Friday, July 4, 2025

Eksposisi Lukas 17:1–19

 

Pendahuluan

Pasal 17 dari Injil Lukas memuat sejumlah ajaran Yesus yang penting dan tajam mengenai kehidupan rohani. Di dalam ayat 1–19, terdapat dua bagian utama:

  1. Ajaran Yesus tentang dosa, pengampunan, dan iman (ayat 1–10), dan

  2. Penyembuhan sepuluh orang kusta, namun hanya satu yang kembali bersyukur (ayat 11–19).

Kedua bagian ini tampaknya terpisah secara tema, namun jika ditelusuri lebih dalam, keduanya memiliki benang merah: Bagaimana respons manusia terhadap kasih dan anugerah Allah, dan siapa yang benar-benar menghargai dan mengingat Sang Pemberi berkat, bukan hanya berkat-Nya.

Bagian I 

Ajaran Yesus tentang Dosa, Pengampunan, dan Iman (Luk. 17:1–10)

1. Waspada terhadap Dosa (ayat 1–2)

“Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dilemparkan ke dalam laut, daripada menyesatkan salah satu dari orang-orang kecil ini.”

Yesus memulai pengajaran-Nya dengan peringatan keras terhadap dosa yang menyesatkan orang lain, terutama orang-orang kecil—yakni orang-orang sederhana, rentan, atau baru bertumbuh dalam iman. Kata "penyesatan" (Yunani: skandalon) memiliki konotasi jebakan, batu sandungan. Artinya, orang yang menyebabkan orang lain jatuh dalam dosa memikul tanggung jawab yang besar.

Ajaran ini menunjukkan bahwa dalam relasi antar manusia, terutama dalam komunitas iman, kita bukan hanya bertanggung jawab atas diri sendiri tetapi juga atas orang lain.

2. Hidup dalam Pengampunan (ayat 3–4)

“Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Sekalipun ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”

Yesus mengajarkan bahwa pengampunan harus menjadi sikap hati yang permanen. Kata “tujuh kali sehari” bukan berarti jumlah terbatas, melainkan pengampunan yang tak mengenal batas. Ini sejalan dengan ajaran-Nya dalam Matius 18:22 tentang mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali.

Inti dari bagian ini adalah: Jika kita ingin menerima anugerah Tuhan, kita juga harus hidup dalam anugerah terhadap sesama.

3. Permohonan Murid: Tambahkanlah Iman Kami (ayat 5–6)

“Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: ‘Tambahkanlah iman kami!’ Jawab Tuhan: ‘Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.’”

Para murid menyadari bahwa pengampunan seperti yang diajarkan Yesus memerlukan sesuatu yang lebih dari kekuatan manusia—mereka memohon tambahan iman. Namun, Yesus membalik perspektif mereka: Masalahnya bukan besar kecilnya iman, tetapi apakah iman itu sejati dan hidup. Iman yang kecil namun tulus dapat membawa kuasa besar.

4. Pelayan yang Tidak Mengharapkan Imbalan (ayat 7–10)

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.”

Yesus menutup bagian ini dengan pengajaran yang mengoreksi motivasi hati dalam pelayanan. Kita tidak melayani Tuhan demi upah atau penghargaan, melainkan karena itu adalah tanggung jawab kita sebagai hamba-Nya. Sikap ini akan menentukan apakah kita benar-benar menyembah Tuhan, atau hanya menyembah berkat-Nya.

Bagian II – Penyembuhan Sepuluh Orang Kusta (Luk. 17:11–19)

1. Latar Belakang Sosial dan Teologis

“Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.”

Konteks geografis ini penting. Samaria dan Galilea adalah wilayah yang sering dipandang rendah oleh orang-orang Yahudi Yerusalem. Orang Samaria secara khusus dianggap “tidak murni” secara agama. Maka ketika Yesus berinteraksi dengan orang-orang di sana, termasuk orang kusta, Ia sedang menabrak sekat-sekat sosial dan keagamaan.

2. Permohonan yang Sama, Imbalan yang Sama (ayat 12–14)

“Sepuluh orang kusta… berdiri agak jauh dan berteriak: ‘Yesus, Guru, kasihanilah kami!’… Maka pergilah mereka dan sementara di jalan mereka menjadi tahir.”

Sepuluh orang ini berseru bersama-sama, dengan penderitaan yang sama, permohonan yang sama, dan mereka semua mengalami mujizat yang sama. Namun respons mereka sangat berbeda kemudian.

Ini menggambarkan realitas kehidupan rohani: banyak orang datang kepada Tuhan saat membutuhkan pertolongan, tetapi sangat sedikit yang datang kembali untuk bersyukur.

3. Hanya Satu yang Kembali Bersyukur (ayat 15–18)

“Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring; lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.”

Yang kembali bukan hanya orang kusta, tapi juga orang asing. Yesus menekankan: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?”

Pertanyaan retoris ini adalah sorotan tajam pada realitas: Banyak yang mau menerima berkat, tetapi hanya sedikit yang mengingat Sang Pemberi Berkat.

Mengapa? Karena hati manusia lebih mencintai berkat daripada Allah itu sendiri. Banyak orang menginginkan kesembuhan, jalan keluar, rezeki, pasangan, pekerjaan—tetapi lupa bahwa yang utama adalah Tuhan, bukan pemberian-Nya.

4. Keselamatan Sejati (ayat 19)

“Lalu Ia berkata kepada orang itu: ‘Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.’”

Sepuluh orang disembuhkan secara jasmani, tetapi hanya satu yang diselamatkan secara rohani. Mengapa? Karena hanya satu yang datang kembali kepada Yesus bukan sekadar untuk berterima kasih, tetapi untuk menyembah.


Bagian III 

Refleksi Teologis

1. Manusia Lebih Sering Mencari Tangan Tuhan daripada Wajah-Nya

Kisah penyembuhan sepuluh orang kusta dalam Lukas 17:11–19 adalah refleksi yang sangat kuat tentang natur manusia. Dalam penderitaan, sepuluh orang ini bersatu dalam permohonan, namun setelah berkat diterima, hanya satu yang bersatu dalam penyembahan.

Inilah salah satu gambaran paling jelas bahwa manusia, secara umum, lebih tertarik pada apa yang Tuhan bisa lakukan untuk mereka, daripada siapa Tuhan itu sendiri. Doa-doa kita dipenuhi permintaan: "Tuhan, sembuhkan saya," "Tuhan, tolong pekerjaan saya," "Tuhan, bukakan jalan." Semua itu sah dan manusiawi. Namun, berapa banyak doa yang hanya berisi pujian? Berapa banyak yang berisi syukur tanpa pamrih?

Yesus tidak marah ketika sembilan orang itu tidak kembali, tetapi Ia menunjukkan betapa dalamnya kekecewaan hati-Nya saat berkata:

“Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?” (Luk. 17:17)

Tuhan ingin relasi, bukan hanya transaksi.

2. Anugerah Tuhan Tidak Sama dengan Keselamatan

Sepuluh orang menerima anugerah berupa kesembuhan jasmani, tetapi hanya satu orang yang mengalami keselamatan sejati. Ayat 19 mengandung kata kunci:

“Imanmu telah menyelamatkan engkau” – dalam bahasa Yunani: hē pistis sou sesōken se.

Kata kerja sesōken berasal dari kata sōzō yang berarti menyelamatkan secara rohani, memulihkan secara utuh. Ini bukan sekadar kata untuk kesembuhan fisik, tetapi keselamatan jiwa.

Artinya, banyak orang mungkin mengalami mujizat dan tetap tidak diselamatkan. Mujizat bukan jaminan keselamatan. Yang menyelamatkan adalah iman yang disertai dengan sikap hati yang benar terhadap Tuhan—iman yang menyembah, bukan hanya meminta.

3. Rasa Syukur adalah Buah dari Iman yang Sejati

Iman sejati tidak hanya aktif saat kita kekurangan, tapi juga saat kita sudah menerima. Orang Samaria itu tidak hanya sembuh, tetapi ia melihat bahwa ia telah sembuh (“ketika melihat bahwa ia telah sembuh” – ayat 15), lalu ia memilih untuk kembali dan memuliakan Allah.

Ia melihat lebih dari sekadar kulitnya yang pulih; ia melihat Tuhan di balik pemulihannya.

Itulah sebabnya Yesus memuji iman orang ini. Iman bukan hanya soal percaya mujizat terjadi, tetapi mengenali Sang Pemberi mujizat dan datang menyembah-Nya. Di sinilah bedanya beriman karena kebutuhan dan beriman karena kasih.

4. Orang Asing yang Lebih Peka terhadap Anugerah

Satu orang yang kembali itu adalah orang Samaria—bangsa yang secara sosial dan keagamaan dipandang rendah oleh orang Yahudi. Namun justru dia yang kembali kepada Yesus dan memuliakan Allah.

Refleksi teologis penting di sini: sering kali orang yang dianggap “luar” atau “tidak rohani” justru lebih menghargai anugerah Tuhan daripada mereka yang religius.

