Saturday, March 19, 2016

Rr Rochayu Sri Kambardinah Mamaku


Waktu Papa meninggal rasanya tidak terlalu lama waktu yang aku butuhkan buat menulis biographynya. Tapi buat Mama aku perlu hampir dua tahun buat hanya memulainya. Rasanya kehilangan Mama seperti kehilangan separuh nyawaku. Mama memang selalu ada di samping kami anak-anaknya ketika kami membutuhkan. Mama memang sangat aktif di banyak kegiatan sosial dan itu terkadang membuat keberadaan beliau secara fisik tidak ada tetapi beliau selalu ada ketika kami membutuhkan.

Mamaku memang milik orang banyak, milik keluarga besar dan bukan hanya milik kami. Tetapi bukankah hidup kita sebagai manusia pada hakekatnya adalah itu. Kita sudah berhenti hidup ketika hanya orang sekitar kita saja yang merasakan manfaat dari hidup kita.

Mama yang begitu banyak kegiatannya rela untuk stop dan fokus hanya untuk menjaga dan menemani Papa di saat-saat beliau harus cuci darah setiap minggu dua kali. Mama rela mencurahkan seluruh perhatiannya buat Papa yang mendadak kehilangan kekuatannya dan menjadi sangat bergantun dengan Mama. Empat tahun bukan waktu yang sebentar buat Mama menemani Papa dan mereka habiskan hari-hari berdua. Rumah-Rumah Sakit adalah menu harian dan Papa hampir tidak kuatr berjalan kemana-mana, cuci darah menguras semua tenaga Papa dan Mama adalah satu satunya penyemangat dan teman Papa di saat saat terakhir.

Kalaupun Mama akhirnya menyusul Papa dalam waktu yang tidak terlalu lama, hanya sekitar 500 hari Papa dan Mama terpisah. Maka itu kembali membuktikan cinta Mama pada Papa yang besar dan kehilangan Mama yang besar akan kepergian belahan jiwanya.

Masa kecil Mama
Mama lahir sebagai anak  kelima dan anak kembar dokter dan peneliti senior di lembaga Eijkman Institute Salemba dan tinggal di jalan Cimahi Menteng Jakarta. Mama lahir tanggal 12 Oktober tahun 1943 di jakarta . Waktu Eyang diangkat jadi wakil kepala lembaga Pasteur Bandung maka Mama ikut pindah juga ke Bandung. Di Bandung juga kembaran Mama meninggal karena sakit di saat masih kecil dan membuat Eyang kehilangan putrij tercintanya. Tetapi tidak lama kesedihan itu berlalu dengan lahirnya adik bungsu Mama yang berwajah mirip Mama dan kembarannya almarhum. Seolah ini pengganti kembaran Mama buat keluarga eyang dari Tuhan yang mengasihi keluarga ini.

Eyang kakung yang berasal dari keluarga kyai jawa  dan Eyang putri yang berasal dari keluarga kesultanan Jogja, seolah menjadi paduan keluarga yang berhasil mendidik Mama bertumbuh dalam karakter yang penuih kasih dan perhatian buat sesama. Mama rela berkorban apa saja demi sesama dan ini pas sekali juga dengan karakter Papa yang juga sangat sosialis. Mungkin persamaan sifat ini yang mempertemukan mereka, walau Papa lebih extreme dalam menghasihi orang lain dan rela kehilangan atau dalam istilah populer memberi sampai sakit. Maka di saat seperti itu Mama yang akan jadi pengingatnya bahwa Papa juga punya anak istri.

Mama tumbuh dalam keluarga yang sangat akrab dan saling mendukung satu sama lain, kekompakan dan keakraban sebagai satu keluarga terlihat dengan jelas di saat saat Perayaan Lebaran dan Natal dimana semua keluarga selalu datang dan berkumpul. Yach memang keluarga besar Mama berbeda-beda agamanya tetapi semua taat dengan agama yang mereka pilih. Eyang memang sangat demokratis dan lebih mementinghkan KETAATAN daripada agama formal. Itu kata-kata eyang yang selalu aku ingat, yaitu untuk selalu berdoa, puasa, beribadah dan mengenal TUHAN lebih dekat selagi kita hidup. Eyang juga menconto hkan dengan selalu punya waktu untuk berdoa dengan Tuhan secara pribadi dan beliau bisa semalam malamam berdoa dalam hening dan kesendiriannya.
Mama pindah ke Magelang seiring dengan berpindahnya pemerintahan RI pada saat itu ke Jogjakarta dan Eyang kakung sebagai salah satu penjabat saat itu harus ikut pindah juga dan kebetulan kementrian Kemakmuran/Perindustrian tempat Eyang bekerja saat itu kantornya malah dibuka di Magelang. Disinilah Eyang tinggal sampai wafatnya dan Eytang sempat diminta menjadi wakil ketua Lembaga Pasteur Industri yang juga dipindahkan dari Bandung ke Klaten. Eyang selain itu juga sempat mendirikan STMA yang merupakan sekolah milik kementrian kemakmuran/perindutrian di Jogjakarta. 

