaan yang tampak berat dan kotor pun tetap mulia jika dilakukan dengan jujur dan sungguh-sungguh. Aku tidak pernah malu ketika Mama meminta aku ikut turun tangan dalam usaha keluarga, karena aku tahu bahwa setiap usaha yang kita jalankan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk banyak orang yang menggantungkan hidup dari sana.

Aku juga sering melihat bagaimana orang-orang yang berasal dari keluarga berada merasa gengsi untuk bekerja keras. Banyak di antara mereka yang lebih memilih hidup santai dan menikmati warisan keluarga, sementara aku justru merasa bangga bisa melakukan pekerjaan apa pun asalkan itu halal dan bermanfaat.

Membangun Jiwa Wirausaha dan Memberi Lapangan Kerja

Ketika sudah lebih besar, aku mulai berpikir bagaimana cara membangun usaha sendiri. Aku ingin mengikuti jejak Papa dan Mama yang selalu berusaha mandiri dan tidak bergantung pada siapa pun. Aku ingin menjalankan bisnis yang tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi juga bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain.

Dari pengalaman masa kecilku, aku sadar bahwa modal terbesar dalam berbisnis bukanlah uang, tetapi keberanian, keuletan, dan keinginan untuk terus belajar. Aku melihat bagaimana Mama memulai usaha es lilin dari nol, bagaimana kakek mengembangkan usaha getuk dengan penuh ketekunan, dan bagaimana Papa selalu menanamkan kedisiplinan dalam setiap aspek kehidupan.

Aku juga menyadari bahwa dalam menjalankan bisnis, kita harus berpikir jangka panjang. Kita tidak boleh hanya mencari keuntungan sesaat, tetapi harus membangun sesuatu yang bisa bertahan lama dan terus memberikan manfaat bagi banyak orang.

Selain itu, aku juga belajar bahwa kesuksesan dalam bisnis tidak datang secara instan. Setiap usaha pasti memiliki tantangan dan hambatan. Ada saat-saat di mana penjualan menurun, ada saat-saat di mana pelanggan berkurang, dan ada saat-saat di mana kita merasa putus asa. Tetapi jika kita tetap bertahan dan terus berusaha, selalu ada jalan keluar.

Berbagi Kehidupan dengan Sesama

Satu hal yang selalu aku pegang teguh dalam hidup adalah bahwa rezeki yang kita dapatkan bukan hanya untuk diri sendiri. Aku melihat bagaimana Papa, Mama, dan Kakek selalu berbagi dengan orang-orang di sekitar mereka.

Di Solo, kakek sering membantu para pekerjanya dengan memberikan tambahan makanan atau bantuan lainnya ketika mereka sedang kesulitan. Di Cimahi, Mama selalu memastikan bahwa para pekerja di usaha es lilin dan gunung batu mendapatkan upah yang layak. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana berbagi dengan orang lain bisa membawa kebahagiaan yang jauh lebih besar daripada sekadar mengumpulkan kekayaan.

Karena itu, aku selalu percaya bahwa ketika kita memiliki usaha atau pekerjaan, kita harus selalu berpikir bagaimana kita bisa membantu orang lain. Apakah itu dengan memberi lapangan kerja, dengan membayar upah yang adil, atau dengan memberikan bantuan dalam bentuk lain.

Bagiku, bekerja bukan hanya tentang mencari nafkah, tetapi juga tentang memberikan manfaat bagi sebanyak mungkin orang. Jika aku bisa mempekerjakan satu orang saja, itu berarti aku sudah membantu satu keluarga untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik.

Aku ingin hidupku diisi dengan hal-hal yang bermakna. Aku tidak ingin hanya menjadi seseorang yang sukses secara materi, tetapi juga seseorang yang bisa memberikan dampak positif bagi orang-orang di sekitarku. Aku percaya bahwa kebahagiaan sejati bukan datang dari seberapa banyak uang yang kita miliki, tetapi dari seberapa banyak kita bisa berbagi dan membantu sesama.

Hidup Harus Bekerja dan Berbagi

Dari masa kecilku di Solo hingga pengalaman hidup di Cimahi, aku belajar bahwa hidup adalah tentang bekerja keras dan berbagi dengan sesama.

Aku tidak pernah malu melakukan pekerjaan apa pun, karena aku tahu bahwa setiap usaha yang halal adalah mulia. Aku juga belajar bahwa dalam bekerja, kita harus selalu berpikir bagaimana kita bisa membantu orang lain, bukan hanya diri sendiri.

Bekerja bukan hanya tentang mencari uang, tetapi tentang bagaimana kita bisa menciptakan kesempatan bagi orang lain untuk mendapatkan penghidupan yang layak. Tidak ada pekerjaan yang hina, selama itu dilakukan dengan jujur dan penuh semangat.

Aku ingin hidupku terus diisi dengan kerja keras, usaha yang bermanfaat, dan semangat berbagi. Karena pada akhirnya, kesuksesan sejati bukan hanya tentang apa yang kita capai, tetapi juga tentang seberapa banyak kita bisa membantu orang lain untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Masa Kecil: Pendidikan Kasih dan Berbagi Hidup dengan Sesama

Sejak kecil, aku tumbuh dalam keluarga yang menjadikan kasih dan kepedulian terhadap sesama sebagai prinsip utama dalam kehidupan. Papa dan Mama bukan hanya mendidik anak-anak mereka sendiri, tetapi juga membuka pintu rumah dan hati bagi banyak orang. Mereka tidak hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga inti, tetapi juga untuk membantu saudara, tetangga, dan orang-orang di sekitar yang membutuhkan.

Aku melihat sendiri bagaimana Papa dan Mama memperkerjakan banyak sanak saudara dan tetangga dalam usaha mereka. Mama tidak pernah ragu memberikan pekerjaan kepada siapa saja yang membutuhkan, mulai dari usaha peternakan ayam petelur hingga es lilin dan gunung batu. Tidak hanya memberi pekerjaan, mereka juga sering mengangkat anak-anak yang kurang beruntung dan membiayai sekolah mereka.

Sejak kecil, aku memahami bahwa berbagi bukan hanya sekadar memberi uang atau makanan, tetapi juga memberi kesempatan dan masa depan bagi orang lain. Aku melihat bagaimana anak-anak yang diangkat Papa dan Mama tumbuh dengan penuh harapan. Mereka yang dulunya tidak memiliki akses ke pendidikan, kini bisa bersekolah dan meraih cita-cita mereka. Ini membuatku sadar bahwa berbagi bukan hanya tentang kebaikan hati, tetapi juga tentang tanggung jawab kita sebagai manusia untuk membantu sesama agar bisa hidup lebih baik.

Menolak Konsep Sekolah Asrama untuk Anak SD dan SMP

Karena latar belakang inilah, aku tidak pernah percaya pada konsep sekolah asrama untuk anak-anak SD dan SMP. Bagiku, masa kecil adalah masa ketika orang tua harus menanamkan nilai-nilai dasar kehidupan, terutama kasih sayang dan pentingnya berbagi dengan sesama.

Papa dan Mama selalu hadir dalam hidupku, mendidik dengan contoh nyata, bukan sekadar dengan kata-kata. Aku belajar tentang kerja keras dari melihat mereka bekerja, belajar tentang kepedulian dari cara mereka membantu orang lain, dan belajar tentang ketulusan dari bagaimana mereka merawat anak-anak yang bukan darah daging mereka sendiri.

Jika anak-anak sudah dipisahkan dari orang tua sejak kecil, kapan mereka akan belajar langsung dari teladan hidup orang tua mereka? Bagiku, pendidikan di rumah jauh lebih penting daripada sekadar mendapatkan nilai akademis tinggi di sekolah bergengsi. Karena pendidikan sejati bukan hanya tentang pelajaran di kelas, tetapi tentang bagaimana anak memahami hidup, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial sejak dini.

Aku bersyukur bahwa aku tidak tumbuh di sekolah asrama, karena setiap hari bersama Papa dan Mama adalah pelajaran berharga yang tidak bisa digantikan dengan buku atau guru mana pun. Aku melihat sendiri bagaimana mereka bekerja, berusaha, dan berbagi, dan itu menjadi fondasi utama dalam hidupku hingga saat ini.

Mewarisi Semangat Berbagi dalam Hidup

Apa yang diajarkan oleh Papa dan Mama bukan hanya sekadar teori, tetapi sesuatu yang benar-benar mereka jalankan. Sampai sekarang, prinsip ini terus menjadi bagian dari hidupku. Aku percaya bahwa tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Aku tidak ingin hidup hanya untuk diri sendiri. Seperti yang Papa dan Mama ajarkan, kita harus bekerja keras bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga untuk menciptakan peluang bagi orang lain.

Aku ingin hidupku bisa menjadi berkat bagi banyak orang, seperti bagaimana Papa dan Mama telah menjadi berkat bagi begitu banyak orang dalam hidup mereka. Itulah pendidikan kasih yang mereka wariskan kepadaku—pendidikan yang tidak hanya berbicara tentang memberi, tetapi benar-benar menghidupinya dalam setiap langkah kehidupan.

Pendidikan yang Membentuk Karakter: Belajar Berbagi Sejak Dini

Didikan dari Papa dan Mama, serta apa yang aku lihat dan alami di masa kecil, tanpa sadar membentuk cara pandangku terhadap kehidupan. Dari kecil, aku sudah terbiasa melihat bagaimana orang tuaku tidak pernah ragu membantu orang lain, bahkan hingga menyekolahkan mereka yang kurang mampu. Itu bukan hanya sekadar cerita atau wejangan, tetapi sesuatu yang nyata di depan mataku setiap hari.

Maka, tidak heran jika sejak SD, tanpa sadar aku pun mulai mengikuti jejak mereka. Aku ingat betul bagaimana aku memiliki seorang teman yang aku biayai sekolahnya. Dia bukan teman satu sekolah atau satu kompleks, tetapi tinggal di depan kompleks rumahku. Dia memiliki keterbatasan fisik, dan keluarganya tidak mampu membiayai pendidikannya.

Dengan izin Papa dan Mama, aku mulai menyisihkan uang sakuku untuk membantu membiayai sekolahnya. Aku tidak berpikir terlalu jauh saat itu—bagiku, itu adalah hal yang wajar dilakukan karena sejak kecil aku melihat orang tuaku melakukan hal yang sama. Mereka tidak pernah mengajarkan kebaikan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata.

Menghargai Setiap Rupiah dan Kerja Keras

Meskipun berasal dari keluarga yang cukup berada, aku tidak pernah diajari untuk hidup bermewah-mewahan atau bergantung pada harta orang tua. Papa dan Mama selalu menekankan bahwa setiap rupiah yang kita miliki harus diperoleh dengan kerja keras.

Aku masih ingat bagaimana sejak SD aku sudah ikut membantu usaha kakek di Solo. Setiap pagi, aku berangkat sekolah setelah bel berbunyi karena rumah kakek tepat di depan sekolahku. Tapi saat istirahat pertama, aku pulang ke rumah untuk mandi, baru kembali ke sekolah. Kebiasaan ini terdengar aneh bagi orang lain, tapi bagiku itu hal biasa.

Sejak kecil, aku juga sudah terbiasa ikut mengantar getuk ke pedagang, membantu kakek yang memiliki usaha pembuatan kok bulutangkis dan menjahit. Kakek tidak pernah membiarkan cucunya hanya menjadi anak kecil yang dimanja. Aku diajari bahwa kalau mau uang jajan, aku harus berusaha sendiri. Tidak ada yang diberikan cuma-cuma.

Ketika pindah ke Cimahi, aku pun tetap terbiasa bekerja. Setiap hari, aku membawa es lilin buatan Mama dan menitipkannya di warung-warung dalam perjalanan ke sekolah. Uang hasil penjualan es itu menjadi tambahan uang jajanku. Aku juga sesekali diminta pergi ke gunung batu untuk mengecek pekerjaan para pekerja Mama, dan selalu diberi uang lelah atas tugas kecil itu.

Dari sini aku belajar satu hal penting: tidak ada pekerjaan yang hina selama itu halal dan bisa membantu orang lain.

Tidak Malu Bekerja Kecil dengan Semangat Bisa Membantu Orang Lain bukan sekedar pemburu Rupiah

Pelajaran terpenting yang aku dapat dari Papa dan Mama adalah bahwa tidak ada pekerjaan yang terlalu rendah atau hina selama itu bisa memberi manfaat. Banyak orang berpikir bahwa anak dari keluarga berada seharusnya tidak perlu melakukan pekerjaan kecil seperti menjual es atau mengantar getuk. Tapi bagi Papa dan Mama, justru dari sanalah aku belajar arti kerja keras dan berbagi.

Mereka mengajarkan bahwa keberhasilan seseorang bukan hanya diukur dari seberapa banyak uang yang ia miliki, tetapi dari seberapa banyak manfaat yang bisa ia berikan kepada orang lain. Aku melihat sendiri bagaimana mereka menciptakan lapangan pekerjaan bagi saudara dan tetangga, bagaimana mereka tidak pernah ragu menyekolahkan anak-anak yang bukan anak kandung mereka sendiri.

Hal inilah yang membuatku, bahkan sejak SD, tidak ragu untuk berbagi dengan temanku yang kurang mampu. Aku sadar bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama, dan jika aku bisa membantu, kenapa tidak? Bagiku, berbagi bukanlah kewajiban yang membebani, tetapi sesuatu yang tumbuh secara alami dari apa yang aku lihat dan alami sejak kecil.

Mewarisi Prinsip Hidup Orang Tua: Hidup untuk Memberi

Apa yang aku alami di masa kecil ini terus membentuk cara pikir dan prinsip hidupku hingga dewasa. Aku percaya bahwa hidup ini bukan hanya tentang mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa memberi dampak bagi orang lain.

Papa dan Mama telah menanamkan dalam diriku bahwa selama kita bisa memberi manfaat, sekecil apa pun itu, maka kita harus melakukannya. Entah itu melalui pekerjaan, usaha, atau sekadar menyisihkan sedikit dari yang kita miliki untuk membantu orang lain.

Dari kecil hingga sekarang, prinsip ini tetap aku pegang teguh. Aku tidak pernah merasa malu untuk melakukan pekerjaan apa pun selama itu halal dan bisa membantu orang lain. Aku percaya bahwa hidup yang paling berarti adalah hidup yang bisa memberi manfaat bagi sesama, sebagaimana yang diajarkan Papa dan Mama sejak aku masih kecil.

Tumbuh dalam Keluarga dengan Perbedaan Agama

Aku dibesarkan dalam keluarga yang memiliki perbedaan agama. Papa dan Mama tidak langsung memeluk agama yang sama ketika mereka menikah. Keluarga besar dari kedua belah pihak juga memiliki latar belakang kepercayaan yang berbeda. Namun, sejak kecil, aku tidak pernah melihat perbedaan agama sebagai sesuatu yang memisahkan atau menciptakan jurang di antara kami. Justru, aku belajar bahwa perbedaan itu bukan alasan untuk tidak saling mengasihi, menghormati, dan berbagi hidup bersama.

Di rumah, aku terbiasa melihat Papa dan Mama tetap menjalankan keyakinan masing-masing dengan penuh penghormatan. Tidak pernah ada pertengkaran atau paksaan untuk mengikuti salah satu agama tertentu. Sebaliknya, mereka mengajarkan bahwa Tuhan adalah kasih, dan kasih itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata kepada sesama, bukan hanya dalam ritual keagamaan.

Namun, suatu hari, segalanya berubah. Saat aku kelas 5 SD, Mama mengalami sebuah pengalaman rohani yang begitu mendalam. Dia bertemu dengan Tuhan dalam cara yang sangat pribadi dan memutuskan untuk mengikuti panggilan-Nya. Keputusan ini bukan hanya mengubah hidup Mama, tetapi juga seluruh keluarga kami.

Pertemuan Mama dengan Tuhan: Awal Perjalanan Iman Keluarga

Mama bukan orang yang mudah terpengaruh oleh sesuatu tanpa alasan yang kuat. Sejak muda, dia adalah perempuan yang mandiri, pekerja keras, dan tidak bisa diam di rumah. Dengan usaha peternakan ayam petelur, es lilin, hingga gunung batu yang dia jalankan, Mama selalu sibuk bekerja. Namun, di tengah kesibukannya, ada satu hal yang akhirnya mengubah hidupnya: perjumpaannya dengan Tuhan.

Aku tidak tahu pasti bagaimana awalnya, tetapi Mama sering bercerita bahwa ada satu momen dalam hidupnya di mana dia benar-benar merasakan kehadiran Tuhan secara nyata. Itu bukan sekadar keyakinan, tetapi sebuah pengalaman yang begitu kuat sehingga dia tidak bisa mengabaikannya.

Setelah itu, Mama memutuskan untuk menjadi pelayan Tuhan. Dia tidak hanya sekadar berpindah keyakinan, tetapi benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk melayani. Dia mulai lebih banyak terlibat dalam kegiatan sosial, membantu lebih banyak orang, dan bahkan mengajak Papa untuk ikut dalam perjalanan iman yang baru ini.

Papa, yang awalnya tidak terlalu menunjukkan minat, akhirnya ikut tersentuh oleh perubahan dalam diri Mama. Dia melihat bagaimana iman yang baru ini membuat Mama semakin penuh kasih, semakin sabar, dan semakin kuat menghadapi tantangan hidup. Akhirnya, Papa pun memilih untuk berjalan di jalan yang sama.

Belajar bahwa Agama adalah Buah dari Perjumpaan dengan Tuhan

Dibesarkan dalam keluarga yang memiliki perbedaan agama, aku belajar bahwa agama bukan hanya soal tradisi atau warisan keluarga. Agama adalah buah dari perjumpaan seseorang dengan Tuhan. Setiap orang memiliki jalannya masing-masing untuk menemukan Tuhan dalam hidupnya, dan tidak ada satu pun cara yang lebih benar daripada yang lain.

Aku menyaksikan sendiri bagaimana perubahan dalam hidup Mama dan Papa bukan karena paksaan, tetapi karena mereka benar-benar mengalami Tuhan secara pribadi. Itu yang membuatku sadar bahwa iman sejati bukan hanya tentang menjalankan ritual, tetapi tentang bagaimana seseorang benar-benar mengenal dan mengalami Tuhan dalam hidupnya.

Menghormati Perbedaan dan Memberi Ruang bagi Tuhan

Meskipun Papa dan Mama akhirnya memeluk agama yang sama, keluarga besar kami tetap terdiri dari berbagai latar belakang kepercayaan. Aku tetap tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan keberagaman, di mana perbedaan agama bukanlah halangan untuk tetap saling menyayangi.

Aku melihat bagaimana Papa dan Mama tidak pernah memaksakan keyakinan mereka kepada keluarga besar. Mereka justru memberikan teladan melalui tindakan—bagaimana mereka hidup, bagaimana mereka berbagi, dan bagaimana mereka mengasihi sesama. Itu yang membuatku memahami bahwa iman bukanlah sesuatu yang harus dipaksakan, tetapi sesuatu yang tumbuh dari pengalaman pribadi dengan Tuhan.

Keluarga kami menjadi tempat di mana setiap orang memiliki ruang untuk menemukan Tuhan dengan caranya masing-masing. Aku belajar bahwa Tuhan tidak bisa dibatasi oleh agama atau doktrin tertentu. Dia hadir bagi siapa saja yang mencari-Nya dengan hati yang tulus.

 Iman yang Tumbuh dari Hidup Sehari-hari

Pengalaman masa kecilku mengajarkan bahwa iman bukan sekadar soal dogma atau aturan agama. Iman adalah tentang bagaimana kita mengalami Tuhan dalam hidup kita, bagaimana kita berbagi kasih dengan sesama, dan bagaimana kita hidup dalam kebaikan.

Aku bersyukur karena tumbuh dalam keluarga yang mengajarkan bahwa agama bukanlah sekadar label, tetapi adalah hasil dari perjalanan pribadi seseorang bersama Tuhan. Aku belajar bahwa yang terpenting bukanlah apa agamanya, tetapi bagaimana seseorang menjalani hidupnya dengan penuh kasih, kejujuran, dan ketulusan.

Dan itulah prinsip yang aku pegang hingga sekarang—bahwa Tuhan hadir bagi semua orang, dan agama adalah buah dari perjumpaan kita dengan-Nya.

Kecintaan pada Binatang: Belajar Mengasihi Makhluk Ciptaan Tuhan

Sejak kecil, aku selalu dikelilingi oleh berbagai jenis hewan peliharaan. Rumah kami selalu ramai dengan suara ayam berkokok di pagi hari, burung dara yang terbang berputar-putar di atas rumah, serta anjing yang setia menunggu di depan pintu ketika aku pulang sekolah. Selain itu, ada bebek-bebek yang sering berenang di kolam belakang rumah, dan beberapa burung kicauan yang menemani hari-hariku dengan nyanyian mereka.

Memiliki banyak hewan peliharaan bukan sekadar hobi atau kesenangan, tetapi benar-benar menjadi bagian dari hidupku. Aku tidak hanya sekadar memelihara mereka, tetapi juga belajar bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, aku harus memberi makan ayam dan bebek, memastikan burung-burung mendapatkan air bersih, dan mengelus kepala anjing kesayanganku sebelum pergi. Sepulang sekolah, tugas lain menanti—membersihkan kandang, mengganti air minum mereka, dan memandikan anjing agar tetap sehat dan bersih.

Belajar Tanggung Jawab dan Kesabaran

Merawat hewan bukanlah tugas yang ringan, terutama bagi seorang anak kecil. Tetapi, sejak dini, aku tidak pernah merasa terbebani oleh semua itu. Sebaliknya, aku justru menikmatinya. Aku belajar bahwa semua makhluk hidup, sekecil apa pun, memiliki hak untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian.

Ketika hewan-hewan itu sakit, aku merasa cemas dan khawatir, seperti halnya ketika ada anggota keluarga yang jatuh sakit. Aku belajar mengenali tanda-tanda ketika ayamku mulai lesu, ketika bebekku tidak seaktif biasanya, atau ketika anjingku kehilangan nafsu makan. Aku berusaha mencari tahu apa yang bisa kulakukan, entah itu dengan mengganti makanan mereka, menjemur mereka di bawah sinar matahari, atau sekadar mengajak mereka bermain agar kembali ceria.

Aku juga belajar bahwa setiap hewan memiliki kepribadian dan kebiasaan unik. Ayam-ayam di rumah tidak hanya sekadar berkokok dan bertelur—mereka memiliki cara sendiri dalam berinteraksi satu sama lain. Ada yang dominan, ada yang pemalu, ada yang selalu ingin berada di dekatku ketika aku sedang duduk di halaman belakang. Begitu juga dengan anjingku, yang selalu tahu kapan aku merasa sedih dan tanpa diminta akan duduk di sampingku, seolah memberikan dukungan tanpa kata-kata.

Mengerti Makna Kasih Tanpa Pamrih

Cinta terhadap hewan mengajarkanku arti kasih tanpa pamrih. Hewan-hewan itu tidak menuntut apa pun dariku, selain makanan dan perhatian. Mereka tidak peduli apakah aku sedang senang atau sedih, kaya atau miskin, berhasil atau gagal. Mereka hanya tahu satu hal: mereka mencintaiku dan setia kepadaku.

Aku ingat suatu kali, ketika aku pulang dari sekolah dalam keadaan sedih karena dimarahi guru. Anjingku, tanpa perlu diberi tahu, langsung duduk di sampingku dan meletakkan kepalanya di pangkuanku. Tidak ada kata-kata, tidak ada nasihat panjang lebar, hanya kebersamaan yang hangat dan menenangkan. Dari situ aku belajar bahwa kasih sayang tidak selalu harus diungkapkan dengan kata-kata, tetapi bisa dirasakan melalui kehadiran dan perhatian yang tulus.

Dari hewan-hewan peliharaanku, aku juga belajar tentang siklus kehidupan. Aku pernah mengalami kehilangan ayam kesayangan yang mati karena sakit, atau burung yang tidak kembali setelah dilepaskan untuk terbang bebas. Aku menangis, merasa kehilangan, tetapi juga memahami bahwa kehidupan berjalan dengan caranya sendiri. Dari situ, aku belajar untuk lebih menghargai setiap momen bersama makhluk yang aku sayangi, karena tidak ada yang abadi.

Hewan sebagai Bagian dari Keluarga

Di rumah, hewan-hewan bukan sekadar peliharaan—mereka adalah bagian dari keluarga. Papa dan Mama tidak pernah melarangku untuk memelihara banyak hewan, asalkan aku bertanggung jawab. Bahkan, Mama sering mengajakku ke pasar untuk membeli makanan terbaik bagi ayam dan bebek kami.

Ketika ada anak ayam yang kehilangan induknya, aku dan Mama akan merawatnya bersama, memastikan ia tetap hangat di malam hari dan memberinya makan dengan tangan sendiri. Begitu juga ketika anjing kami melahirkan anak-anaknya, seluruh keluarga ikut sibuk memastikan mereka mendapatkan perawatan yang baik.

Dari semua itu, aku belajar bahwa kasih sayang tidak hanya diberikan kepada sesama manusia, tetapi juga kepada seluruh ciptaan Tuhan. Hewan juga memiliki perasaan, mereka bisa merasakan cinta dan perhatian, serta membalasnya dengan kesetiaan yang tulus.

Kesadaran bahwa Semua Makhluk Hidup Berharga

Kecintaanku pada hewan membentuk cara pandangku terhadap kehidupan. Aku belajar bahwa setiap makhluk hidup memiliki perannya masing-masing di dunia ini. Aku tidak bisa melihat seekor ayam hanya sebagai sumber makanan atau burung hanya sebagai hiburan di sangkar. Aku mulai memahami bahwa mereka adalah bagian dari ekosistem, bagian dari kehidupan yang lebih besar.

Aku juga menjadi lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Ketika melihat anak kucing terlantar di jalan, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Ketika melihat seseorang menyiksa hewan, hatiku berontak. Aku sadar bahwa tugas manusia bukan hanya menikmati hasil dari alam, tetapi juga menjaga dan melindunginya.

Hewan dan Nilai Kehidupan

Banyak pelajaran hidup yang aku dapatkan dari berinteraksi dengan hewan-hewan peliharaanku. Aku belajar tentang tanggung jawab, kesabaran, kasih sayang, dan juga kehilangan. Aku belajar bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan makhluk lain di sekitar kita.

Dari kecil hingga dewasa, kecintaanku pada hewan tidak pernah berubah. Aku tetap melihat mereka sebagai bagian dari kehidupan yang harus dihargai dan dijaga. Aku percaya bahwa Tuhan menciptakan mereka bukan tanpa alasan, dan sebagai manusia, tugas kita adalah merawat mereka dengan penuh cinta dan penghormatan.

Dan sampai hari ini, setiap kali aku melihat seekor burung terbang bebas di langit, atau mendengar anjing menggonggong dengan riang, aku selalu teringat pada masa kecilku—masa di mana aku belajar bahwa kasih tidak terbatas hanya pada manusia, tetapi juga kepada semua ciptaan Tuhan.

Masa Kecil di Kebun: Hidup Bersahabat dengan Alam dan Sesama

Salah satu kenangan terindah dalam masa kecilku adalah saat pergi ke kebun Bapak di Nanjung. Kebun ini menjadi tempat petualangan yang selalu kutunggu-tunggu, terutama ketika musim durian atau buah-buahan lainnya sedang berlimpah.

Biasanya, aku ke kebun saat sopir dan mobil Papa tidak digunakan untuk mengantar Papa dan Mama yang sedang ada urusan ke luar kota. Kalau tidak, aku bisa pergi dengan Mas Dayat, sopir Papa, yang dengan senang hati membawaku dan teman-teman untuk bermain di kebun. Kebun ini cukup jauh dari rumah, tapi perjalanan ke sana selalu menyenangkan. Dari jendela mobil, aku bisa melihat hamparan sawah, perbukitan, dan langit biru yang cerah—pemandangan yang menenangkan dan membuatku semakin bersemangat.

Begitu sampai di kebun, udara segar langsung menyambutku. Aku suka berjalan di antara pepohonan yang rimbun, mencium aroma tanah yang lembab, dan mendengar suara serangga yang bersahutan. Jika musim durian tiba, aku dan teman-teman akan mencari durian yang sudah jatuh ke tanah, tanda bahwa buahnya sudah matang. Aroma durian yang khas langsung menguar di udara. Kami akan membuka durian bersama-sama, membagi isinya, dan menikmatinya di bawah rindangnya pohon. Tidak jarang, kami tertawa-tawa karena berebut bagian yang paling manis dan legit.

Selain durian, ada banyak buah lain yang bisa dipanen—rambutan merah yang menggantung lebat di pohon, manggis dengan kulit ungu kehitaman, dan jambu air yang segar. Kami akan memanjat pohon untuk mengambil buah langsung dari dahan, atau sekadar menggoyang-goyangkannya agar buah jatuh ke tanah. Tangan kami sering kali lengket oleh getah rambutan atau jus buah yang menetes, tapi itu semua bagian dari kesenangan.

Namun, kebun bukan hanya tempat untuk makan buah sepuasnya. Aku juga suka menjelajahi setiap sudutnya, mencari serangga unik, mendengarkan burung berkicau, dan sesekali mencoba menangkap ikan di sungai kecil yang mengalir di pinggir kebun.

Menggembala Bebek di Sawah: Kebahagiaan Sederhana

Selain bermain ke kebun, ada satu lagi aktivitas yang sangat kusukai—menggembala bebek ke sawah belakang rumah bersama adik-adikku. Ini bukan sekadar tugas, tetapi juga bagian dari kebahagiaan masa kecil yang tak ternilai.

Setiap pagi atau sore, aku dan adik-adik akan membawa kawanan bebek ke sawah. Bebek-bebek ini sudah terbiasa mengikuti kami, berjalan beriringan dengan langkah yang lucu. Mereka tahu bahwa di sawah, mereka bisa mencari makanan—serangga kecil, cacing, dan tanaman air yang mereka sukai.

Menggembala bebek bukan hanya sekadar membawa mereka ke sawah dan menunggu. Kami harus memastikan mereka tidak tersesat atau diserang hewan lain. Kadang, kami berlarian mengejar bebek yang tiba-tiba berbelok ke arah yang salah atau mencoba masuk ke kebun orang lain. Ini menjadi petualangan kecil yang selalu membuat kami tertawa.

Saat bebek sedang asyik mencari makan, kami biasanya bermain di sekitar sawah. Kadang-kadang, kami membuat perahu kecil dari daun kelapa dan membiarkannya mengapung di air. Jika hari sedang panas, kami bisa bermain air dan mencipratkan lumpur satu sama lain.

Setelah beberapa jam, kami akan mulai mengumpulkan bebek kembali. Sebelum pulang, kami memanen telur yang mereka tinggalkan di antara rerumputan. Rasanya luar biasa bisa membawa pulang telur-telur segar untuk dimasak di rumah.

Belajar Hidup Bersama Alam dan Sesama

Dari semua pengalaman ini, aku belajar banyak hal. Aku belajar bahwa alam adalah sahabat yang luar biasa. Berada di kebun atau sawah mengajarkanku untuk menghargai kehidupan di sekitar—tanaman yang tumbuh subur, hewan yang hidup berdampingan dengan manusia, dan udara segar yang tidak bisa tergantikan.

Aku juga belajar tentang kebersamaan dan berbagi. Setiap perjalanan ke kebun atau sawah selalu lebih menyenangkan ketika dilakukan bersama teman-teman dan adik-adikku. Kami tidak hanya bermain, tetapi juga bekerja sama, saling membantu, dan berbagi sukacita. Ketika mendapatkan banyak durian, aku tidak pernah berpikir untuk menikmatinya sendiri. Sebaliknya, aku justru senang membaginya dengan teman-teman, karena kebahagiaan menjadi lebih besar ketika dibagikan.

Begitu pula dengan telur bebek yang kami panen. Kadang-kadang, aku dan adik-adikku akan memberikan beberapa butir kepada tetangga atau teman-teman yang datang bermain ke rumah. Dari kecil, Papa dan Mama sudah menanamkan nilai bahwa hidup bukan hanya tentang mengambil, tetapi juga memberi.

Kenangan-kenangan ini tidak hanya menjadi bagian dari masa kecilku, tetapi juga membentuk cara pandangku terhadap kehidupan. Aku percaya bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang memiliki banyak hal, tetapi tentang bagaimana kita bisa berbagi dan menikmati setiap momen bersama orang-orang di sekitar kita.

Hidup bersahabat dengan alam dan sesama adalah pelajaran yang terus kubawa hingga dewasa. Dan setiap kali aku melihat sawah hijau atau mencium aroma durian yang matang, ingatanku selalu kembali ke masa kecilku—masa di mana aku belajar bahwa hidup adalah tentang berbagi sukacita dengan orang lain.

Belajar Menyupir Sejak SD: Sebuah Pengalaman Berharga Yang Tidak Perlu Ditiru

Sejak kecil, aku sudah penasaran dengan banyak hal, termasuk menyetir mobil. Rasa ingin tahu itu semakin besar karena aku sering ikut dalam perjalanan bersama Mas Dayat, sopir Papa. Dia adalah orang yang sabar dan baik hati, mungkin karena sudah lama bekerja dengan keluarga kami dan menganggapku seperti adik kecilnya.

Entah karena ingin memberiku pengalaman, atau sekadar berjaga-jaga kalau suatu hari ada situasi darurat, Mas Dayat mulai mengajariku menyupir sejak aku masih SD. Aku tahu ini bukan hal yang seharusnya dilakukan, apalagi untuk anak kecil seusiaku. Tapi pada masa itu, sekitar tahun 1978, jalanan masih sepi sekali, tidak seperti sekarang yang ramai dengan kendaraan di mana-mana.

Pelajaran pertamaku dimulai di halaman rumah. Mas Dayat membiarkanku duduk di kursi pengemudi sementara dia tetap mengontrol kemudi. Aku mulai belajar memahami bagaimana cara menginjak gas dan rem, serta merasakan tarikan mesin saat mobil mulai bergerak pelan. Awalnya aku hanya sekadar memutar-mutar setir tanpa benar-benar mengemudi.

Setelah beberapa kali latihan di halaman rumah, Mas Dayat mulai membiarkanku menyetir di jalanan kecil sekitar rumah. Saat itu aku merasa seperti anak paling hebat di dunia! Meskipun kecepatannya sangat pelan, aku merasa seperti seorang pengemudi sungguhan. Aku bisa merasakan getaran roda di jalan, mendengar suara mesin, dan merasakan sensasi luar biasa ketika mobil bergerak mengikuti kendaliku.

Namun, Mas Dayat tetap berhati-hati. Dia tidak pernah membiarkanku menyetir di jalanan besar atau saat ada banyak orang. Kalau ada mobil lain yang melintas, dia segera mengambil alih kemudi. Aku sendiri juga sadar bahwa ini bukan sesuatu yang bisa aku lakukan sembarangan. Ada rasa takut juga, tapi lebih banyak rasa penasaran dan keseruan.

Kadang, kalau Papa dan Mama sedang bepergian dan mobil tidak dipakai, Mas Dayat membiarkanku menyetir di jalanan sekitar kebun atau lapangan terbuka. Itulah tempat paling aman bagiku untuk belajar tanpa risiko bertemu kendaraan lain. Aku belajar cara memindahkan gigi, mengatur kecepatan, dan memahami kapan harus mengerem dengan tepat.

Meskipun sekarang aku sadar bahwa ini adalah pelanggaran peraturan lalu lintas, pada saat itu rasanya hanya seperti petualangan anak kecil yang ingin mencoba segala sesuatu. Seperti anak laki-laki lain seusiaanku, aku ingin tahu bagaimana rasanya menjadi dewasa dan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan orang dewasa.

Pelajaran menyetir sejak kecil ini tidak hanya memberiku pengalaman mengemudi, tetapi juga mengajarkanku tentang tanggung jawab. Aku mulai memahami bahwa mengemudi bukan sekadar soal memegang setir dan menekan gas, tetapi juga soal keselamatan dan kesadaran terhadap lingkungan sekitar.

Selain itu, aku juga belajar sesuatu yang lebih penting: kebaikan seseorang bisa mengubah hidup kita. Mas Dayat, dengan kesabarannya, memberiku pelajaran yang tidak bisa kudapatkan di sekolah. Mungkin dia sekadar ingin mengajarkanku sesuatu yang baru, atau mungkin dia merasa itu adalah bagian dari tugasnya sebagai sopir keluarga. Apa pun alasannya, aku selalu mengingatnya dengan rasa syukur.

Saat ini, ketika melihat anak-anak kecil yang penasaran dengan dunia orang dewasa, aku sering teringat bagaimana aku dulu. Aku bersyukur pernah mengalami masa kecil yang penuh dengan pengalaman, petualangan, dan pelajaran hidup yang tak ternilai. Dan salah satu pelajaran itu adalah bahwa hidup selalu memberikan kesempatan untuk belajar, baik dari pengalaman kita sendiri maupun dari orang-orang yang dengan tulus berbagi ilmu dan kebaikan.

Menjadi Juara Lomba Menulis dan Karya Ilmiah LIPI

Sejak kecil, aku memang sudah suka menulis. Kebiasaan membaca dan berdiskusi di rumah membuatku terbiasa menuangkan ide dalam tulisan. Aku sering menulis cerita pendek, catatan harian, bahkan esai kecil tentang berbagai hal yang menarik perhatianku. Guru-guru di sekolah melihat bakat ini dan sering mendorongku untuk mengikuti berbagai lomba menulis.

Di sekolah, aku beberapa kali mengikuti lomba menulis dan berhasil menjadi juara. Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika seorang guru menyarankanku untuk mengikuti Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan oleh LIPI. Aku saat itu masih kelas satu SMP, dan karena prosesnya panjang, butuh hampir setahun sebelum naskah benar-benar dikirimkan.

Aku ingat betapa antusiasnya aku saat mulai menggarap karya ilmiah ini. Aku memilih topik yang menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari, sambil dibimbing oleh guru pembina di sekolah. Prosesnya cukup panjang—mulai dari riset, menulis, merevisi, hingga akhirnya mengirimkan naskah di akhir kelas dua SMP. Ketika pengumuman finalis keluar di kelas tiga SMP, aku sangat terkejut sekaligus bersyukur karena berhasil masuk final!

Babak final lomba ini membawa pengalaman yang luar biasa. Aku bertemu dengan banyak peserta lain dari berbagai daerah, masing-masing membawa ide-ide brilian dalam bidangnya. Aku harus mempresentasikan hasil penelitian di depan juri yang merupakan ilmuwan dan pakar di bidangnya. Rasa gugup pasti ada, tetapi aku berusaha memberikan yang terbaik.

Ketika pengumuman pemenang dilakukan, aku tidak masuk tiga besar, tetapi tetap mendapat juara harapan. Meskipun bukan posisi teratas, aku tetap bersyukur karena ini adalah pencapaian besar bagi seorang anak SMP. Lebih mengejutkan lagi, hadiahnya cukup besar—seharga satu unit motor pada saat itu! Bagi anak SMP, ini adalah sesuatu yang luar biasa.

Kemenangan ini membawa banyak dampak positif dalam hidupku. Salah satunya, ketika aku harus pindah sekolah di semester terakhir kelas tiga SMP dari Cimahi ke Jakarta. Papa ingin aku melanjutkan SMA di Jakarta, agar lebih dekat dengannya yang sudah pindah tugas ke ibu kota. Berkat prestasi ini, proses adaptasiku menjadi lebih mudah.

Di sekolah baru, aku lebih percaya diri karena sudah memiliki pengalaman dalam kompetisi akademik. Aku juga lebih mudah diterima oleh lingkungan baru karena prestasi ini membuat guru-guru dan teman-teman lebih mengenalku. Aku semakin termotivasi untuk terus belajar, menulis, dan mengeksplorasi dunia ilmu pengetahuan.

Kemenangan di lomba ini bukan hanya soal hadiah atau pengakuan, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang kerja keras, ketekunan, dan pentingnya mengambil kesempatan yang ada. Aku belajar bahwa menulis bukan sekadar hobi, tetapi juga bisa membuka jalan menuju berbagai peluang baru dalam hidup.

Menjadi Juara di Lomba Bergengsi Nasional: Momen yang Mengubah Hidup

Setelah pengalaman berharga di lomba Karya Ilmiah Remaja LIPI saat SMP, aku semakin percaya diri untuk mencoba tantangan baru. Kebiasaan membaca, menulis, dan berpikir kritis yang ditanamkan sejak kecil ternyata membuka banyak peluang. Aku mulai lebih aktif mengikuti perlombaan, baik di tingkat sekolah maupun yang lebih luas.

Suatu hari, guru di sekolah merekomendasikanku untuk mengikuti sebuah lomba skala nasional yang saat itu sangat bergengsi. Ini bukan hanya sekadar kompetisi akademik biasa, tetapi juga ajang yang mempertemukan anak-anak berbakat dari berbagai daerah di Indonesia. Aku tahu bahwa persaingannya akan ketat, tetapi aku merasa tertantang untuk ikut serta.

Proses persiapan lomba ini sangat intens. Aku harus belajar lebih banyak, berdiskusi dengan guru dan teman-teman, serta terus mengasah kemampuan berpikir dan berkomunikasi. Ada saat-saat ketika aku merasa ragu, tetapi dukungan dari keluarga, guru, dan teman-teman membuatku tetap semangat.

Ketika hari perlombaan tiba, aku merasakan campuran antara kegugupan dan semangat. Semua peserta yang hadir adalah orang-orang hebat, tetapi aku berusaha untuk tetap tenang dan fokus. Aku menjalani setiap tahap dengan penuh konsentrasi, berusaha menampilkan yang terbaik dalam presentasi dan sesi tanya jawab.

Saat pengumuman pemenang dibacakan, aku hampir tidak percaya ketika mendengar namaku disebut sebagai salah satu juara! Rasanya luar biasa—bukan hanya karena status lomba yang bergengsi, tetapi juga karena ini adalah pengakuan atas kerja keras dan usaha yang telah aku lakukan.

Menjadi juara di kompetisi ini memberikan dampak besar dalam hidupku. Aku mendapatkan kepercayaan diri yang lebih besar, menyadari bahwa dengan usaha dan ketekunan, aku bisa mencapai hal-hal yang sebelumnya terasa sulit atau tidak mungkin.

Selain itu, ajang ini juga memperluas lingkaran pertemananku. Aku bertemu dengan banyak anak berbakat dari berbagai daerah, masing-masing dengan latar belakang dan pengalaman yang unik. Kami bertukar cerita, berbagi ide, dan bahkan menjalin persahabatan yang bertahan lama.

Lebih dari sekadar penghargaan, pengalaman ini mengajarkanku tentang pentingnya berani mencoba, tidak takut menghadapi tantangan, dan selalu belajar dari setiap kesempatan yang ada. Aku menyadari bahwa keberhasilan bukan hanya soal bakat, tetapi juga tentang kerja keras, ketekunan, dan keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman.

Prestasi ini menjadi pijakan penting dalam perjalanan hidupku, membuka lebih banyak peluang di masa depan, dan menguatkan keyakinanku bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti akan membuahkan hasil.

MASA KECIL ADALAH MASA BERMAIN dan BERSYUKUR PUNYA ORANG TUA YANG MAU MENEMANI dan MENGARAHKAN.

Masa kecil adalah masa penuh keceriaan dan petualangan, terutama bagi aku yang tumbuh di lingkungan yang kaya akan permainan tradisional dan kebersamaan dengan teman-teman. Saat SD, aku menghabiskan banyak waktu bermain layangan, gala asin, boy-boyan, anggar, petak umpet, serta bersepeda keliling kota Cimahi bersama teman-teman. Setiap permainan membawa keseruannya sendiri dan membentuk banyak kenangan indah yang tak terlupakan.

Bermain layangan adalah salah satu aktivitas favorit kami. Di lapangan luas dekat komplek, kami beramai-ramai menerbangkan layangan dengan berbagai bentuk dan warna. Ada layangan biasa, ada juga layangan yang sudah dimodifikasi dengan ekor panjang atau ditambahkan senar gelasan untuk adu layangan. Saat angin bertiup kencang, kami akan berlomba-lomba menerbangkan layangan setinggi mungkin dan mencoba memutuskan tali layangan lawan. Jika ada layangan putus, seluruh anak-anak akan berlarian mengejar layangan itu, berharap bisa menjadi pemilik barunya.

Selain layangan, aku dan teman-teman sering bermain gala asin, permainan yang mengandalkan kecepatan dan strategi. Kami membagi diri menjadi dua tim, satu tim berusaha melewati garis pertahanan lawan, sementara tim lainnya berusaha menangkap pemain yang berusaha melewati mereka. Setiap permainan penuh dengan tawa, teriakan, dan semangat persaingan yang sehat.

Permainan boy-boyan juga tidak kalah seru. Kami menggunakan tumpukan batu kecil sebagai target dan mencoba menjatuhkannya dengan bola. Setelah itu, kami harus menyusun kembali batu-batu tersebut sambil menghindari lemparan bola dari tim lawan. Kecepatan, kelincahan, dan kerja sama tim sangat diperlukan dalam permainan ini. Terkadang, bola yang dilempar mengenai badan cukup keras, tapi itu justru menambah keseruan dan semangat bermain.

Anggar, yang merupakan permainan pedang-pedangan dengan batang kayu atau ranting pohon, juga menjadi favorit kami. Meskipun permainan ini cukup berbahaya jika tidak hati-hati, kami selalu berhati-hati agar tidak menyakiti satu sama lain. Kami bermain seolah-olah menjadi pendekar yang bertarung mempertahankan kehormatan, seperti dalam film-film aksi yang sering kami tonton.

Petak umpet adalah permainan yang tak pernah membosankan. Sore hari setelah sekolah, kami berkumpul di sekitar komplek untuk bermain. Ada banyak tempat persembunyian, dari balik pohon, di balik tembok rumah, hingga di dalam selokan yang cukup besar. Sensasi menahan napas saat hampir ditemukan oleh pencari selalu membuat jantung berdegup kencang.

Bersepeda keliling kota Cimahi adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Bersama teman-teman, kami menjelajahi berbagai sudut kota, melewati jalanan kecil, naik turun perbukitan, dan sesekali berhenti untuk membeli jajanan di warung pinggir jalan. Sepeda bukan hanya alat transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari petualangan kami sehari-hari.

Selain bermain, aku juga aktif dalam Pramuka dan latihan pencak silat di komplek bersama teman-teman sepermainan. Pramuka mengajarkan banyak hal, mulai dari kedisiplinan, keterampilan bertahan hidup di alam, hingga kerja sama tim. Aku masih ingat saat pertama kali berhasil membuat simpul tali yang benar atau ketika kami harus berkemah di luar rumah, merasakan bagaimana rasanya hidup mandiri.

Pencak silat, di sisi lain, melatih ketangkasan dan kekuatan fisik. Latihan di sore hari bersama teman-teman selalu penuh semangat. Guru silat kami tidak hanya mengajarkan teknik bertarung, tetapi juga nilai-nilai seperti kesabaran, hormat kepada orang lain, dan pengendalian diri.

Aku juga bermain sepak bola, dan salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika Papa menemani aku bermain. Papa membelikanku sepatu bola yang membuat banyak teman-temanku iri karena tidak banyak anak-anak yang memiliki kesempatan bermain bola ditemani ayah mereka. Papa tidak hanya mendukung hobiku, tetapi juga memberikan arahan agar aku bisa bermain dengan lebih baik.

Papa yang saat itu mengajar di Pusat Pendidikan Militer di Cimahi juga sering meminta aku membantunya mengecek hasil ujian muridnya. Aku dan Papa memiliki sistem unik dalam memeriksa jawaban pilihan ganda. Papa membuat kertas jawaban dengan lubang-lubang sesuai jawaban yang benar, lalu kami hanya perlu meletakkannya di atas kertas jawaban siswa dan memberi tanda dengan spidol merah pada jawaban yang salah. Itu adalah pengalaman yang menarik dan tanpa disadari, aku sering membaca pertanyaan-pertanyaan yang ada, yang kemudian memperkaya pengetahuanku.

Satu hal unik dari Papa adalah cara beliau menangani anak-anak yang sering berkelahi di komplek. Daripada membiarkan mereka bertengkar secara tidak sehat, Papa membelikan sarung tinju dan sepakat dengan orang tua lain bahwa jika ada anak yang ingin berkelahi, mereka harus bertanding dengan sarung tinju. Dengan cara ini, tidak ada yang cedera serius dan energi anak-anak disalurkan dengan lebih positif. Ini adalah bentuk kepedulian Papa dalam membimbing anak-anak agar mereka bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih sportif.

Masa kecilku penuh dengan kenangan indah, baik dalam bermain, belajar, maupun kebersamaan dengan keluarga. Orang tuaku, terutama Papa, selalu berusaha mengarahkan energi kami ke hal-hal yang positif dan mendidik dengan cara yang kreatif. Semua pengalaman ini membentuk pribadi dan pola pikirku hingga saat ini.

Pengalaman kebersamaan dengan papa menghabiskan masa kecilku ini yang aku coba buat terapkan ke anak anak ku dan dalam mendidik mereka tidak dengan memaksa tetapi mengarahkan semata.

No comments: