Monday, November 11, 2013

Hidup Sekali Kemudian Mati


Abstrak :
Tulisan ini merupakan bagian trilogi tulisan saya : mulai dari tulisan saya tentang ayah saya (ada di blog ini), tulisan saya tentang eyang saya (http://sukarnen.blogspot.com/) dan dari kedua tulisan itu mengilhami saya jika manusia hidup harus berbuat sesuatu dan mendatangkan manfaat untuk banyak orang . Kita bersama harus menyadari pentingnya berbagi hidup yang meliputi tidak hanya harta kita tetapi juga waktu, perhatian, cinta kasih kita dan seluruh aspek kehidupan kita dengan sesama. Tidak hanya dengan keluarga inti atau keluarga besar kita tetapi sebanyak mungkin manusia lain yang membutuhkan kita. Semoga dengan tulisan ini akan timbul satu komunitas anak manusia yang peduli terhadap sesamanya.....Karena jika kita gagal peduli maka sesusunguhnya kita sudah mati sebelum kematian itu datang.....terimakasih papa dan eyang yang sudah menginspirasi saya cara hidup yang baik... saya mengasihi kalian dengan sungguh...

Kata di atas sudah seringkali kita dengarkan….mungkin semua kita menyadari artinya atau ada juga yang tidak menyadari artinya…..kata itu seolah kata kosong tanpa makna. Buktinya banyak orang yang tahu tapi tidak berbuat apa-apa. Mereka tidak peduli dengan kehidupan mereka setelah kematian dan mereka terus melakukan kejahatan tanpa rasa bersalah dan korupsi salah satunya, mereka tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan saat ini, mereka sibuk dengan diri sendiri dan keluarganya saja tanpa peduli dengan sesama disekitarnya yang  mungkin butuh  pertolongan, mereka bahkan tidak mau menjadi harapan untuk sesamanya walau mereka punya kesempatan dan kemampuan…. Semua sibuk dan disibukan dengan urusannya sendiri-sendiri.

Manusia hidupnya berpusatkan pada dirinya sendiri dan paling banter jika diperluan maka seluas keluarga intinya …sangat jarang yang masih sempat memikirkan keluarga besarnya…..apalagi lingkungan dan teman sepermaianannya atau bahkan orang senegaranya yang dia tidak kenal dll dll yang lebih luas. Semua kita punya dunia masing-masing dan kebanyakan dunianya sangat kecil atau diperkecil supaya mereka punya banyak waktu untuk bersenang-senang dan memuaskan keinginan dirinya sendiri.

Hidup memang pilihan  dan setiap pilihan harus kita bayar  dan ada harganya. Memang tidak semua harganya bisa dibayar pakai uang, banyak yang harus dibayar pakai perhatian kita, waktu kita, pemikiran kita dll dll yang semuanya pasti mengurangi waktu kita untuk diri kita pribadi. Alat bayar yang bukan uang untuk setiap pilihan membuat kita masuk dalam situasi yang semakin rumit dan tidak mudah untuk memutuskannya. Masyarakat modern yang semakin sibuk dan disibukan oleh urusan karir, pekerjaan rutin, ambisi dll membuat mereka kesulitan membagi waktu antara me time dan family time. Banyak anak dari keluarga pekerja atau pengusaha sekarang yang sudah harus ditinggal ayah dan ibunya ketika matahari masih terbenam dan baru bertemu dengan mereka lagi ketika matahari sudah terbenam atau bahkan si anak sudah mulai siap-siap untuk tidur. Di saat seperti ini ketika waktu untuk keluarga saja susah disediakan apalagi perhatian dan kasih sayang maka waktu untuk sesama seolah menjadi barang yang mustahil disediakan.

Kondisi ini juga membuat masyarakat modern semakain individualis dan terkesan tidak peduli. Fenomena ini dengan gamblang secara dan terang benderang  didemokan didepan kita jika :

  1.        Terjadi kecelakaan di jalan raya, berapa orang yang mau berhenti dan melakukan pertolongan terhadap si korban dan berapa banyak yang Cuma diam saja atau sekedar menonton yang malah menyebabkan kemacetan lalu lintas
  2.          Jika ada korban kejahatan yang terjadi baik di jalan maupun dekat rumah kita atau kebetulan dekat kita berada, maka berapa banyak yang mau terlibat dan membantu si korban ? kebanyakan mungkin memutuskan untuk tidak ikutan terlibat dan menghindari masalah yang menurut mereka bukan masalah mereka.
  3.    .    Jika ada/terjadi KDRT di rumah tangga dekat rumah kita maka kebanyakan dari kita juga akan bersikap cuek saja dan menganggap itu masalah rumah tangga biasa dan urusan orang lain bukan urusan kita.
  4.    .    Jika kita melihat anak jalanan atau pengemis kita banyak yang seolah membantu dengan memberikan sedekah yang sebetulnya menjerumuskan mereka ke lembah pengemis dan anak jalanan yang semakin parah. Berapa banyak yang bersedia spend waktu dan pemikirian untuk memberdayakan mereka ? berusaha membantu pemerintah memberikan solusi yang bsia mengeluarkan mereka dari jalanraya dan memulai hidup baru dengan berbasis penghasilan dari kemampuan mereka serta bukan belas kasihan.
  5.        Dll dll


Semua bukti individualistisnya kehidupan manusia sekarang ini  terkadang membuat saya ngeri dan takut jika kejahatan atau kecelakaan itu menimpa kita atau keluarga kita ? siapa yang kira-kira mau membantu kita ? seberapa cepat kita bisa mendapatkan pertolongan sehingga  kemungkinan kita diselamatkan menjadi semakin besar…..hal ini mengingatkan saya juga akan kecelakaan lalulintas pengendara harley di menteng baru-baru ini yang ramai diberitakan media karena membutuhkan waktu satu jam sebelum dia mendapatkan pertolongan, akibatnya satu meninggal dan satu dirawat di RS. Semua orang yang lewat seolah tidak peduli dan merasa itu bukan urusannya....semoga kejadian ini tidak terjadi pada kita atau keluarga kita, karena kita tidak tahu akan masa depan.

TIDAK PEDULI dan TIDAK PEDULI serta  TIDAK PEDULI seolah sudah menjadi budaya baru dalam masyarakat kita dan semua sekarang  mementingkan SDM atau SELAMATKAN DIRI MASING-MASING…. Selama kita selamat, sejahtera, damai maka urusan selesai…

Sikap Individualistis ini juga sudah sedemikian parahnya  dan masuk sampai ke kehidupan tokoh agama. Ini terbukti dengan tidak sedikit tokoh agama yang menetapkan tariff yang tidak masuk akal untuk setiap undangan ceramah yang diminta umatnya.  Tokoh agama akan berkilah ada undangan ceramah yang dihadiri banyak orang dan menghindar dari panggilan hati nuraninya untuk menolong satu saudara atau tetangganya yang mengalami kesulitan. Sangat jarang kita jumpai adanya tokoh agama yang bersikap seperti Bunda Theresa yang mengorbankan hidup dan kenikmatan dunianya demi orang yang miskin dan sakit di Calcuta India. Bunda Theresa bukan hanya memberikan waktu, perhatian dan uangnya tetapi juga sudah membagi hidupnya dengan sesamanya itu. Dia sudah menjadi lilin yang mengorbankan dirinya untuk menerangi banyak orang yang hidup dalam kegelapan.

Manusia dengan kualitas pelayanan seperti Bunda Theresa saat ini sudah sedemikian langkanya di dunia itulah mengapa beliau sampai mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian. Di banyak Negara memang komunitas manusia yang peduli semakin langka bahkan di kalangan orang yang terdidik sekalipun, juga sudah meracuni pemikiran tokoh agama juag seperti ulasan di atas.

Kembali ke judul di atas kenapa kita semua yang kebanyakan beragama dan artinya sadar sesadar-sadarnya jika kita cuma hidup sekali dan kemudian harus mempertanggungjawabkan perbuatan kita tanpa ada kesempatan untuk mengulang hidup……kenapa kita bisa hidup sedemikian individualis dan TIDAK PEDULI…..kenapa ini bisa terjadi ????

GAMBARAN SURGA

Banyak dari kita tanpa kita sadari bayangan kita tentang surge juga kompensasi dari sikap akuisme kita, sikap individualistisnya kita. Surga menurut banyak orang adalah tempat yang menyenangkan buat dirinya pribadi dimana semua hal yang belum dia dapat di dunia bisa dia dapatkan di surge kelak. Mulai dari istri yang cantik (atau suami yg ganteng) serta penuh perhatian dan kasih sayang, harta berlimpah, pelayan yang selalu siap melayani kebutuhan kita setiap saat, kesempatan untuk memperoleh apapun yang kita inginkan, suatu tempat tanpa isak tangis dan kesedihan di hati kita….dll dll yang kita atau aku centris

Tetapi apakah benar surge seperti itu yang TUHAN mau dan sedang disiapkan untuk kita ? saya selalu tertarik dengan kiasan dari satu hamba TUHAN yang menyampaikan ke saya suatu perumpamaan tentang Surga menurut pemahaman beliau. Dimana beliau merasa melihat Surga sebagai suatu meja makan dengan banyak makanan enak, tertata dengan rapi, dengan alat makan yang mewah serta ada banyak meja mengelilingi tempat makan itu yang sudah terisi banyak orang. Ada satu masalah dengan tempat makan itu yach itu sendoknya sangat panjang sehingga mustahil kita menyuapkan makanan ke mulut kita sendiri, sementara memakan dengan tangan dilarang. Yang terjadi di surge semua saling melayani, menyuapi dan makan dengan penuh sukacita.  Semua bisa bercanda ria selama mereka makan dan tidak ada kesedihan atau kesusahan sama sekali . Pelayanan itu mereka lakukan dengan sukacita dan keihklasan dari hati nurani yang tulus……Sementara di Neraka situasi yang sama terjadi tetapi karena semua penghuninya egois adan individualism aka semua saling berebut makanan dan menggunakan sendok yang panjang itu untuk saling memukul dan menyakiti. Darah, jeritan kesakitan, penderitaan terjadi disana dan tidak ada damai sejahtera sama sekali disana.

Gambaran surga dan neraka dalam ilustrasi di atas pasti tidak benar tetapi sebagai suatu situasi saya bisa menangkap sebagai kebenaran. Dimana Surga dan neraka bisa saja menjadi tempat yang sama indahnya tetapi karena diisi dengan manusia yang berbeda maka suasananya bisa demikian berbeda. Api yang membakar dan tidak bisa padam itu mungkin bukan api sebenarnya tetapi api kemarahan di hati semua penghuni dan terjaga dengan baik sehingga selalu membuat ada kesedihan, kedukaan, kesakitan disana. Sementara Surga karena diisi manusia yang memetingkan orang lain dan bukan dirinya sendiri maka suasana saling melayani , mengasihi, berkorban yang terjadi. Suasana yang selalu membawa damai dan membuat api damai sejahtera dan sukacita itu terpelihara selamanya.

Suasana surga seharusnya bisa kita mulai semenjak kita di dunia ini. Attitude, budaya dan sikap kita  sebagaic alon penghuni surga seharusnya sudah bisa dimulai dari sekarang selama kita hidup di dunia ini. Karena jika kita tidak mulai membiasakan diri, saya kawatir kita tidak akan betah tinggal di Surga dan memilih untuk keluar dan pindah ke tempat lain. Pelayan si Surga pasti bukan teman dan sesama kita karena jika demikian maka itu adalah Surga buat kita dan Neraka buat sesama kita yg ditugaskan untuk melayani kita. Pelayan yang terlalu teredia di Surga dalah jiwa-jiwa yang selalu siap melayani sesamanya ketika mereka membutuhkan. Dan  sikap ini harus kita mulai dan biasakan semenjak kita hidup di dunia saat ini.

Seharusnya  kita mau mempersiapkan diri, budaya dan attitude kita sehingga kita benar layak masuk ke rumah TUHAN yang kita sebut Surga itu. Maukah kita mempersiapkannya ?

DIDIKAN dan TELADAN

Banyak diantara kita tidak sanggup untuk hidup tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk menolong sesamanya karena itulah contoh yang kita lihat dari keluarga kita dan didikan yang kita terima dari orang tua dan guru kita. Mungkin secara teori kita mendapat didikan yang harus mengutamakan sesama tetapi dalam praktek kita suka melihat demontrasi dari orang tua atau guru kita yang Cuma SEOLAH-OLAH sedang berbuat untuk sesama tetapi sebenarnya sedang mencari pemujaan untuk dirinya sendiri.  Demi aktualisasi diri dan pujia-pujian sesama banyak orang tega untuk memakai penderitaan sesamanya untuk kemasyuran namanya. Hal ini dipertontonkan secara terang benderang dimata anak-anak kita an akibatnya mereka meniru kita. Karena  anak biasanya tidak suka kemunafikan dan merasa tidak perlu menjaga nama serta reputasi , akhirnya mereka mempertontonkan sikap individualistis yang lebih extreme. Hidupku adalah hidupku sendiri dan tidak ada masalah selama aku tidak mengganggu hidup orang lain. Seolah cukup jika dalam kehidupan kita tdk mengganggu hidup orang lain dan seolah anak-anak generasi baru ini merasa jauh lebih baik dari orang tuanya yang memanfaatkan orang lain.

Ketika dalam hidup kita tidak menyebabkan masalah buat orang lain memang hidup kita sudah jauh lebih baik daripada si pembuat masalah, tetapi itu belum cukup. Kita dituntut untuk bisa lebih baik lagi yaitu hidup kita harus mendatangkan manfaat buat banyak orang walau itu artinya mengorbankan kesenangan kita. Cara Hidup seperti ini yang hampir tidak ada contoh atau teladannyad alam kehidupan sehari hari seorang anak manusia. Dari rumah mereka melihat orang tua yang berkata tentang pelayanan tetapi melayani pasangannya (istri/suami) saja mereka tidak rela dan bahkan lebih rela untuk bertengkar, di sekolah anak-anak berjumpa dengan guru yang bermasalah dengan hidupnya, dengan keluarganya juga dengan prioritas hidupnya, ketika bermain maka anak-anak kita bertemu dan ebrgaul dengan banyak anak yang tidak cukup mendapat perhatian dari orang tuanya serta tumbuh sebagai anak didikan baby sister atau pembantu rumah tangga serta paling TOP didikan nenek mereka. Anak-anak yang haus kasih sayang dan kehilangan figure yang bisa mereka teladani membuat mereka bertumbuh menjadi anak yang GALAU (bahasa anak sekarang) dan cenderung bermasalah.

Ketika orang tua mendapati anaknya bermasalah maka bukannya mereka membantu menyelesaikan masalah anaknya yang most likely karena kesibukan mereka sebagai orang tua, tetapi mereka malah menyalahkan si anak dan membuat anak semakin frustasi, tertekan dan bertumbuh sebagai anak yang tidak punya kasih sama sekali. Kesalahan orang tua yang sangat umum adalah mereka merasa uang bisa membeli segalanya dan menyelesaikan segala masalah sehingga mereka habiskan seluruh waktu yang mereka miliki untuk mencari uang……..mungkin mereka mendapatkan uang dan segala kelimpahan materi TETAPI mereka harus bayar itu semua dengan kasih sayang anak dan hancurnya keluarga mereka.

Ada beberapa keluarga mencari solusi masalah ini dengan mengirim anaknya ke sekolah boarding keagaamaan (agama apa saja pasti punya boarding school yang bernfaskan agama). Masalahnya di banyak case hal ini tidak menyelesaikan masalah karena masalah conta dan kasih itu masalah keteladanan dan bukan ajaran. Anak tidak cukup hanya diajari agama saja tetapi mereka perlu punya pengalaman indahnya pertemuan dengan TUHAN yang dicontohkan oleh orang tua mereka dalam kehidupan keseharian mereka.
Kembali ke judul  awal yaitu Hidup Cuma sekali dan kemudian mati…..apakah iya kita mau meningkalan warisan dan didikan yang penuh kesia –siaan pada anak kita ????....kita tidak bisa melakukan outsourching pendidikan anak kita karena pendidikan itu adalah tanggungjawab kita sebagai orang tua sepenuhnya.

PENGHARGAAN YANG RENDAH TERHADAP WAKTU

Waktu adalah anugrah TUHAN terbesar dan termahal tetapi banyak dari kita berfikir kalau waktu itu adalah sesuatu anugrah umum dan murah. Bahkan ada yang berfikir kalau waktu itu adalah sesuatu yang pasti diberikan TUHAN ketika kita dilahirkan ke dunia sehingga kita tidak perlu usaha untuk mengisi waktu itu apalagi memanfaatkannya.

Kita baru menyadari betapa berharganya waktu ketika kita sakit parah dan doter sudah vonis umur kita Cuma 1 bulan lagi, atau ketika kita dikejar janji penting  yang kalau sampai terlambat maka potensi business miliaran di depan mata bisa hilang sementara jalanan macetnya luar biasa, atau ketika sedang ujian di sekolah atau case lainnya yang saya yakin kita semua punya pengalamannya

Jika saja semua kita bisa sedikit merenungkannya maka sesungguhnya kita akan menyadari kalau apapun yang kita lakukan/kerjakan dan pikirkan  semua dibayar oleh waktu kita. Waktu itu sendiri tidak akan pernah bisa kembali atau mundur walau hanya satu detik sekalipun. Waktu akan terus berjalan dan dia siap meninggalkan kita jika kita tidak siap menerima perubahan-periubahan yang disebabkan oleh berjalannya waktu itu. Waktu tidak bisa dibeli oleh uang sebanyak apapun dan jika dia sudah lewat maka hanya penyesalan yang bisa kita dapatkan jika kita melewatinya.

Penghargaan akan waktu seharusnya disadari oleh semua kita sehingga kita tidak akan pernah merasa tidak ada kerjaan, menganggur, tidak berguna, tidak punya kesempatan dll kata pesimis yang seolah memenuhi kehidupan kita. Selama kita bisa menghargai waktu maka kita akan lebih baik mengisinya daripada membiarkannya lewat tanpa kita bisa berbuat apa-apa. Jika kita selalu mengisi setiap waktu hidup yang TUHAN percayakan pada kita maka otomatis kita akan tahu kemampuan kita dan kita bisa terus mengasah kemampuan itu untuk memudahkan kehidupan orang lain. Kemampuan atau talenta kita diberikan TUHAN bukan untuk kita bersaing dan saling mematikan tetapi seharusnya kita kembangkan untuk membuat kehidupan orang lain semakin mudah dan menggembirakan. Contoh penemuan Tomas Alfa Edison membuat dunia kita lebih terang dari sebelumnya dan memungkinkan kita bekerja dimalam hari sekalipun…..Penemuan Alexandre Graham Bell membuat dunia semakin kecil dan kita bisa berhubungan dengan siapa saja, dimana saja dan kapan saja , ham ini membuat dunia seolah tanpa batas……penemuan alexander Fleming membuat kita tidak takut terhadap bakteri dan kita bisa lebih bebas beraktifitas…..penciptaan lagu oleh Bethoven, Michael Jacson dan penyanyi lainnya membuat kita bisa hidup dengan lebih sukacita.. dll dll….

Orang yang bisa menghargai waktu dan mengisinya untuk berbuat sesuatu pada sesamanya biasanya akan lebih berhasil hidupnya serta lebih bersukacita dalam menghadapi kehidupan yang berat ini dibandingkan orang yang hidup untuk dirinya sendiri. Orang yang terbiasa hidup untuk orang lain akan selalu merasakan kasih dan sukacita karena dukungan orang lain pada dia. Orang seperti tidak akan pernah sendirian apalagi kesepian karena dia tidak pernah menarik diri dari kehidupan dan masalahnya. Masalah dan kehidupan adalah seperti dua sisi mata uang, tetapi buat orang yang suka melakukan sesuatu untuk sesamanya tidak akan merasa kesulitan itu sebagai masalah tetapi kepercayaan dari sesama kepada kemampuan dia. Cara pandang seperti ini yang harus kita tularkan tanpa harus membuat kita menjadi kepo atau selalu ingin tahu maslah orang. Di sisi lain ketika teman kita punya masalah dan kita mengetahuinya bukan berarti kita bisa semaunya melewatinya dan seolah tidak mau tahu. Seiring dengan berjalannya waktu maka kebijaksanaan akan muncul dengan sendirinya. Kita akan tahu kapan harus masuk dan kapan harus keluar dari satu masalah sesama yang perlu dukungankita untuk menyelesaikannya.

Pertanyaan nya sekarang apakah kita mau menggunakan waktu yang ada secara sungguh-sunggguh ? mendatangkan manfaat untuk setiapo waktu yang kita gunakan….manfaatnya pasti bukan hanya untuk diri kita sendiri tetapi juga seharusnya untuk semua orang dan sebanyak mungkin manusia di bumi ini.

KITA SUDAH MATI JIKA GAGAL BERMANFAAT


Dalam hidup ini kita harus mendatangkan manfaat untuk orang banyak....kehidupan kita bukan exclusive milik kita tetapi TUHAN punya recana dalam menentukan keberadaan kita dan dimana kita ditrempatkan ketika kita hidup. Semua tidak ada yang kebetulan dan apakah kita sudah menyadari rencana Sang Pencipta kita itu ????

TUHAN juga tidak hanya memberikan tanggungjawab tetapi juga modal dalam bentuk talenta atau kemampuan , bakat dan kesukaan kita (pasion)....setiap orang diciptakan unik tetapi bukan berarti kita diciptakan tanpa kemampuan apa-apa dan menjadi lebih tidak beruntung dari sesama kita. Kita hanya perlu menyadari talenta yang kita punya dan tanggungjawab yang TUHAN berikan pada kita di kehidupan kita ini.

Jika kita gagal mengisi hidup kita yang cuma sekali ini dan gagal mendatangkan manfaat untuk banyak orang maka kemungkinana TUHAN akan memindahkan tanggungajwab kita pada orang lain karena kehidupan manusia dan sejarahnya dunia harus terus berjalan  dengan atau tanpa kita. Dunia tidak tergantung dengan kita tetapi tergantung pada kemurahan sang pencipta.

Maka ketika sang pencipta  sudah memindahkan tanggung jawab itu adri kita sesungguhnya kita sudah MATI ditengah kehidupan kita....kita mungkin masih bernafas, masih bisa berjalan kesana sini tetapi kehadiran kita tidak berarti apa-apa untuk kehidupan ini dan tidak berdampak apa-apa untik sesama kita. bahkan di banyak kasus kehadiran kita menjadi masalah untuk orang lain dan kelangsungan dunia ini dan memerlukan orang lain untuk membereskan masalah yang kita timbulkan.

Ini pertanyaan yang selalu menggelitik hatiku...apakah saat ini aku masih HIDUP ??? atau akau sudah mati katrena gagal mendatangkan manfaat untuk sesamaku......inilah evaluasi yang selalu aku terus ulang-ulang dalam hidup keseharianku.

Jika pertanyaan itu timbul maka aku kembali teringat pada Eyang kakungku yang hidup tahun 1903-1949...beliau yang ditahun produktifnya memilih menjadi peneliti jamur dan mencari jamur yang bisa membunuh bakteri sehingga manusia bisa bertahan hidup lebih lama serta tidak mati hanya karena infeksi yg disebabkan luka ringan. Eyang mendedikasikan hidupnya dan bersaing dengan peneliti di belahan dunia lain dalam menemukan solusi dari masalah bakteri yang mengancam kehidupan manusia. Eyang dipercaya memimpin Lembaga Pasteur bersama dr Sardjito dan di saat yang bersamaan Eyang juga menjadi Salah satu Dirjen di kementrian Kemakmuran (Perindustrian dan Perdagangan  sekarang) yang dengan visinya mendirikan STMA sekarang STMI dan menajdi cikal bakal sekolah kejuruan tehnik yang ada di negara kita. Umur Eyang cuma 46 tahun tetapi apa yang beliau tinggalkan sampai sekarang masih bisa dirasakan bangsa ini...detil silahkan baca di http://sukarnen.blogspot.com/ . Selain Eyang aku juga teringat sama Papaku yang punya semangat menolong sangat luar biasa dan bisa dibaca di tulisan dibawah....kedua orang ini mempengaruhi aku dan membuat aku berani memutuskan untuk hidup seperti aku ada sekarang.....mungkin belum sempurna tetapi aku akan selalu berusaha untuk bisa mendatangkan manfaat ke lebih banyak lagi sesamaku.

PENUTUP
Hidup memang Cuma sekali dan kemudian kita semua pasti mati. Tapi hidup yang sebentar dan Cuma sekali ini seharusnya sayang untuk dilewatkan begitu saja.  Dengan kesadaran penuh sebagai manusia ciptaan TUHAN yang mengenal dan mengasihi penciptanya maka sudah seharusnya kita mengisi hidup kita yang sementara ini dengan berbagai kegiatan yang bisa menjadi berkat  dan mendatangkan manfaat untuk banyak orang. Befikir untung rugi sudah bukan masanya karena hidup akan semakin komplek kalau kita berfikir untung rugi, seharusnya hidup bisa lebih menyenangkan jika semua kita bisa berbuat dengan iklas tanpa harus memikirkan keuntungan apa yang akan kita dapatkan. 

Semua kita memerlukan sesama dan tidak ada yang bisa hidup sendiri. Satu satunya cara supaya sesame kita suka bergaul dengan kita adalah dengan cara bergaul dengan mereka. Bergaul dengan memikirkan untung rugi hanya akan membatasi pergaulan  kita dan ujung-ujungnya membuat kita hidup terpisah serta terisolir. Memang uang bisa membeli banyak teman tetapi tidak bisa membeli sahabat dan persahabatan. Banyak case yang walau kita punya uang banyak kita tidak bisa memakai uang kita contoh ketika kita mengalami kecelakaan pesawat dan jatuh di hutan atau laut, ketika kita mengalami kecelakaan lalulintas parah dll dll….disini kita memerlukan  orang yang mau mengorbankan kesenangan dan waktu pribadinya untuk sekedar menolong kita yang mereka tidak kenal. So kalau mau ditolong ketika emergency situasi menghampiri sudah seharusnya kita juga mau menolong orang lain.

Setelah hidup yang sementara ini kita juga perlu orang lain untuk menguburkan kita atau sekedar membakar jasad kita. Kita juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk diri kita sendiri. Setelah kita mati harta yang kita tumpuk selama kita hidup juga akan menjadi kesia-siaan dan kita tidak bisa memakainya atau meminta orang lain untuk memakai sesuai kemauan kita. Keluarga kita yang menerima warisan kita akan memakai harta itu sesuai dengan kemauan mereka dan satu satu nya cara memastikan mereka memakai harta kita untuk tujuan yang mendatangkan berkat bagi banyak manusia adalah dengan memberikan pendidikan, pengertian dan teladan ketika kita masih hidup. Setelah kita mati maka semua sudah berlalu dan kita hanya perlu mempertanggungjawabkan perbuatan kita di depan TUHAN dan ini siding pengadilan yang tidak bisa disogok dan uang serta harta tidak ada artinya sama sekali.

Jadi mari kita manfaatkan waktu yang ada dengan sebaik mungkin karena itu maunya TUHAN untuk kita semua. HIDUP CUMA SEKALI DAN KEMUDIAN MATI, apa yang kita mau orang kenang akan diri kita …..lakukan sekarang karena hanya perbuatan dan karya kita yang akan dikenang orang dan BUKAN HARTA DAN UANG KITA…..SELAMAT BERKARYA