Mama yang lahir sebagai anak penjabat tidak harus kehilangan semangat dan sukacitanya ketika Eyang Kakung meninggalkan  dunia di tahun 1949 atau ketika Mama masih berumur 6 tahun.  Mama tumbuh besar sebagai anak yatim yang dibesarkan oleh ibu tunggal dengan 7 anak tetapi tetap tidak membuat dia minder bahkan keaktifannya di banyak organisasi membuktikan kepercayaan diri dan leadership beliau.

Mama kecil sangat aktif di Kepanduan dan ini terlihat dengan akrabnya pertemanan dengan teman PANDU dijaman dia,  mereka sebagai sesama anggota Pandu  sangat dekat sampai mereka tua tua. Mereka sesama anggota Pandu Maegelang masih sering berkumpul dan reuni sambil memotivasi kami yang muda muda untuk berteman dan menjaga tali persahabatan sampai tua seperti mereka.
Mama juga salah satu kembangnya Magelang di masa muda nya itu ini bisa terlihat dengan banyak teman Papa di AMN  atau bahkan kakak kelas Papa yang tanpa malu menggoda Mama kenapa dulu memilih Papa dan bukan memilih mereka. Candaan –candaan akrab yang menunjukan cinta sejati tidak harus memiliki dan bisa terus saling mendukung.  Hubungan Papa dan teman-teman di AMN juga sangat kompak dan sangat menginspirasi kami anak anaknya akan enaknya punya banyak kawan baik yang saling mendukung.

Mama dan kakak Mama selalu menceritakan pengalaman masa kecil Mama yang walau perempuan bersama adik adiknya yang  juga perempuan suka sekali  memanjat pohon di halaman rumah eyang dan bahkan di jalan. Mama juga sering jalan ke adik eyang yang di Cilacap naik kereta api sendirian atau sekedar ke Jogja. Mama dan adik-adiknya juga gemar mandi di kali samping rumah sampai kakak laki-lakinya mengajak jalan menyusuri sungai itu ke arah hulu dan melihat kalau sunagi itu melewati rumah sakit jiwa Magelang yang cukup besar. Mama dan adik adik perempuannya yang melihat itu langsung jijik dan tidak mau lagi mandi di kali samping rumah eyang.  Tetapi naik pohon, godain/isengin teman dan kenakalan kecil lainnya tetap Mama dan kedua adik perempuannya lakukan dan seolah itu adalah bumbu manis setiap cara reuni keluarga.
Kalau mau tahu lebih detil tentang Papanya Mamaku silahkan baca saja disini : http://sukarnen.blogspot.co.id/2013/10/eyang-soekarnen-kertoredjo-eyang-kami.html

Mama dan Papa
Mama kami rasakan punya leadership (bahasa lain lebih dominan) dalam pergaulan dan seolah selalu jadi pemimpin dimanapun beliau masuk organisasi. Sementara Papa walau dari AMN dan Tentara tetapi beliau lebih proletar dan merakyat dalam bergaul. Kombinasi yang unik dalam rumah tangga yang membuat mereka berdua saling melengkapi dan mendukung. Dominannya Mama di luar rumah juga sampai ke dalam rumah dan buat kami anak anaknya maka Mama adalah leader sesungguhnya di rumah, dan mungkin ini yang kadang buat Papa kesal.  Kami tahu itu tetapi kami tahu juga Papa sangat mengasihi Mama dan hatinya tidak pernah bisa berpaling. Mama dan Papa dalam pasng surut hubungan suami istri adalah lambang cinta sejati yang seolah tidak bisa dipisahkan bahkan oleh maut sekalipun.