Yesus berulang kali menekankan dalam pengajaran-Nya bahwa orang yang tersisih, dianggap tidak layak, atau di luar komunitas agama Yahudi—malah sering menunjukkan respons iman yang lebih sejati.

Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, tetapi anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap.” (Mat. 8:11–12)

5. Berkat Tidak Mengubah Hati, Kecuali Kita Menemui Tuhan dalam Berkat Itu

Sembilan orang yang sembuh tidak kembali kepada Yesus—mereka mungkin terlalu sibuk merayakan kesembuhan, menemui keluarga, kembali ke masyarakat, atau menikmati kembali hidup mereka. Semua itu manusiawi, tapi di situlah letak tragedinya: berkat yang seharusnya membawa mereka kepada Tuhan malah menjauhkan mereka dari Tuhan.

Berapa banyak orang yang berdoa setiap hari ketika susah, tapi lupa Tuhan ketika hidupnya mulai sukses?

Peringatan teologis di sini sangat dalam: berkat bisa memperkeras hati, jika kita tidak melihat Tuhan di dalamnya. Sebaliknya, berkat bisa menjadi jalan keselamatan, jika kita melihatnya sebagai pintu menuju relasi lebih dalam dengan Kristus.


Bagian IV 

Benang Merah: Dari Seruan Menjadi Penyembahan

1. Seruan 10 Penderita Kusta sebagai Doa Iman

“Yesus, Guru, kasihanilah kami!” (Luk. 17:13)

Seruan ini mencerminkan inti dari doa permohonan manusia—tulus, sederhana, penuh keputusasaan. Mereka tidak meminta dengan rumit, mereka tidak menjelaskan banyak, tetapi dengan suara lantang memohon: “Kasihanilah kami.” Kata ini mencerminkan doa dari jiwa yang remuk dan sadar tidak berdaya.

Seruan itu juga adalah tindakan iman—mereka percaya bahwa Yesus dapat dan mau menolong. Mereka memanggil-Nya “Guru” (epistata dalam bahasa Yunani), suatu pengakuan bahwa Yesus memiliki otoritas atas keadaan mereka.

Dengan kata lain, seruan mereka adalah doa yang muncul dari penderitaan dan iman yang terarah kepada kuasa ilahi.

2. Tanggapan Tuhan: Pengampunan, Pemulihan, dan Ujian Hati

Yesus tidak langsung menyentuh mereka atau menyembuhkan di tempat. Ia berkata:

“Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara di tengah jalan mereka menjadi tahir. (ayat 14)

Yesus menguji ketaatan mereka. Dalam konteks hukum Taurat, hanya imam yang bisa menyatakan seseorang tahir (Imamat 14). Dengan menyuruh mereka pergi, Yesus meminta mereka bertindak seolah mereka sudah sembuh, padahal secara fisik belum. Artinya, mereka harus melangkah dengan iman.

Dan mereka melakukannya—mereka percaya dan melangkah, dan “di tengah jalan” mereka disembuhkan. Ini adalah jawaban doa mereka, dan juga bukti bahwa Tuhan menghargai iman, bahkan yang motivasinya belum sempurna.

Namun... inilah titik perbedaan besar muncul.

3. Berkat Diterima, Tapi Hati Tidak Berbalik kepada Pemberi Berkat

Sembilan dari mereka tidak kembali. Mereka mendapatkan jawaban doa mereka. Mereka sembuh. Tapi kemudian... mereka melanjutkan hidup, tanpa satu langkah pun untuk kembali dan mengucap syukur.

Mereka memiliki iman fungsional, yaitu iman yang aktif hanya untuk mendapatkan sesuatu. Ini adalah bentuk iman yang sangat umum hari ini—iman yang percaya untuk berkat, kesembuhan, pekerjaan, jodoh, keamanan, kelepasan dari masalah, tapi tidak berubah menjadi relasi dan ketaatan.

Yesus tidak mempertanyakan apakah mereka bersyukur di dalam hati mereka. Yang Dia pertanyakan adalah: “Di manakah mereka?”

“Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?” (ayat 17)

Artinya, kehadiran kita di hadapan Tuhan setelah menerima jawaban doa adalah bagian penting dari penyembahan. Iman sejati selalu membawa seseorang kembali ke kaki Yesus.

4. Satu Orang Kembali: Iman yang Bertumbuh Menjadi Penyembahan

Hanya satu orang yang kembali. Dia:

  • melihat bahwa dia telah sembuh (kesadaran),

  • memuliakan Allah dengan suara nyaring (pujian),

  • tersungkur di kaki Yesus (penyembahan),

  • mengucap syukur kepada-Nya (persembahan diri),

  • dan ia adalah orang Samaria (yang tidak diharapkan oleh masyarakat Yahudi).

Ia melampaui tujuan awal doanya. Tujuan awalnya adalah kesembuhan, tapi setelah sembuh, ia menyadari bahwa yang terpenting bukan kesembuhan itu sendiri, melainkan Pribadi yang memberikannya. Imannya berubah arah: dari berkat kepada Pemberi berkat.

Yesus kemudian berkata:

“Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (ayat 19)

Iman yang tadinya hanya untuk kesembuhan, kini telah menjelma menjadi iman yang menyelamatkan. Ia bukan hanya menerima pemulihan jasmani, tapi keselamatan kekal.

5. Perbedaan Mendasar: Iman yang Sementara vs. Iman yang Menyelamatkan

Sembilan OrangSatu Orang
Memohon dengan imanMemohon dengan iman
Melangkah dengan taatMelangkah dengan taat
Disembuhkan secara fisikDisembuhkan secara fisik dan rohani
Melanjutkan hidupKembali dan menyembah
Menerima berkat, lalu hilangMenerima berkat dan menemukan Tuhan
Iman demi kebutuhanIman demi perjumpaan dan hubungan

Ini menjadi cermin bagi gereja masa kini: Apakah kita seperti sembilan orang yang hanya melihat Tuhan sebagai jalan keluar, atau seperti satu orang yang menjadikan Tuhan sebagai tujuan hidup?

6. Hubungan dengan Lukas 17:1–10

Bagian awal pasal ini berbicara tentang:

  • pentingnya pengampunan (ayat 3–4),

  • iman sejati (ayat 5–6), dan

  • sikap hamba sejati yang tidak menuntut imbalan (ayat 7–10).

Ketika Yesus berbicara tentang iman, para murid meminta agar iman mereka ditambah. Tapi Yesus mengajarkan bahwa iman bukan soal ukuran, tetapi kualitas dan arah. Itulah yang ditunjukkan oleh satu orang Samaria ini. Ia tidak hanya menggunakan imannya untuk kesembuhan, tetapi mengarahkannya kembali kepada Tuhan.

Lalu Yesus mengakhiri bagian sebelumnya dengan mengajar: "Kami hanya hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.” Ini adalah kontra terhadap sikap “agama transaksional”—yang menganggap Tuhan harus membalas kita kalau kita melakukan sesuatu. Tapi satu orang yang kembali itu tidak minta apa-apa lagi—dia tidak datang untuk meminta, tetapi untuk menyembah.

Dengan demikian, bagian ayat 1–10 dan 11–19 saling melengkapi. Yang satu mengajarkan prinsip-prinsip rohani, yang satu menunjukkan aplikasinya melalui peristiwa nyata.


Bagian V 

Relevansi dan Aplikasi Masa Kini

1. Kita Semua Pernah Seperti Sepuluh Penderita Kusta

Kusta dalam Alkitab bukan sekadar penyakit fisik. Dalam konteks teologis, kusta melambangkan keterpisahan manusia dari Allah dan komunitas. Orang kusta:

  • Dijauhkan dari keluarga dan masyarakat (Imamat 13:45–46),

  • Tidak boleh masuk Bait Allah,

  • Hidup dalam stigma dan pengucilan.

Demikian pula dosa menjadikan manusia najis dan terpisah dari hadirat Allah. Kita semua, dalam natur kita yang berdosa, pernah "berkusta" secara rohani.

Namun, seperti sepuluh orang kusta itu, kita datang kepada Yesus dengan seruan: "Kasihanilah kami!" Dan, seperti mereka, kita menerima anugerah—Tuhan mengampuni, memulihkan, memberi hidup baru. Pertanyaannya: Apakah kita akan menjadi seperti sembilan yang tidak kembali, atau satu yang sujud menyembah?

2. Realitas Iman yang Dangkal di Era Modern

Di zaman sekarang, banyak yang "beragama" tetapi tidak mengikut Tuhan. Banyak yang:

  • rajin berdoa saat ujian, saat usaha terancam bangkrut, saat ada masalah rumah tangga,

  • tetapi setelah semua lewat, Tuhan dilupakan.

Gereja penuh saat ada kebaktian kesembuhan, penuh saat Natal dan Paskah, penuh saat ada bantuan sosial. Tapi ketika Tuhan memanggil untuk mengikuti-Nya dalam pengampunan, pelayanan, kesetiaan, dan salib... hanya sedikit yang mau melangkah lebih jauh.

Kisah ini menggemakan satu fakta pahit: "banyak yang menerima berkat Tuhan, hanya sedikit yang kembali untuk menyembah Tuhan."

Yesus tidak menolak mereka yang datang hanya untuk kesembuhan—Ia tetap menyembuhkan semua. Namun keselamatan dan relasi hanya diberikan kepada yang datang kembali.

3. Iman yang Sejati Membawa Kembali ke Kaki Kristus

Orang Samaria itu memberi kita teladan:

  • Melihat kesembuhan → ia sadar bahwa Tuhan telah bertindak,

  • Kembali kepada Yesus → ia tidak puas hanya dengan kesembuhan; ia menginginkan Tuhan,

  • Bersyukur dan menyembah → ia menyatakan ketundukan dan kasih.

Banyak orang Kristen hari ini hidup dengan iman konsumeris: “Apa yang bisa saya dapat dari Tuhan?” Tapi iman yang menyelamatkan adalah “Tuhan, apa yang bisa saya persembahkan bagi-Mu?”

Sembilan orang mengalami keajaiban. Tapi hanya satu yang mengenal Pribadi Ilahi.

Bagian VI 

Aplikasi Pribadi dan Komunitas

A. Aplikasi Pribadi

1. Apakah Doa Kita Hanya Saat Butuh?

Refleksikan: Apakah kita hanya berdoa waktu ada masalah? Apakah doa kita lebih banyak berisi permintaan daripada penyembahan?

Latihan praktis: Mulailah hari dengan doa syukur tanpa permintaan. Fokus pada siapa Tuhan, bukan apa yang kita inginkan dari-Nya.

2. Apakah Kita Mengembalikan Kemuliaan kepada Tuhan Setelah Diberkati?

Sudahkah kita kembali kepada Tuhan setelah doa kita dijawab? Setelah diterima kerja, disembuhkan, dipulihkan dari trauma? Atau kita lupa seperti sembilan lainnya?

Latihan praktis: Tulis daftar berkat besar yang Tuhan beri dalam 1–5 tahun terakhir. Lalu ambil waktu khusus untuk menyembah, bukan sekadar mengucap “terima kasih.”

3. Apakah Iman Kita Membawa Kita Lebih Dekat kepada Tuhan?

Iman bukan hanya alat untuk bertahan hidup. Iman sejati membawa kita kepada Tuhan, bukan hanya ke jawaban doa. Orang Samaria itu kembali, dan tersungkur. Itulah iman sejati.

Refleksi: Sejauh mana perjalanan iman Anda telah membawa Anda lebih mengenal Kristus?

B. Aplikasi untuk Gereja dan Komunitas

1. Gereja Perlu Mengajar Iman yang Membentuk Relasi, Bukan Transaksi

Terlalu banyak pengajaran iman difokuskan pada: “percaya supaya diberkati.” Kita perlu mengajar jemaat untuk:
percaya supaya mengenal Tuhan,
percaya supaya menjadi serupa Kristus,
percaya supaya taat meskipun tidak mendapat apa-apa.

Gereja bukan pusat berkat, tapi rumah penyembahan.

2. Gereja Perlu Mendidik Umat Menjadi Penyembah Sejati

Penyembahan bukan hanya musik atau suasana emosional. Penyembahan adalah hidup yang tersungkur di kaki Yesus, seperti orang Samaria itu.

“Tersungkur” adalah simbol dari hati yang tunduk, pikiran yang takluk, dan kehendak yang menyerah.

3. Komunitas Kristen Harus Membentuk Budaya Bersyukur dan Menyembah

Bersyukur adalah gaya hidup. Bersyukur melatih kita untuk tidak hanya melihat berkat, tetapi Tuhan di balik berkat. Ini akan menolong umat tidak menjadi Kristen yang hanya hadir saat butuh, tetapi menjadi penyembah sejati dalam segala musim.

Penutup 

Pilihan Iman: Sembilan atau Satu?

Yesus tidak memaksa sembilan orang untuk kembali. Ia tidak mencabut kesembuhan mereka. Tapi Ia menyimpan satu pertanyaan yang harus kita jawab juga:

“Di manakah yang sembilan orang itu?”
(Luk. 17:17)

Apakah kita hanya datang saat butuh dan pergi saat kenyang? Atau kita akan menjadi seperti satu orang asing itu—yang walau bukan orang yang dianggap “layak,” tapi memiliki iman yang menyembah?

Yesus masih mencari orang yang kembali, tersungkur, dan mengucap syukur. Masihkah Anda termasuk di antara mereka?

No comments: