Monday, April 13, 2009

Banjir dan Inspirasi Pemecahan Solusi Masalah Besar Indonesia

Banjir besar baru saja melanda kota Jakarta dan beberapa daerah dan kota besar di Indonesia. Kejadian ini anehnya menjadi sesuatu yang begitu mengejutkan untuk banyak kalangan di negara ini, padahal kalau kita mengevalusai apa yang sudah kita lakukan pada alam dan cara kita hidup di Indonesia maka semua ini sebetulnya dan seharusnya sudah dapat dibayangkan akan terjadi. Kejadian ini sebetulnya adalah harga yang harus dibayar dari kesalahan yang dilakukan bersama oleh semua orang yang hidup di Indonesia dan khusunya Jakarta, karena Banjir melanda hampir semua daerah di Indonesia dan terparah terjadi di Jakarta.

Kesalahan dari Pemerintah Pusat karena tidak bisa membuat master plan pembangunan Indonesia yang memperhatikan kelestarian lingkungan dan ketidak mapuannya menjalankan dengan kosekuen segala macam rencana yang mereka buat dll, kesalahan pemerintah daerah adalah tidak bisa mempertahankan daerah aliran sungai, menghilangkan daerah resapan air, pembangunan yang mengorbankan lingkungan dll, kesalahan rakyat adalah yang hidup seenaknya dengan menebang hutan dengan alas an mempertahnkan kelangsungan hidup, membuang sampah seenaknya dll. Terlalu banyak contoh kesalahan yang sudah kita buat dan sewajarnya kita tidak lagi saling menyalahkan karena itu semua tidak akan pernah menyelesaikan masalah dan bahkan cenderung menambah parah dan besar masalahnya. Mari kita evaluasi bersama cara kita hidup, memerintah dan berinterakasi sebagai sesama manusia serta secepatnya kita lakukan Tobat Nasional untuk memperbaiki semua itu.

Teman-teman sebangsa masalah yang kita hadapi saat ini adalah masalah yang sangat besar dan banjir hanyalah salah satunya masih banyak lagi masalah lainnya seperi Loss Generation akibat rendahnya tingkat Gizi dan pendidikan yang didapat anak Indonesia, Tingginya angka pengangguran dan PHK, Rendahnya daya saing produk dan manusia Indonesia di Pasar Global, Rendahnya angka produksi dan produktifitas dari manusia Indonesia, Angka korupsi yang tinggi bahkan tertinggi di dunia yang menyebabkan banyak negara donor berpikir sepuluh kali sebelum membantu Indoneisa dll yang semuanya bermuara dari kemiskinan dan kebodohan yang masih melingkupi mayoritas penduduk Indonesia saat ini. Saat ini dengan kejadian banjir yang melanda banyak daerah seolah-olah masalah dan perhatian kita semua tertuju pada Banjir saja serta seolah olah itulah prioritas yang harus kita selesaikan.

Yakinlah teman-teman sebangsaku masalah banjir tidak akan pernah bisa kita selesaikan selama masalah lain tidak terselesaikan. Selamanya bantaran Kali akan dipenuhi oleh kaum Urban selama kesempatan kerja di daerah tidak sama dengan di kota besar, Selamanya hutan akan terus digunduli jika masyarakat tidak tahu kemana lagi di harus mencari uang untuk mempertahankan hidupnya, Selamanya sampah akan dibuang ke kali kalau masyarakat tidak mampu membuat tempat sampah dan membayar petugas pengambil sampah dll

Dari sisi rakyat saya melihat juga satu semangat kebersamaan yang tumbuh dengan adanya bencana Banjir yang baru saja melanda Jakarta. Semangat Gotong Royong dan kekeluargaan yang katanya merupakan semangat khas dari manusia Indonesia yang selama ini sudah hilang dimakan kerasnya kehidupan. Semangat yang menimbulkan harapan akan Indonesia yang lebih baik di amsa depan.

Melihat itu semua saya coba memberikan satu Solusi yang mudah dengan memanfaatkan momentum semangat dari Pemerintah Pusat dan momentum semangat kekeluargaan dan Gotong Royong serta Cinta KASih pada sesama yang ada di masyarakat kita saat ini. Semangat yang seharusnya terus dijadikan modal utama dan dijaga supaya tidak luntur dan hilang dimakan kerasnya hidup ini.

Sebelum saya terangkan ide saya ada baiknya kita lihat dahulu Data Pemerintah yang menyatakan bahwa penduduk Indonesia yang bisa digolongkan dalam masyarakat kaya sekitar 1% dari populasi, kalangan menengah ada sekitar 10% sedangkan sisanya 90% adalah golongan masyarakat miskin. Jika kita melihat data mengenai tingkat pendidikan maka lulusan Universitas jumlahnya juga paling banyak 10%. Rata-rata kalangan terdidik inilah yang juga menempati strata menengah atas di negri ini, walalu tidak sedikit masyarakat yang tidak berpindidikan Universitas bisa masuk kalangan menengah atas tapi kejadian itu hanyalah pengecualian.

Oleh karena itu seharusnya kita mulai bisa meningkatkan taraf hidup seluruh masyarakat Indonesia dengan memanfaatkan potensi dari 10% populasi yang ada dan mampu ini kalangan menengah atas dan kalangan terdidik ini. Seharusnya 10% dari populasi ini kita berdayakan supaya bisa menjadi sumber hidup dari yang 90% sisa populasi penduduk Indonesia. Caranya satu keluarga mampu sebisa mungkin menghidupi dan memperkerjakan sembilan keluarga terbelakang/miskin dengan mencukupi kebutuhan sandang, pangan dan papannya. Hal ini diluar apa yang sudah mereka lakukan di tempat kerja mereka selama ini karena biasanya tempat kerja modern menjadi tempat berkumpulnya manusia-manusia pintar dan berpindidikan dan berasal dari tingkat ekonomi yang hampir sama. Juga bukan berarti perusahaan-perusahaan modern harus dibubarkan tetapi pembinaan keluarga miskin ini seharunya menjadi seperti pekerjaan social bagi mereka yang dibantu dan dibina pemerintah. Seperti yang mereka selama ini lakukan untuk korban banjir dan korban bencana lainnya yang bisa menggugah rasa kemanusian mereka.

Untuk mencukupi kebutuhan tanah untuk membangun lokasi yang berdekatan antara keluarga Mampu pembina dan keluarga miskin binaannya maka pemerintah bisa mulai memberi intensif untuk mereka membeli tanah-tanah di sekitar kota tempat mereka bekerja. Sehingga mereka bisa tinggal dalam satu lingkungan yang memudahkan interaksi diantara mereka. Untuk menjaga kelestarian alam maka persentasi bangunan dan tanah yang harus dijaga kehijauannya harus ditentukan oleh pemerintah. Misalnya hanya 10% saja yang boleh dijadikan bangunan dan sisanya 90% harus tetap berupa kebun, kolam atau malah hutan.

Supaya keluarga pembina tidak kesulitan untuk menghidupi sembilan keluarga binaannya maka tanah tersebut dengan binaan pemerintah bisa dijadikan kebun yang produktif, pertanian yang menguntungkan dan menghasilkan atau suatu sentra industri rakyat bisa lebih dekat pada pasar karena keluarga pembina/mampu biasanya punya kemudahan dalam mengakses pasar.

Jika ini bisa berjalan maka pastilah dalam waktu singkat pastilah penduduk yang berada di bantaran kali akan dengan senang hati untuk pindah ke lokasi yang disediakan untuk mereka. Penggundulan Hutan akan berakhir karena keluarga miskin tidak perlu lagi mencari kayu di hutan untuk hidupnya karena ada keluarga yang menjamin hidupnya dan hutan juga lebih susah dijarah karena ada minimal sepuluh keluarga yang diberi wewenang pemerintah untuk menjaga. Peminta-minta dijalan dan anak jalanan akan hilang karena mereka saat ini sudah punya keluarga yang bisa menjamin hidup mereka. Tugas pemerintag menjadi lebih mudah karena mereka tidak perlu lagi menghidupi dan membina semua rakyatnya tapi cukup membina yang 10% dan mengawasi jalannya pembianaan dari yang 10% pada yang 90% sisanya.

Masalah yang ditangani pemerintah tinggalah masalah kesehatan dan pendidikan nasional minimal sampai tingkat SMA yang murah dan terjangkau sehingga minimal akan ada kesamaan pelayanan yang didapat semua rakyat dan hal ini juga akan mengurangi keengganan dan beban keluarga pembina. Serta tentunya masalah keamanan dan pengawasan pembianaan serta intensif kredit bagi jalannya industri pertaniaan atau usaha home industri yang dilakukan oleh keluarga pembina dan yang dibina.

Percayalah jika kita yang sudah Tuhan berkati kenikmatan dunia mau melakukan sesuatu untuk sebagaian besar saudara kita setanah air yang sedang kesulitan, kurang beruntung dan juga kurang pandai maka pastilah beban pemerintah akan menjadi lebih ringan. Bukankah ini adalah inti dari semua ajaran agama yang ada di bumi Indonesia ini CINTA KASIH pada SESAMA.

Yakinlah jika masalah kemiskinan masal ini sudah bisa kita benahi maka masalah lainnya akan menjadi lebih mudah. Untuk itu kita perlu memompa semangat kebersamaan seperti yang kita tunjukan pada saat bencana banjir melanda kota kita saat ini dalam bentuk yang karya social lebih panjang dan berkomitment. Saya yakin tidak akan terlalu sulit untuk satu keluarga kaya di negara ini menghidupi sepuluh keluarga miskin apalagi dengan bantuan, bimbingan dan binaan dari pemerintah.

Penulis yakin dengan semangat gotong royong yang kuat sesuai dengan jiwa pemerintahan saat ini dan menghidari sifat saling menyalahkan dan menjatuhkan yang bukan merupakan budaya bangsa kita maka kita akan lebih mudah mewujudkan Indonesia yang aman, nyaman, makmur seperti cita-cita Dasar Negara kita yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Bukan hanya banjir saja yang hilang dari bumi Indonesia tapi juga bencana lainnya yang saat ini sedang kita hadapi. That is our paradise, that’s our beautiful country, The Land of dream.

Percayalah saudaraku yang sudah TUHAN berkati dengan kenikmatan dunia, uang yang anda keluarkan untuk membina keluarga miskin ini tidak akan lebih besar dari pada uang yang selama ini anda keluarkan untuk membeli mobil mewah, Villa, Rumah besar kita di pusat kota , pembelian gaun pesta, pembelian perhiasaan kita dll bahkan pasti jika proyek ini behasil maka bisa memperbesar pendapatan anda sendiri. Percayalah pula bahwa kebahagian melihat senyum di mulut saudara kita yang selama ini menderita akan menimbulkan senyum dan bahkan tawa bahagia di mulut dan hati kita.

Marilah Kita Rubah Kebiasaan Menyebut KAFIR

Saat ini dunia sedang sibuk dan disibukkan dengan berbagai issue Terorisme yang sudah menelan banyak sekali korban yang tidak bersalah dan bahkan mayoritas korbannya adalah orang yang tidak mau tahu sama sekali masalah politik di dunia ini. Terorisme sudah menjadi kejadian yang menakutkan dan setiap saat bisa merenggut nyawa seseorang tanpa pandang bulu. Dunia saat ini sibuk mendiskusikan dan menyelesaikan masalah yang satu ini bahkan semua pertemuan tingkat tinggi dari organisasi dunia yang bertujuan utama di bidang ekonomi merubah topik pembicaraannya ke bidang yang satu ini (Terorisme) kita bisa liat contohnya di pertemuan APEC, ASEAN dll.

Dunia yang penuh ketakutan pastilah bukan cita-cita kita bersama dan juga tidak pernah diajarkan oleh agama apapun juga di muka bumi ini. Dunia yang tidak aman dan penuh dengan bahaya pastilah juga mengganggu kehidupan keseharian kita karena kita yang berpikiran normal, pastilah tidak mau jika setiap hari kita selalu dihantui masalah keamanan anak, istri atau bahkan kita sendiri, suatu masalah yang wajar dipikirkan oleh semua pemimpin dunia yang concent dengan keselamatan warganya dan kesinambungan negaranya. Bayangkan saja bagaimana suatu negara bisa meningkatkan ekonomi negara itu jika produktifitas warganya menurun karena tidak adanya rasa aman ?

Jadi saya rasa kita juga harus serius memikirkan masalah ini dan menyelesaikannya. Ingat masalah ini tidak hanya masalah pemerintah, Badan Intelejent Negara, Aparat Keamanan saja tapi juga masalah kita semua. Masalah keamanan dan kelangsungan hidup dari anggota keluarga kita dan kita sendiri.

Di tulisan ini penulis ingin mengulas satu hal yang menurut penulis akar dari permasalahan ini yaitu adanya satu pandangan hidup seseorang yang bisa membuat dia mampu melakukan suatu kegiatan terorisme, pembunuhan tanpa ada rasa kasihan akan korbannya dan takut akan hukuman TUHAN di kemudian hari . Masalah itu yaitu adanya pandangan dari sebagian kalangan pemeluk taat agama (ini ada di hampir semua agama Kristen, Islam, Hindu, Budha dll), yaitu pandangan yang menganggap orang beragama lain sebagai orang Kafir atau yang dalam pengertian Bahasa Indonesia berarti orang yang melawan ALLAH atau tidak mau tunduk kepada ALLAH. Sehingga menjadi wajar jika sesorang berperang, membunuh atau sekedar melawan orang Kafir tersebut. SEHINGGA PANDANGAN INI HARUS SEGERA DIRUBAH atau kita akan menuai kekerasan dan terorisme setiap saat yang merupakan buah dari pendangan hidup orang itu.

Sebutan Kafir ini juga menjadi akar timbulnya kebencian yang tidak disadari oleh satu pemeluk agama kepada pemeluk agama lainnya. Kebencian ini menjadi pendorong utama timbulnya kegiatan terorisme kepada manusia lain yang berbeda dengan dia atas nama agama tau keyakinan mereka itu. Lebih berbahaya lagi para teroris ini dalam kehidupan sehari-harinya bukanlah orang yang terkenal jahat, bermasalah dengan keluarga, masyarakat dll melainkan mereka sungguh merupakan warga terhormat sehingga makin sulit untuk mendeteksinya dan makin berbahayalah kehidupan kita karena para pembunuh berkeliaran di sekitar kita tanpa kita sadari.

Dari pengamatan penulis seharusnya ada satu istilah yang lebih baik yang bisa digunakan dan membuat kita punya pandangan berbeda terhadap orang yang beragama lain dan dari pengamatan penulis seharusnya istilah ini bisa diterima oleh semua agama yang ada di bumi Indonesia ini.Ingat semua agama pasti expansif karena pada hakekatnya dan sangat wajar jika pemeluk satu agama menganggap agamanya paling benar hanya masalahnya bagaiman kita membuat aturan main sehingga tidak ada friksi dalam Syiar, Dakwah, Penginjilan, Kesaksian pemeluk suatu agama dalam kehidupan mereka sehari-harinya.
Penulis juga ingin membuka forum diskusi jika ada yang tidak setuju dengan penggunaan istilah ini dengan menulis e-mail langsung ke sony_didud@yahoo.com, karena harapan penulis tidak hanya bisa menulis di rubrik ini sekali saja tapi bisa memberikan dan berbuat sesuatu untuk menyetop kegiatan terorisme yang dilakukan siapa saja dan dimana saja. Saya harap dari diskusi semua komponen bangsa yang serius dengan masalah ini maka akan didapat Solusi yang diterima semua pihak dan dikampanyekan/sosialisasikan ke masyarakat luas untuk bisa menjadi bagian hukum tidak tertulis dalam hubungan antar anak bangsa yang lebih sehat dan beradab.

Istilah yang disarankan dipakai oleh penulis untuk mengganti kata KAFIR adalah ORANG BELUM MENGENAL TUHAN DENGAN BENAR. Ada perbedaan hakiki dari penggunaan istilah ini yaitu di pengertian baru ini kita menyadari bahwa Pengenalan akan TUHAN itu suatu proses bagi seorang manusia karena setiap manusia semenjak dilahirkan pastilah belum sempurna pengenalan akan Allah-nya dan itu akan terus bertumbuh sesuai dengan pertambahan usianya ditambah lagi sebetulnya kita tidak bebas memilih agama tapi semata-mata pemberian orangtua, walupun di UUD kita dan semua piagam Hak Asasi Manusia yang ada di dunia ini kebebasan beragama adalah hal yang mutlak dan utama. Sehingga seiring dengan berjalannya waktu dan pertumbuhan iman seseorang menuju kedewasaannya maka setiap orang akan terus mencari TUHAN yang diyakini bisa memberi rasa aman dan kepastian dalam menjalani hidupnya dan setelah hidup. Sesuatu yang bisa menjadi pegangan hidupnya dan memberi kepastian kepada dia akan kemana dia setelah dia Hidup di dunia ini, hal ini penting karena jika seseorang masih merasa kawatir akan kemana dia setelah mati maka kekawatiran itu akan mempengaruhi semua aspek hidupnya dan bahkan bisa menggerogoti kesehatan fisik dan mentalnya serta mencabut kebahagiaan dalam hiudupnya.

Oleh karena itu penulis rasa adalah tidak pantas orang yang belum begitu mengenal TUHANNYA ini kita beri label Kafir dan kita perangi hanya karena dia berusaha mengenal lebih dekat TUHAN yang dikenalkan orangtuanya terlebih dahulu. Tapi dengan merubah label untuk orang ini menjadi ORANG BELUM MENGENAL TUHAN DENGAN BENAR maka kita sebagai pemeluk agama yang “MENGAKU” lebih kenal TUHAN, seharusnya menjadi Lebih Taat, Lebih Rohani dll seharusnya membuat kita berlomba-lomba berbuat baik, merubah kualitas hidup kita, menjauhi perbuatan dosa (termasuk menyakiti sesama dan bahkan musuh kita, karena menghakimi adalah hak TUHAN dan NEGARA dan bukan kita) sebagai bagian dari Syiar, Penginjilan, Dakwah kita sehingga hal ini bisa menarik hati orang yang sedang mencari TUHAN tadi untuk mengenal TUHAN yang kita kenal juga. Hal ini tentu lebih beradab dan secara tidak langsung juga bisa meningkatkan kualitas manusia Indonesia, daripada kita sibuk berdakwah, menginjil, Syiar dll tapi kualitas hidup kita tidak ada bedanya dengan orang yang tidak kenal TUHAN, malah lebih buruk dan menakutkan bagi orang lain.

Saya yakin dengan perubahan penggunaan isilah ini akan merubah paradigma hidup seseorang dan pandangannya terhadap orang lain dan agama lain serta membuat seorang yang taat beragama menjadi lebih adem dan memancarkan Nur, Roh kedamaian untuk orang yang berada di dekat dia. Bukannya malah memunculkan ketakutan untuk orang yang bukan dari kelompok –nya. Seorang yang taat dan dekat sama TUHAN menjadi figure untuk setiap manusia di dekatnya mencari tahu rencana TUHAN untuk hidup orang itu , menjadi problem solver untuk masalah-masalah kehidupan ini karena sesungguhnya psikolog yang tarbaik adalah orang yang kenal TUHAN dengan dekat.

Mari kita rubah wajah ketaatan kita menjadi lebih mendatangkan berkat bagi banyak jiwa dan bukan malah sumber masalah dan kita cintai sesama kita dengan sepenuh hati sebagaimana TUHAN mengasihi orang itu. Karena bukankah semua manusia adalah ciptaan TUHAN dan sama dihadapanNYA ? Dan bukankah rasa cintadan kasih yang tulus dan diikuti perbuatan nyata itu bisa menjadi alat syiar, penginjilan dan dakwah yang baik ?

Mari kita kampanyekan penyetopan semua penggunaan kata KAFIR bagi pemeluk agama lain ! Karena mereka juga ciptaan TUHAN yang penulis yakin kehadirannya di dunia ini karena cinta TUHAN terhadapnya dan ingat belum tentu agama yang saat ini dipeluk oleh orang itu yang kebetulan berbeda dengan kita adalah pilihannya sendiri melainkan suatu agama yang dikenalkan oleh orang tuanya dan yang saat ini dia baru coba mengertinya.

SEBUAH RENUNGAN

Melewati masa Paskah ini , hatiku gundah dan aku merasa belum melakukan apa-apa TUHANKU aku merenung dan berbicara dengan DIA TUHAN yang hidup di malam sepi,

TUHAN YESUS apa yang harus aku lakukan untuk MU, dan mengejutkan TUHAN bilang tidak perlu aku bisa melakkan semua sendiri dan bahkan aku sudah melakukan segalanya untukmu anakku. Kalau kamu mau berbuat sesuatu perbuatlah untuk sesamamu yang membutuhkan sebagai tanda cintamu pada KU.

TUHAN YESUS apakah aku perlu memberikan sesuatu untukMU dan mengejutkan kembali DIA mengatakan tidak perlu karena DIA adalah ALLAH yang maha kaya dan DIA sudah berikan kepada kita semuanya termasuk diriNYA sebagai penebusan atas dosa kita. Jika kamu mau memberikan sesuatu maka berilah itu ke sesamamu yang membutuhkan sebagai bukti cintamu padaKU.

TUHAN YESUS apakah aku perlu membelaMU ketika namaMU dihina dan dicaci dan kembali mengejutkan ketika DIA bilang tidak perlu. Ingat anak KU AKU adalah ALLAH yang hidup dan berkuasa. Sehingga aku tidak butuh pembelaan dri manusia lemah yang merupakan ciptaan KU sendiri. Kalau kamu mau membela AKU maka belalah sesamu yang teraniaya siapapun dia sebagai bukti cintaMU padaKU.

TUHAN YESUS apakah aku harus membalas dan menghukum orang-orang yang menghina MU. Kembali TUHAN YESUS berkata tidak perlu dan dia mengingatkan aku tentang kisah PAULUS yang membunuh dan menyiksa umat TUHAN mula-mula dan DIA YESUS TUHAN berkuasa untuk mengubahnya menjadi hamba NYA. DIA juga mengingatkan bahwa kita juga sering sekali menghina DIA melalu perbuatan kita yang tidak sesuai dengan kehendakNYA. Kita juga sama saja dengan semua orang yang belum mengenal DIA, jika kita tidak berserah kepada NYA. Aku juga teringat dengan kata-kata Paulus di Surat Galatia yang menyatakan bahwa kita adalah SURAT TUHAN untuk umat manusia. Seharusnya dari perbuatan (bukan kata-kata) kita maka sesama kita akan mengenal TUHAN dengan benar.

Anak KU ingatlah CINTA KASIH adalah kata kunci untuk kamu memperoleh kebahagiaan di dunia ini. Lakukan semua yang harus kamu lakukan walau berat sekalipun dengan landasan cinta kasih yang tulus maka kamu akan merasa semuanya ringan.

Mungkin ini cuma renunganku di malam gelap dan di kesendirianku. Tapi aku yakin dunia akan lebih damai kalau kita beri peran lebih pada TUHAN untuk menunjukan kuasaNya dan kita manusia tidak usah saling sok kuasa.