Mama dan Papa membesarkan kami dengan penuh kasih dan kalau mau tahu tentang Papaku bisa lihat di blog ini http://sonydanang.blogspot.co.id/2013/09/Papaku-sahabataku-teman-diskusikui-miss.html. Sekarang kita fokus bahas tentang Mamaku pahlawan dalam hidupku ini. Kalau Papa banyak menemaniku aku bermain maka Mama banyak memberikan dan menanamkan filosofi hidup dalam kehidupanku dan adik adikku.

Mama dan Papa seolah kompak berbagi peran dalam membesarkan kami. Papa yang sering haus bertugas keluar kota maka Mama di rumah sudah cukup buat kami anak-anaknya. Memang ada masa kami harus berpisah agak lama dengan mereka berdua saat Papa harus menempun pendidikann lanjutan di Bandung maka kami sempat ikut Eyang di Magelang dan kemudian Embah di Solo. Ini seolah kembali menegaskan Mama dan Papa mau keadilan dan kami mengalami kebersamaan bersama orang tua dari Mama dan Papa.  Kami bertiga tidak boleh membanding-bandingkan antara ikut eyang atau embah, semua harus dirasa sama dan mendapat perlakukan yang sama dari kami serta mengalami kebersamaan yang sama.

Mama dan Papa memang selalu menanamkan keadilan dan persamaan serta tidak ingin kita mengasihi dengan memandang muka. Mereka mengajarkan bukan hanya dengan kata-kata tetapi dengan melakukannya.

Mama pernah beberapa kali marah besar sama Papa tetapi kasih Mama pada Papa tidak akan pernah luntur dan kemarahan hanya bukti kecintaan Mama yang besar. Ini juga menjadi pelajaran buat kami anak anaknya di perjalanan pernikahan kami masing-masing. Seberapapun besarnya hambatan dan halangan yang ada di depan kami, kami harus yakin kasih TUHAN lebih besar buat hidup kami. Kasih TUHAN itu harusnya memampukan kami me ngampuni dan mengasihi pasangan kami. Terimakasih Mama untuk filosofi pernikahan yang Mama sudah contohkan.

Mama dan perjalanan imannya
Mama menerimal TUHAN Yesus pertama kali waktu aku masih kelas lima SD dan semenjak itu aku dan adik-adik menjadi sering ke Gereja dan mengikuti sekolah minggu. Mama belajar Alkitab dengan rajin dan meminta kami anak-anaknya juga rajin membaca Alkitab juga. Mama malah mewajibkan aku untuk membaca Alkitab dari kejadian sampai wahyu sekali dalam setahun dan itu aku lakukan sampai aku SMP.

Iman memasng tidak bisa dipaksakan walau aku diminta ke gereja dan membaca Alkitab tetapi imanku tumbuh dari pengenalan dan pertemuan dengan TUHAN secara pribadi. Sebelum mengalami perjumpaan maka semua permintaan Mama seolah hanya kewajiban dan beban dalam hidupku. Tetapi aku yang malas-malasan ke Gereja tetap diminta Mama ke gereja dan beliau akan mafrah kalau aku tidak ke gereja.

Aku masih ingat ketika ada teman sekolah yang juga tetangga mengajak aku ke persekutuan taruna dan aku malas dan tidak mau datang, Maka Mama yang terus menasehati aku untuk  ikut ajakan temanku itu. Mama memang tidak pern ah capai meminta kami anak-anaknya untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan.

Ketika aku mulai aktif di persekutuan Taruna dan kemudian Pemuda maka Mama selalu menemani aku ke rumah teman-temannya jika aku mendapat tugas mencari dana buat kegiatan Gereja. Kami bisa melakukan penjualan makanan, buku kristen, kalender atau cara lainnya maka Mama tanpa ragu menemani saya. Its real my motivator and best freind, tanpa dia mungkin saya akan malas melakukannya apalagi di masa itu sedikit sekali anak muda yang mau aktif di Gereja. Kesungguhan Mama mendukung pelayanan aku membuat banyak teman remaja dan pemuda juga menganggap Mama sebagai ibu mereka dan tanpa terasa persekutuan menjadi menarik banyak minat anak muda dan semakin didukung orang tua......thanks Ma

Masa-masa Mama mendampingi Papa yang sakit
Potensi Papa sakit mungkin harusnya kita sudah tahu dari lama. Papa yang tidak bisa menjaga  pola makan dan mungkin juga potensi sakit karena beliau sempat harus tiga bulan di tengah hutan. Perjalanan karir sebagai militer dan selalu latihan dan kurang minum mungkin membuat Ginjal Papa tidak kuat dan makin lama makin lemah. Kami sudah tahu lama tetapi memang susah buat Papa merubah pola makan dan budaya nya yang senang olahraga.

Akhirnya Papa harus menyerah juga dengan kondisi sakitnya dan bisa menerima jika harus cuci darah.  Keberadaan Mama di saat-saat pertama Papa yang hampir tidak pernah masuk RS apalagi sampai harus disuntik membuat Papa bisa tegar menjalaninya. Mama yang selalu ada di samping beliau dan seingat saya selama empat tahun Papa menjalani Cuci  Darah tidak sekalipun Mama tidak menemani Papa.  Dua kali seminggu selama empat tahun atau sekitar 200 kali cuci darah, bukan perkara mudah dan butuh KASIH yang besar. 

Dua tahun pertama Papa cuci darah di siang hari dan di hari Senin Kamis. Biasa Papa dan Mama pergi memakai taxi dan saya akan jemput mereka sepulang dari Kantor. Kebersamaan kami bertiga selama dua tahun awal ini begitu menyenangkan tetapi memang cuci darah di siang hari itu melelahkan karena Papa harus jalan dari rumah jam 9 pagi dan baru kembali ke rumah jam 9 malam melihat macetnya jalan Jakarta.  Melihat banyaknya waktu yang dihabiskan maka ketika ada kesempatan Papa dan Mama merubah jam cuci darahnya menjadi setiap pagi hari dan tetap Senin kamis. Berpindah ke pagi hari membuat waktu Papa di jalan lebih sedikit karena beliau cukup jalan jam 5 dan jam 1 siang sudah ada di rumah lagi. Tetapi apapun pilihan hari dan jamnya tetap saja bukan perkara mudah buat seorang Istri menemani.

Menemani  Papa cuci darah seminggu dua kali dan kelemahan Papa dalam menjalankan sisa hari bukanlah perkara yang mudah. Mama seolah terangkat dari akarnya , dari semua aktifitas sosialnya, dari semua teman-teman serta sahabatnya. Buat Mama seolah dunianya berubah hanya ada Papa dan menemani Papa yang sakit. Tidak ada figur lain dan prioritas lain dalam hidup Mama selain menemani Papa yang sakit. Hebatnya Mama melakukan ini dengan sukacita dan tanpa pernah mengeluh sama sekali. Adik adik Mama sering mengajak Mama jalan-jalan ke mall untuk melepas penat Mama dan sekaligus menjaga keakraban diantara mereka.

Selama empat tahun Papa cuci darah tidak terhitung berapa kali Papa harus dirawat di RS untuk aneka penyakit yang datang seiring melemahnya kondisi badannya.  Pada saat itu kembali Papa hanya mau ditemani Mama dan Mama hampir selalu ada buat Papa. Mama dengan kasihnya pasti begitu menginspirasi banyak istri istri yang ada termasuk istri kami...

Mama tanpa Papa
Jumat pagi itu saya sedang menunggu anak saya di RS bersama istri saya. Grace anak ku memang sedang kena DB dan harus dirawat ketika HP ku berdering dan Mama dengan tabah mengabarkan kalau Papa sudah tidak ada. Aku telp adik-adiku dan kami semua  meluncur ke RSPAD tempat jenasah Papa . Kita melihat Mama yang tegar ketika  melepas kepergian Papa. Mama yang sudah  setia menemani Papa selama empat tahun sakitnya.

Di pikiran kami anak-anaknya kepergian Papa yang sakit dan sudah memakan waktu dan semua perhatian, emosi, perasan dll dari Mama. Pastilah Mama akan punya banyak wakgtu buat anak dan cucunya serta kegiatan pribadinya. Mama akan aktif lagi dengan seabrek kegiatan sosialnya untuk melupakan kesedihan karena kehilangan Papa....ITU SEMUA TERNYATA HANYA PIKIRAN KAMI SAJA

Seperginya Papa kami melihat Mama yang berbeda , Mama yang kehilangan konsentrasinya, Mama yang kehilangan semangat  dan lebih banyak dirumah.  Mama juga beberapa kali harus masuk ke RS karena Ritme Jantungnya yang terganggu.  Mama betul betul kehilangan separuh jiwanya dan bahkan separuh nafasnya ketika Papa meninggal.

Kami anak-anaknya  memang tidak bisa menggantikan Papa di hati Mama. Cinta sejati Mama sudah pergi dan Mama kehilangan sekali. Adik-adiknya yang sering datang dan mengajak Mama jalan-jalan juga tidak bisa mengembalikan keceriaan Mama. 

Mama tetapi bukan tidak menerima kepergian Papa. Mama juga bukan mengurung diri, tetapi yang kami lihat hanya Mama  seperti  ada yang kurang. Bagaimanapun kebersamaan dengan Papa  yang sudah hampir 50 tahun pasti lah meninggalkan bekas ketika beliau meninggalkan Mama. Yach Mama kehilangan cinta sejatinya .

Mama dan Sakitnya
Sakit Jantung Mama memang sudah kita sama-sama ketahui semenjak Mama muda dan mungkin ini penyakit turunan di keluarga Mama. Hanya selama  Papa hidup aku Cuma melihat satu kali Mama masuk RS karena sakit jantungnya.  Mama seolah jadi pribadi yang kuat. Tetapi memang Lutut Mama mengalami cidera ketika beliau hafrus mengangkat Papa yang jatuh . Cedera lutut yang membuat Mama kehilangan kesukacitaan berolahraga pagi dengan teman-temannya. 
 ‘
Cedera  lutut diikuti kesempatan Mama berolahraga yang semakin kecil ditambah penyakit jantung bawaan mungkin membuat kondisi Mama semakin lemah. Hingga satu hari Mama harus masuk ICU karena ritme jantungnya berubah.

Sekeluarnya Mama dari RS mungkin Mama merasa sanget kangen sama teman-temannya dan beliau ingin bertemu dengan teman-temannya di depan rumah. Pertemuan dengan teman-temannya Mama ternyata adalah pertemuan terakhir Mama dalam kondisi sehat karena saat akan duduk bersama teman-temannya Mama mengalami disfungsi pangkal paha yang menyebabkan beliau tidak bisa bergerak sama sekali. Mama yang kesakitan kita bawa ke RS memakai ambuilans dan ternyata dokter meminta beliau untuk dioperasi untuk memulihkan cedera pangkal pahanhya.

Operasi pangkal paha sebetulnya bukanlah operasi yang membahayakan tubuh, apalagi Mama ditangani dokter tulang jago yang juga anak adik Mama.  Operasi yang seharusnya mudah ternyata berubah menjadi pintu ditemukannya penyakit Mama yang lebih berat yaitu kangker usus besar.  Mama yang setelah operasi pangkal paha malah mengalami pendarahan berat yang hafrusnya tidak mungkin terjadi, ternyata hal ini dikarenakan adanya tumor/kangker besar di usus besar Mama.
Yach tumor/kangker di usus besar Mama berhasil diangkat tetapi Mama tidak kuat lagi menjali hidup ini. Jantung Mama terlalu lemah dan beliau akhirnya menyusul Papa belahan jiwanya menghadap Bapa yang kudus yang memiliki hidup kita.

Satu hal yang selalu saya ingat di akhir akhir hidup Mama, ketika pendarahan terus terjadi.  Ketika banyak Pendeta, Teman Pelayan, Saudara datang menengok Mama dan mengajak berdoa maka Mama sering ikutan berdoa dan selalu mengatakan biarlah kehendak TUHAN yang terjadid an bukan kehendak kita. Mama selalu bilang TUHAN pasti berikan yang terbaik dan mungkin kesembuhan bukan yang tebaik. Kami selalu ingatkan Mama untuk percaya kuasa kesembuhan, tetapi Mama juga ingatkan kita kalau kuasa dan kasih TUHAN tetap ada walau tanpa ada kesembuhan. Yach Mama memang sedang menyiapkan kami anak-anaknya untuk siap menerima kehendak TUHAN apapun itu.

Selamat jalan Mamaku sayang....selamat bertemu dengan kekasih jiwamu....belahan hatimu....separuh nafasmu.... We miss you Mam.....TUHAN sayang Mama












No comments: