Waktu Papa meninggal rasanya tidak terlalu lama waktu yang
aku butuhkan buat menulis biographynya. Tapi buat Mama aku perlu hampir dua
tahun buat hanya memulainya. Rasanya kehilangan Mama seperti kehilangan separuh
nyawaku. Mama memang selalu ada di samping kami anak-anaknya ketika kami
membutuhkan. Mama memang sangat aktif di banyak kegiatan sosial dan itu
terkadang membuat keberadaan beliau secara fisik tidak ada tetapi beliau selalu
ada ketika kami membutuhkan.
Mamaku memang milik orang banyak, milik keluarga besar dan
bukan hanya milik kami. Tetapi bukankah hidup kita sebagai manusia pada
hakekatnya adalah itu. Kita sudah berhenti hidup ketika hanya orang sekitar
kita saja yang merasakan manfaat dari hidup kita.
Mama yang begitu banyak kegiatannya rela untuk stop dan
fokus hanya untuk menjaga dan menemani Papa di saat-saat beliau harus cuci
darah setiap minggu dua kali. Mama rela mencurahkan seluruh perhatiannya buat Papa
yang mendadak kehilangan kekuatannya dan menjadi sangat bergantun dengan Mama.
Empat tahun bukan waktu yang sebentar buat Mama menemani Papa dan mereka
habiskan hari-hari berdua. Rumah-Rumah Sakit adalah menu harian dan Papa hampir
tidak kuatr berjalan kemana-mana, cuci darah menguras semua tenaga Papa dan Mama
adalah satu satunya penyemangat dan teman Papa di saat saat terakhir.
Kalaupun Mama akhirnya menyusul Papa dalam waktu yang tidak
terlalu lama, hanya sekitar 500 hari Papa dan Mama terpisah. Maka itu kembali
membuktikan cinta Mama pada Papa yang besar dan kehilangan Mama yang besar akan
kepergian belahan jiwanya.
Masa kecil Mama
Mama lahir sebagai anak kelima dan anak kembar dokter dan peneliti
senior di lembaga Eijkman Institute Salemba dan tinggal di jalan Cimahi Menteng
Jakarta. Mama lahir tanggal 12 Oktober tahun 1943 di jakarta . Waktu Eyang
diangkat jadi wakil kepala lembaga Pasteur Bandung maka Mama ikut pindah juga
ke Bandung. Di Bandung juga kembaran Mama meninggal karena sakit di saat masih
kecil dan membuat Eyang kehilangan putrij tercintanya. Tetapi tidak lama
kesedihan itu berlalu dengan lahirnya adik bungsu Mama yang berwajah mirip Mama
dan kembarannya almarhum. Seolah ini pengganti kembaran Mama buat keluarga
eyang dari Tuhan yang mengasihi keluarga ini.
Eyang kakung yang berasal dari keluarga kyai jawa dan Eyang putri yang berasal dari keluarga
kesultanan Jogja, seolah menjadi paduan keluarga yang berhasil mendidik Mama
bertumbuh dalam karakter yang penuih kasih dan perhatian buat sesama. Mama rela
berkorban apa saja demi sesama dan ini pas sekali juga dengan karakter Papa
yang juga sangat sosialis. Mungkin persamaan sifat ini yang mempertemukan
mereka, walau Papa lebih extreme dalam menghasihi orang lain dan rela
kehilangan atau dalam istilah populer memberi sampai sakit. Maka di saat
seperti itu Mama yang akan jadi pengingatnya bahwa Papa juga punya anak istri.
Mama tumbuh dalam keluarga yang sangat akrab dan saling
mendukung satu sama lain, kekompakan dan keakraban sebagai satu keluarga
terlihat dengan jelas di saat saat Perayaan Lebaran dan Natal dimana semua
keluarga selalu datang dan berkumpul. Yach memang keluarga besar Mama
berbeda-beda agamanya tetapi semua taat dengan agama yang mereka pilih. Eyang
memang sangat demokratis dan lebih mementinghkan KETAATAN daripada agama
formal. Itu kata-kata eyang yang selalu aku ingat, yaitu untuk selalu berdoa,
puasa, beribadah dan mengenal TUHAN lebih dekat selagi kita hidup. Eyang juga
menconto hkan dengan selalu punya waktu untuk berdoa dengan Tuhan secara
pribadi dan beliau bisa semalam malamam berdoa dalam hening dan kesendiriannya.
Mama pindah ke Magelang seiring dengan berpindahnya
pemerintahan RI pada saat itu ke Jogjakarta dan Eyang kakung sebagai salah satu
penjabat saat itu harus ikut pindah juga dan kebetulan kementrian Kemakmuran/Perindustrian
tempat Eyang bekerja saat itu kantornya malah dibuka di Magelang. Disinilah
Eyang tinggal sampai wafatnya dan Eytang sempat diminta menjadi wakil ketua
Lembaga Pasteur Industri yang juga dipindahkan dari Bandung ke Klaten. Eyang
selain itu juga sempat mendirikan STMA yang merupakan sekolah milik kementrian
kemakmuran/perindutrian di Jogjakarta.
Mama yang lahir sebagai anak penjabat tidak harus kehilangan
semangat dan sukacitanya ketika Eyang Kakung meninggalkan dunia di tahun 1949 atau ketika Mama masih
berumur 6 tahun. Mama tumbuh besar
sebagai anak yatim yang dibesarkan oleh ibu tunggal dengan 7 anak tetapi tetap
tidak membuat dia minder bahkan keaktifannya di banyak organisasi membuktikan
kepercayaan diri dan leadership beliau.
Mama kecil sangat aktif di Kepanduan dan ini terlihat dengan
akrabnya pertemanan dengan teman PANDU dijaman dia, mereka sebagai sesama anggota Pandu sangat dekat sampai mereka tua tua. Mereka sesama
anggota Pandu Maegelang masih sering berkumpul dan reuni sambil memotivasi kami
yang muda muda untuk berteman dan menjaga tali persahabatan sampai tua seperti
mereka.
Mama juga salah satu kembangnya Magelang di masa muda nya
itu ini bisa terlihat dengan banyak teman Papa di AMN atau bahkan kakak kelas Papa yang tanpa malu
menggoda Mama kenapa dulu memilih Papa dan bukan memilih mereka. Candaan –candaan
akrab yang menunjukan cinta sejati tidak harus memiliki dan bisa terus saling
mendukung. Hubungan Papa dan teman-teman
di AMN juga sangat kompak dan sangat menginspirasi kami anak anaknya akan
enaknya punya banyak kawan baik yang saling mendukung.
Mama dan kakak Mama selalu menceritakan pengalaman masa
kecil Mama yang walau perempuan bersama adik adiknya yang juga perempuan suka sekali memanjat pohon di halaman rumah eyang dan
bahkan di jalan. Mama juga sering jalan ke adik eyang yang di Cilacap naik
kereta api sendirian atau sekedar ke Jogja. Mama dan adik-adiknya juga gemar
mandi di kali samping rumah sampai kakak laki-lakinya mengajak jalan menyusuri
sungai itu ke arah hulu dan melihat kalau sunagi itu melewati rumah sakit jiwa
Magelang yang cukup besar. Mama dan adik adik perempuannya yang melihat itu langsung
jijik dan tidak mau lagi mandi di kali samping rumah eyang. Tetapi naik pohon, godain/isengin teman dan
kenakalan kecil lainnya tetap Mama dan kedua adik perempuannya lakukan dan
seolah itu adalah bumbu manis setiap cara reuni keluarga.
Kalau mau tahu lebih detil tentang Papanya Mamaku silahkan
baca saja disini : http://sukarnen.blogspot.co.id/2013/10/eyang-soekarnen-kertoredjo-eyang-kami.html
Mama dan Papa
Mama kami rasakan punya leadership (bahasa lain lebih
dominan) dalam pergaulan dan seolah selalu jadi pemimpin dimanapun beliau masuk
organisasi. Sementara Papa walau dari AMN dan Tentara tetapi beliau lebih
proletar dan merakyat dalam bergaul. Kombinasi yang unik dalam rumah tangga
yang membuat mereka berdua saling melengkapi dan mendukung. Dominannya Mama di
luar rumah juga sampai ke dalam rumah dan buat kami anak anaknya maka Mama
adalah leader sesungguhnya di rumah, dan mungkin ini yang kadang buat Papa
kesal. Kami tahu itu tetapi kami tahu
juga Papa sangat mengasihi Mama dan hatinya tidak pernah bisa berpaling. Mama
dan Papa dalam pasng surut hubungan suami istri adalah lambang cinta sejati
yang seolah tidak bisa dipisahkan bahkan oleh maut sekalipun.
Mama dan Papa membesarkan kami dengan penuh kasih dan kalau
mau tahu tentang Papaku bisa lihat di blog ini http://sonydanang.blogspot.co.id/2013/09/Papaku-sahabataku-teman-diskusikui-miss.html.
Sekarang kita fokus bahas tentang Mamaku pahlawan dalam hidupku ini. Kalau Papa
banyak menemaniku aku bermain maka Mama banyak memberikan dan menanamkan
filosofi hidup dalam kehidupanku dan adik adikku.
Mama dan Papa seolah kompak berbagi peran dalam membesarkan
kami. Papa yang sering haus bertugas keluar kota maka Mama di rumah sudah cukup
buat kami anak-anaknya. Memang ada masa kami harus berpisah agak lama dengan
mereka berdua saat Papa harus menempun pendidikann lanjutan di Bandung maka
kami sempat ikut Eyang di Magelang dan kemudian Embah di Solo. Ini seolah
kembali menegaskan Mama dan Papa mau keadilan dan kami mengalami kebersamaan
bersama orang tua dari Mama dan Papa.
Kami bertiga tidak boleh membanding-bandingkan antara ikut eyang atau
embah, semua harus dirasa sama dan mendapat perlakukan yang sama dari kami
serta mengalami kebersamaan yang sama.
Mama dan Papa memang selalu menanamkan keadilan dan
persamaan serta tidak ingin kita mengasihi dengan memandang muka. Mereka
mengajarkan bukan hanya dengan kata-kata tetapi dengan melakukannya.
Mama pernah beberapa kali marah besar sama Papa tetapi kasih
Mama pada Papa tidak akan pernah luntur dan kemarahan hanya bukti kecintaan Mama
yang besar. Ini juga menjadi pelajaran buat kami anak anaknya di perjalanan
pernikahan kami masing-masing. Seberapapun besarnya hambatan dan halangan yang
ada di depan kami, kami harus yakin kasih TUHAN lebih besar buat hidup kami.
Kasih TUHAN itu harusnya memampukan kami me ngampuni dan mengasihi pasangan
kami. Terimakasih Mama untuk filosofi pernikahan yang Mama sudah contohkan.
Mama dan perjalanan imannya
Mama menerimal TUHAN Yesus pertama kali waktu aku masih
kelas lima SD dan semenjak itu aku dan adik-adik menjadi sering ke Gereja dan
mengikuti sekolah minggu. Mama belajar Alkitab dengan rajin dan meminta kami
anak-anaknya juga rajin membaca Alkitab juga. Mama malah mewajibkan aku untuk
membaca Alkitab dari kejadian sampai wahyu sekali dalam setahun dan itu aku
lakukan sampai aku SMP.
Iman memasng tidak bisa dipaksakan walau aku diminta ke
gereja dan membaca Alkitab tetapi imanku tumbuh dari pengenalan dan pertemuan
dengan TUHAN secara pribadi. Sebelum mengalami perjumpaan maka semua permintaan
Mama seolah hanya kewajiban dan beban dalam hidupku. Tetapi aku yang
malas-malasan ke Gereja tetap diminta Mama ke gereja dan beliau akan mafrah
kalau aku tidak ke gereja.
Aku masih ingat ketika ada teman sekolah yang juga tetangga
mengajak aku ke persekutuan taruna dan aku malas dan tidak mau datang, Maka Mama
yang terus menasehati aku untuk ikut
ajakan temanku itu. Mama memang tidak pern ah capai meminta kami anak-anaknya
untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan.
Ketika aku mulai aktif di persekutuan Taruna dan kemudian
Pemuda maka Mama selalu menemani aku ke rumah teman-temannya jika aku mendapat
tugas mencari dana buat kegiatan Gereja. Kami bisa melakukan penjualan makanan,
buku kristen, kalender atau cara lainnya maka Mama tanpa ragu menemani saya.
Its real my motivator and best freind, tanpa dia mungkin saya akan malas
melakukannya apalagi di masa itu sedikit sekali anak muda yang mau aktif di
Gereja. Kesungguhan Mama mendukung pelayanan aku membuat banyak teman remaja
dan pemuda juga menganggap Mama sebagai ibu mereka dan tanpa terasa persekutuan
menjadi menarik banyak minat anak muda dan semakin didukung orang
tua......thanks Ma
Masa-masa Mama mendampingi Papa yang
sakit
Potensi Papa sakit mungkin harusnya kita sudah tahu dari
lama. Papa yang tidak bisa menjaga pola
makan dan mungkin juga potensi sakit karena beliau sempat harus tiga bulan di
tengah hutan. Perjalanan karir sebagai militer dan selalu latihan dan kurang
minum mungkin membuat Ginjal Papa tidak kuat dan makin lama makin lemah. Kami sudah
tahu lama tetapi memang susah buat Papa merubah pola makan dan budaya nya yang
senang olahraga.
Akhirnya Papa harus menyerah juga dengan kondisi sakitnya
dan bisa menerima jika harus cuci darah.
Keberadaan Mama di saat-saat pertama Papa yang hampir tidak pernah masuk
RS apalagi sampai harus disuntik membuat Papa bisa tegar menjalaninya. Mama
yang selalu ada di samping beliau dan seingat saya selama empat tahun Papa
menjalani Cuci Darah tidak sekalipun Mama
tidak menemani Papa. Dua kali seminggu
selama empat tahun atau sekitar 200 kali cuci darah, bukan perkara mudah dan
butuh KASIH yang besar.
Dua tahun pertama Papa cuci darah di siang hari dan di hari
Senin Kamis. Biasa Papa dan Mama pergi memakai taxi dan saya akan jemput mereka
sepulang dari Kantor. Kebersamaan kami bertiga selama dua tahun awal ini begitu
menyenangkan tetapi memang cuci darah di siang hari itu melelahkan karena Papa
harus jalan dari rumah jam 9 pagi dan baru kembali ke rumah jam 9 malam melihat
macetnya jalan Jakarta. Melihat
banyaknya waktu yang dihabiskan maka ketika ada kesempatan Papa dan Mama
merubah jam cuci darahnya menjadi setiap pagi hari dan tetap Senin kamis.
Berpindah ke pagi hari membuat waktu Papa di jalan lebih sedikit karena beliau
cukup jalan jam 5 dan jam 1 siang sudah ada di rumah lagi. Tetapi apapun
pilihan hari dan jamnya tetap saja bukan perkara mudah buat seorang Istri
menemani.
Menemani Papa cuci
darah seminggu dua kali dan kelemahan Papa dalam menjalankan sisa hari bukanlah
perkara yang mudah. Mama seolah terangkat dari akarnya , dari semua aktifitas
sosialnya, dari semua teman-teman serta sahabatnya. Buat Mama seolah dunianya
berubah hanya ada Papa dan menemani Papa yang sakit. Tidak ada figur lain dan
prioritas lain dalam hidup Mama selain menemani Papa yang sakit. Hebatnya Mama
melakukan ini dengan sukacita dan tanpa pernah mengeluh sama sekali. Adik adik Mama
sering mengajak Mama jalan-jalan ke mall untuk melepas penat Mama dan sekaligus
menjaga keakraban diantara mereka.
Selama empat tahun Papa cuci darah tidak terhitung berapa
kali Papa harus dirawat di RS untuk aneka penyakit yang datang seiring
melemahnya kondisi badannya. Pada saat
itu kembali Papa hanya mau ditemani Mama dan Mama hampir selalu ada buat Papa. Mama
dengan kasihnya pasti begitu menginspirasi banyak istri istri yang ada termasuk
istri kami...
Mama tanpa Papa
Jumat pagi itu saya sedang menunggu anak saya di RS bersama
istri saya. Grace anak ku memang sedang kena DB dan harus dirawat ketika HP ku
berdering dan Mama dengan tabah mengabarkan kalau Papa sudah tidak ada. Aku
telp adik-adiku dan kami semua meluncur
ke RSPAD tempat jenasah Papa . Kita melihat Mama yang tegar ketika melepas kepergian Papa. Mama yang sudah setia menemani Papa selama empat tahun
sakitnya.
Di pikiran kami anak-anaknya kepergian Papa yang sakit dan
sudah memakan waktu dan semua perhatian, emosi, perasan dll dari Mama. Pastilah
Mama akan punya banyak wakgtu buat anak dan cucunya serta kegiatan pribadinya. Mama
akan aktif lagi dengan seabrek kegiatan sosialnya untuk melupakan kesedihan
karena kehilangan Papa....ITU SEMUA TERNYATA HANYA PIKIRAN KAMI SAJA
Seperginya Papa kami melihat Mama yang berbeda , Mama yang
kehilangan konsentrasinya, Mama yang kehilangan semangat dan lebih banyak dirumah. Mama juga beberapa kali harus masuk ke RS
karena Ritme Jantungnya yang terganggu. Mama
betul betul kehilangan separuh jiwanya dan bahkan separuh nafasnya ketika Papa
meninggal.
Kami anak-anaknya
memang tidak bisa menggantikan Papa di hati Mama. Cinta sejati Mama
sudah pergi dan Mama kehilangan sekali. Adik-adiknya yang sering datang dan
mengajak Mama jalan-jalan juga tidak bisa mengembalikan keceriaan Mama.
Mama tetapi bukan tidak menerima kepergian Papa. Mama juga bukan
mengurung diri, tetapi yang kami lihat hanya Mama seperti ada yang kurang. Bagaimanapun kebersamaan
dengan Papa yang sudah hampir 50 tahun
pasti lah meninggalkan bekas ketika beliau meninggalkan Mama. Yach Mama
kehilangan cinta sejatinya .
Mama dan Sakitnya
Sakit Jantung Mama memang sudah kita sama-sama ketahui
semenjak Mama muda dan mungkin ini penyakit turunan di keluarga Mama. Hanya
selama Papa hidup aku Cuma melihat satu
kali Mama masuk RS karena sakit jantungnya. Mama seolah jadi pribadi yang kuat. Tetapi memang
Lutut Mama mengalami cidera ketika beliau hafrus mengangkat Papa yang jatuh . Cedera
lutut yang membuat Mama kehilangan kesukacitaan berolahraga pagi dengan
teman-temannya.
‘
Cedera lutut diikuti
kesempatan Mama berolahraga yang semakin kecil ditambah penyakit jantung bawaan
mungkin membuat kondisi Mama semakin lemah. Hingga satu hari Mama harus masuk
ICU karena ritme jantungnya berubah.
Sekeluarnya Mama dari RS mungkin Mama merasa sanget kangen
sama teman-temannya dan beliau ingin bertemu dengan teman-temannya di depan
rumah. Pertemuan dengan teman-temannya Mama ternyata adalah pertemuan terakhir Mama
dalam kondisi sehat karena saat akan duduk bersama teman-temannya Mama
mengalami disfungsi pangkal paha yang menyebabkan beliau tidak bisa bergerak
sama sekali. Mama yang kesakitan kita bawa ke RS memakai ambuilans dan ternyata
dokter meminta beliau untuk dioperasi untuk memulihkan cedera pangkal pahanhya.
Operasi pangkal paha sebetulnya bukanlah operasi yang membahayakan
tubuh, apalagi Mama ditangani dokter tulang jago yang juga anak adik Mama. Operasi yang seharusnya mudah ternyata berubah
menjadi pintu ditemukannya penyakit Mama yang lebih berat yaitu kangker usus
besar. Mama yang setelah operasi pangkal
paha malah mengalami pendarahan berat yang hafrusnya tidak mungkin terjadi,
ternyata hal ini dikarenakan adanya tumor/kangker besar di usus besar Mama.
Yach tumor/kangker di usus besar Mama berhasil diangkat
tetapi Mama tidak kuat lagi menjali hidup ini. Jantung Mama terlalu lemah dan
beliau akhirnya menyusul Papa belahan jiwanya menghadap Bapa yang kudus yang
memiliki hidup kita.
Satu hal yang selalu saya ingat di akhir akhir hidup Mama,
ketika pendarahan terus terjadi. Ketika
banyak Pendeta, Teman Pelayan, Saudara datang menengok Mama dan mengajak berdoa
maka Mama sering ikutan berdoa dan selalu mengatakan biarlah kehendak TUHAN
yang terjadid an bukan kehendak kita. Mama selalu bilang TUHAN pasti berikan
yang terbaik dan mungkin kesembuhan bukan yang tebaik. Kami selalu ingatkan
Mama untuk percaya kuasa kesembuhan, tetapi Mama juga ingatkan kita kalau kuasa
dan kasih TUHAN tetap ada walau tanpa ada kesembuhan. Yach Mama memang sedang
menyiapkan kami anak-anaknya untuk siap menerima kehendak TUHAN apapun itu.
Selamat jalan Mamaku sayang....selamat bertemu dengan
kekasih jiwamu....belahan hatimu....separuh nafasmu.... We miss you Mam.....TUHAN
sayang Mama