Saat ini dunia sedang sibuk dan disibukkan dengan berbagai issue Terorisme yang sudah menelan banyak sekali korban yang tidak bersalah dan bahkan mayoritas korbannya adalah orang yang tidak mau tahu sama sekali masalah politik di dunia ini. Terorisme sudah menjadi kejadian yang menakutkan dan setiap saat bisa merenggut nyawa seseorang tanpa pandang bulu. Dunia saat ini sibuk mendiskusikan dan menyelesaikan masalah yang satu ini bahkan semua pertemuan tingkat tinggi dari organisasi dunia yang bertujuan utama di bidang ekonomi merubah topik pembicaraannya ke bidang yang satu ini (Terorisme) kita bisa liat contohnya di pertemuan APEC, ASEAN dll.
Dunia yang penuh ketakutan pastilah bukan cita-cita kita bersama dan juga tidak pernah diajarkan oleh agama apapun juga di muka bumi ini. Dunia yang tidak aman dan penuh dengan bahaya pastilah juga mengganggu kehidupan keseharian kita karena kita yang berpikiran normal, pastilah tidak mau jika setiap hari kita selalu dihantui masalah keamanan anak, istri atau bahkan kita sendiri, suatu masalah yang wajar dipikirkan oleh semua pemimpin dunia yang concent dengan keselamatan warganya dan kesinambungan negaranya. Bayangkan saja bagaimana suatu negara bisa meningkatkan ekonomi negara itu jika produktifitas warganya menurun karena tidak adanya rasa aman ?
Jadi saya rasa kita juga harus serius memikirkan masalah ini dan menyelesaikannya. Ingat masalah ini tidak hanya masalah pemerintah, Badan Intelejent Negara, Aparat Keamanan saja tapi juga masalah kita semua. Masalah keamanan dan kelangsungan hidup dari anggota keluarga kita dan kita sendiri.
Di tulisan ini penulis ingin mengulas satu hal yang menurut penulis akar dari permasalahan ini yaitu adanya satu pandangan hidup seseorang yang bisa membuat dia mampu melakukan suatu kegiatan terorisme, pembunuhan tanpa ada rasa kasihan akan korbannya dan takut akan hukuman TUHAN di kemudian hari . Masalah itu yaitu adanya pandangan dari sebagian kalangan pemeluk taat agama (ini ada di hampir semua agama Kristen, Islam, Hindu, Budha dll), yaitu pandangan yang menganggap orang beragama lain sebagai orang Kafir atau yang dalam pengertian Bahasa Indonesia berarti orang yang melawan ALLAH atau tidak mau tunduk kepada ALLAH. Sehingga menjadi wajar jika sesorang berperang, membunuh atau sekedar melawan orang Kafir tersebut. SEHINGGA PANDANGAN INI HARUS SEGERA DIRUBAH atau kita akan menuai kekerasan dan terorisme setiap saat yang merupakan buah dari pendangan hidup orang itu.
Sebutan Kafir ini juga menjadi akar timbulnya kebencian yang tidak disadari oleh satu pemeluk agama kepada pemeluk agama lainnya. Kebencian ini menjadi pendorong utama timbulnya kegiatan terorisme kepada manusia lain yang berbeda dengan dia atas nama agama tau keyakinan mereka itu. Lebih berbahaya lagi para teroris ini dalam kehidupan sehari-harinya bukanlah orang yang terkenal jahat, bermasalah dengan keluarga, masyarakat dll melainkan mereka sungguh merupakan warga terhormat sehingga makin sulit untuk mendeteksinya dan makin berbahayalah kehidupan kita karena para pembunuh berkeliaran di sekitar kita tanpa kita sadari.
Dari pengamatan penulis seharusnya ada satu istilah yang lebih baik yang bisa digunakan dan membuat kita punya pandangan berbeda terhadap orang yang beragama lain dan dari pengamatan penulis seharusnya istilah ini bisa diterima oleh semua agama yang ada di bumi Indonesia ini.Ingat semua agama pasti expansif karena pada hakekatnya dan sangat wajar jika pemeluk satu agama menganggap agamanya paling benar hanya masalahnya bagaiman kita membuat aturan main sehingga tidak ada friksi dalam Syiar, Dakwah, Penginjilan, Kesaksian pemeluk suatu agama dalam kehidupan mereka sehari-harinya.
Penulis juga ingin membuka forum diskusi jika ada yang tidak setuju dengan penggunaan istilah ini dengan menulis e-mail langsung ke sony_didud@yahoo.com, karena harapan penulis tidak hanya bisa menulis di rubrik ini sekali saja tapi bisa memberikan dan berbuat sesuatu untuk menyetop kegiatan terorisme yang dilakukan siapa saja dan dimana saja. Saya harap dari diskusi semua komponen bangsa yang serius dengan masalah ini maka akan didapat Solusi yang diterima semua pihak dan dikampanyekan/sosialisasikan ke masyarakat luas untuk bisa menjadi bagian hukum tidak tertulis dalam hubungan antar anak bangsa yang lebih sehat dan beradab.
Istilah yang disarankan dipakai oleh penulis untuk mengganti kata KAFIR adalah ORANG BELUM MENGENAL TUHAN DENGAN BENAR. Ada perbedaan hakiki dari penggunaan istilah ini yaitu di pengertian baru ini kita menyadari bahwa Pengenalan akan TUHAN itu suatu proses bagi seorang manusia karena setiap manusia semenjak dilahirkan pastilah belum sempurna pengenalan akan Allah-nya dan itu akan terus bertumbuh sesuai dengan pertambahan usianya ditambah lagi sebetulnya kita tidak bebas memilih agama tapi semata-mata pemberian orangtua, walupun di UUD kita dan semua piagam Hak Asasi Manusia yang ada di dunia ini kebebasan beragama adalah hal yang mutlak dan utama. Sehingga seiring dengan berjalannya waktu dan pertumbuhan iman seseorang menuju kedewasaannya maka setiap orang akan terus mencari TUHAN yang diyakini bisa memberi rasa aman dan kepastian dalam menjalani hidupnya dan setelah hidup. Sesuatu yang bisa menjadi pegangan hidupnya dan memberi kepastian kepada dia akan kemana dia setelah dia Hidup di dunia ini, hal ini penting karena jika seseorang masih merasa kawatir akan kemana dia setelah mati maka kekawatiran itu akan mempengaruhi semua aspek hidupnya dan bahkan bisa menggerogoti kesehatan fisik dan mentalnya serta mencabut kebahagiaan dalam hiudupnya.
Oleh karena itu penulis rasa adalah tidak pantas orang yang belum begitu mengenal TUHANNYA ini kita beri label Kafir dan kita perangi hanya karena dia berusaha mengenal lebih dekat TUHAN yang dikenalkan orangtuanya terlebih dahulu. Tapi dengan merubah label untuk orang ini menjadi ORANG BELUM MENGENAL TUHAN DENGAN BENAR maka kita sebagai pemeluk agama yang “MENGAKU” lebih kenal TUHAN, seharusnya menjadi Lebih Taat, Lebih Rohani dll seharusnya membuat kita berlomba-lomba berbuat baik, merubah kualitas hidup kita, menjauhi perbuatan dosa (termasuk menyakiti sesama dan bahkan musuh kita, karena menghakimi adalah hak TUHAN dan NEGARA dan bukan kita) sebagai bagian dari Syiar, Penginjilan, Dakwah kita sehingga hal ini bisa menarik hati orang yang sedang mencari TUHAN tadi untuk mengenal TUHAN yang kita kenal juga. Hal ini tentu lebih beradab dan secara tidak langsung juga bisa meningkatkan kualitas manusia Indonesia, daripada kita sibuk berdakwah, menginjil, Syiar dll tapi kualitas hidup kita tidak ada bedanya dengan orang yang tidak kenal TUHAN, malah lebih buruk dan menakutkan bagi orang lain.
Saya yakin dengan perubahan penggunaan isilah ini akan merubah paradigma hidup seseorang dan pandangannya terhadap orang lain dan agama lain serta membuat seorang yang taat beragama menjadi lebih adem dan memancarkan Nur, Roh kedamaian untuk orang yang berada di dekat dia. Bukannya malah memunculkan ketakutan untuk orang yang bukan dari kelompok –nya. Seorang yang taat dan dekat sama TUHAN menjadi figure untuk setiap manusia di dekatnya mencari tahu rencana TUHAN untuk hidup orang itu , menjadi problem solver untuk masalah-masalah kehidupan ini karena sesungguhnya psikolog yang tarbaik adalah orang yang kenal TUHAN dengan dekat.
Mari kita rubah wajah ketaatan kita menjadi lebih mendatangkan berkat bagi banyak jiwa dan bukan malah sumber masalah dan kita cintai sesama kita dengan sepenuh hati sebagaimana TUHAN mengasihi orang itu. Karena bukankah semua manusia adalah ciptaan TUHAN dan sama dihadapanNYA ? Dan bukankah rasa cintadan kasih yang tulus dan diikuti perbuatan nyata itu bisa menjadi alat syiar, penginjilan dan dakwah yang baik ?
Mari kita kampanyekan penyetopan semua penggunaan kata KAFIR bagi pemeluk agama lain ! Karena mereka juga ciptaan TUHAN yang penulis yakin kehadirannya di dunia ini karena cinta TUHAN terhadapnya dan ingat belum tentu agama yang saat ini dipeluk oleh orang itu yang kebetulan berbeda dengan kita adalah pilihannya sendiri melainkan suatu agama yang dikenalkan oleh orang tuanya dan yang saat ini dia baru coba mengertinya.
Monday, April 13, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment