Papaku dilahirkan dan bertumbuh di Solo, kota budaya dan
jantungnya pulau Jawa (kata sebagian orang). Solo merupakan kota dengan
kerajaan yang sebetulnya umurnya lebih
tua dari Jogja tetapi karena pilihan yang salah dari Sultan Solo pada masa
kemerdekaan maka peran Solo tidak sebesar Kesultanan Jogja dalam sejarah
kemerdekaan Indonesia. Tapi budaya Solo yang memang sudah sangat tua membuat
masyarakat disana tumbuh dengan budaya yang unik, mereka penuh dengan toto
kromo seperti kebanyakan budaya jawa tetapi di sisi lain juga proletar dan anti
kemapanan. Hampir tidak ada batas atau sekat antara orang tua dengan anak dan
antara keluarga kerjaan dengan rakyat. Di budaya seperti inilah Papa
dibesarkan, dia pribadi yang sangat menghormati dan mencintai orang tuanya
tetapi juga keras dalam memperjuangkan kemauannya/cita-citanya.
Papa lahir sebagai anak tertua dari dua bersaudara yang
keduanya laki-laki. Papa sempat diambil anak oleh Paman dari orang tua
kandungnya karena Pamannya ini tidak punya anak. Di keluarga angkatnya ini Papa
cukup dimanjakan dan mendapatkan apa yang dia inginkan terutama makanan
kesukaan beliau. Mungkin ini juga awal Papa tidak biasa makan sayur dan menjadi
penggemar daging khususnya kambing, he’s real meat lover.
Rumah orang tua angkat Papa dekat dengan pasar Klewer dan pasar
kambing di pasar kliwon, ini juga membuat pergaulan papa menjadi luas dan
membuat dia menjadi pribadi yang sangat mudah bergaul. Dia mudah untuk berteman
dan cepat akrab serta bisa membangun suasana akrab. Dia juga pribadi yang tidak
membeda-bedakan latar belakang temanya dan bergaul dengan siapa saja. Papa juga
tidak sungkan menolong orang tanpa pernah berfikir untung dan rugi. Kebiasaan
ini terbawa sampai akhir hayatnya dan selalu membuat rumah kami ramai dengan
teman Papa. Teman Papa yang banyak terlihat juga dengan banyaknya orang yang
berduka dengan kepergiannya dan rela meluangkan waktu untuk melihat beliau yang
terakhir kali.
Papa juga seorang yang keras dan pendidik yang baik. Hal ini
mudah dilihat dengan banyaknya saudara atau teman beliau yang menitipkan anak
mereka ke rumah kami. Ini juga membuat rumah selalu ramai dan mereka semua
sudah seperti kakakku sendiri. Aku juga tidak pernah kekurangan teman
bermain semenjak kecil dan membuat aku juga menjadi terbiasa bermain dengan
anak yang labih tua dan real man (baca Bandel dimata dunia). Mereka semua
sekarang rata-rata sudah jadi orang dan punya kedudukan dan tetap menganggap Papa
sebagai orang tua mereka.
Papa juga teman yang baik dan selalu mengingat temannya
serta mau bersusah payah untuk mengurus temannya, tidak heran sampai usia
tuanya beliau masih aktif di alumni SMP dan SMA nya selain alumni AMN tentunya.
Beliau juga cukup aktif di kegiatan alumni tersebut dan kegiatan alumni SMA dan
SMP beliau juga cukup banyak
kegiatannya. Beliau suka bilang di usia tua maka teman adalah hal yang paling
berharga dan pesan ini yang selalu terngiang di telinga saya sampai sekarang.
Selulus SMA Papa sempat kuliah di Fakultas Ekonomi UI tetapi
karena masa sulit pada saat itu maka beliau kesulitan membayar uang kos, makan
dan uang kuliah ditambah semangat mandiri beliau yang tidak mau menyusahkan
orang tuanya maka beliau memtuskan untuk masuk AKABRI dan diterima di tahun
1961 di AMN dan mulailah beliau pindah studi ke Magelang. Di kota ini Papa
mulai bertemu dengan Mama dan mungkin ini juga cara TUHAN menyatukan cinta
mereka berdua. Setelah diterima di AMN Papa berencana memberitahukan ke orang
tua perihal perpindahannya dari UI ke AMN dengan mengenakan seragam kebesaran
AMN nya. Orang tua Papa tidak tahu karena Papa punya orang tua angkat dan di
aktenya nama orang tua angkat yang tertera sehingga orang tua angkatnyalah yang
memberi persetujuan. Bisa dibayangkan betapa terkejutnya Orang tua kandung Papa
melihat anaknya pulang dengan pakaian AMNnya dengan bangga. Orang tua papa
cukup marah dan kecewa karena gagal melihat anaknya menjadi sarjana ekonomi
lulusan UI tetapi Papa dengan sabar menjelaskan alasannya diantara terbebasnya
orang tua papa dari tanggungjawab membiayai dan kepastian mendapat pekerjaan
yang di saat itu cukup susah. Orang tua papa bisa mengerti walau tetap tidak
setuju dan meminta Papa menasehati adik laki satu-satunya untuk tidak mengikuti
jejaknya masuk AMN. Papa menuruti perintah orang tuanya dan meminta adik
satu-satunya tidak masuk AMN tetapi menyarankan untuk masuk AAU atau AAL dan adik
papa setelah lulus SMA memutuskan untuk masuk AAL. Hal ini yang selalu
diceritakan berulang-ulang oleh almarhum kakek saya sambil masih ada rasa
gondok sama anak tertuanya tetapi juga terselip kebanggaan karena kedua anak
laki-lakinya bisa menjadi orang yang bisa dibanggakan.
Sebagai ABRI Papa sangat bangga dengan Negara dan Korpsnya.
Papa rela dikirim kemedan tempur atau kemana saja asal demi membela kepentingan
Negara dan dimata Papa semua idealis dan tidak ada warna abu-abu. Papa Cuma
punya warna hitam dan putih serta sangat ketat memegang kepercayaannnya. Tidak
ada yang bisa mempengaruhi dia baik itu orang tua, anak, istri, teman dll. Asal
demi Negara buat Papa tidak ada untung
dan rugi.
Semoga sekilas latar belakang Papa ini bisa memudahkan kita yang membaca
dan tidak mengenal Papa untuk menyadari latar belakang tindakan, perkataan dan perbuatannya kepada
kita anak-anaknya, istrinya, temannnya dan juga adiknya Papa berserta
anak-anaknya serta saudara saudara lainnya.
Masa Kecilku
Aku lahir di Padang 45 tahun yang lalu, lahir sebagai anak
yang karena kondisi menjadi sulung. Seharusnya aku anak kedua tetapi kakak
perempuanku dipanggil TUHAN ketika dilahirkan karena kalung usus. Masalah yang
harusnya mudah ditangani dan tidak harus merenggut nyawa kakakku jika teknologi
saat itu di Padang sudah tersedia. Hanya memang semua sudah direncanakan oleh
TUHAN dan saya akhirnya menjadi anak yang kelahirannya sangat ditunggu-tunggu
sebagai pengganti kakak yang meninggal dan sekaligus cucu pertama dari keluarga
besar Papa.
Lahir dalam kondisi sangat diharapkan banyak orang pasti
membuat kehadiranku di dunia seperti di Surga dan limpahan kasih sayang aku
rasakan dari semua orang di sekitarku.
Seolah-olah aku melalui masa kecil tanpa harus banyak meminta semua yang
kuperlukan sudah tersedia. Makanan dan
minuman yang bergizi aku dapatkan dan mungkin ini yang membuat badanku lebih
tinggi dari saudaraku dan mungkin tertinggi di keluarga besar Papaku. Kalau di keluarga besar mama memang
banyak yang tinggi dan aku termasuk juga dalam kelompok yang cukup tinggi.
Kalau di TV banyak dilihat anak kecil yang kekurangan gizi maka jaman aku
balita dokter pernah menyarankan ke orang tuaku untuk mengurangi asupan makanan
khususnya yang berbahan dasar dari kuning telur.
Sebagai anak satu satunya aku rasakan selama 2 tahun dan
kemudian adiku lahir setiap 2 tahun yang pertama perempuan dan yang paling
bungsu laki-laki. Adik perempuanku lahir di Pekanbaru Riau dan adik laki-lakiku
lahir di Solok Sumatra Barat. Kami bertiga benar-benar PUJAKUSUMA alias Putra
jawa kelahiran Sumatra. Inilah resiko anak militer yang tugasnya selalu
berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya.
Sebagai anak militer masa Balitaku di Sumatra juga
dihabiskan banyak di Hutan menemani Papa menyalurkan hobi berburu. Kebiasaan
berburu dan makan binatang buruan ini yang mungkin juga membuat aku menjadi
meat lover sejati alias pencinta daging. Seolah-olah aku hanya kenal satu jenis
makanan yaitu serba daging dan Cuma kenal satu jenis sayuran yaitu sayur daging
hehehehehe…..hampir semua jenis burung dan mamalia di hutan aku pernah makan
dan biasa aku makan semenjak kecil. Bahkan kalong/kelelawar besar pun mamaku
bisa mengolahnya menjadi masakan yang enak dan bumbunya serta cara mengolahnya
didapat dari teman Mama dan Papa yang berasal dari Menado. Saat itu bener-bener
tidak ada binatang hutan yang tidak bisa dimakan dan pada saat itu berburu
belum dilarang karena binatang masih banyak di hutan.
Pada saat di Sumatra ini tidak ada hari yang kami lewati
tanpa kehadiran papa dan mama. Papa walaupun seorang militer punya banyak waktu
buat kami. Apalagi Papa saat itu selalu menjadi kepala/komandan karena saat itu
lulusan AKABRI/AMN masih sedikit . Rumah kami selalu di dekat kantor Papa dan
ini juga menyebabkan interaksi dengan Papa menjadi mudah karena makan pagi,
siang dan Malam hamper selalu kami lewatkan bersama, kecuali papa mendapat
tugas ke luar kota.
Seperti biasa semua kesatuan militer di daerah biasanya
punya sekolah binaan dan Mama sebagai istri komandan biasanya juga dipercaya
memimpin yayasan sekolah di tempat Papa ditugaskan. Kondisi ini membuat saya punya kesempatan
sekolah lebih cepat, karena biasanya mama mengajak saya kalau sedang bertugas
di sekolah dan menitipkan saya ke guru di sekolah itu. Akhirnya tanpa sengaja
saya bosen sekolah bermain (Tk) dan mulai menuntut untuk masuk ke sekolah yang serius
SD padahal saat itu umur saya belum 5 tahun. Di saat Papa dan Mama pusing
dengan permintaan saya, Papa mendapatkan
penugasan untuk sekolah militer lagi di Cimahi.
Ketika Papa melanjutkan sekolah di Cimahi aku dan kedua
adiku dititipkan ke orang tua papaku di Solo dan kebetulan sekali rumah Embahku
pas di depan SD. Akhirnya aku bisa sekolah di SD dengan status dititipkan dan
kepala sekolahnya tidak enak sama embahku. Melewati hari yang menyenangkan
sebagai anak SD yang punya sekolah pas di depan rumah membuat aku merasa
sekolah bukan beban dan malah menyenangkan membuat aku bisa mengikuti semua
pelajaran dan akhirnya aku malah bisa mendapat nilai yang cukup baik .
Tanpa terasa masa sekolah Papa sudah selesai dan papa
ditugaskan menjadi guru di PUSDIKPOM dan mendapat rumah dinas di Cimahi.
Akhirnya saya dan adik-adik ikut pindah ke cimahi dan menempati rumah dinas
yang di depannya ada lapangan sepakbola, Voley dll yang cukup luas. Lokasi yang menyenangkan untuk melewati masa
kanak-kanak dimana jika mau bermain di lapangan cukup ke depan rumah, jika mau
main ke sawah cukup ke belakang rumah dan jika mau main ke sungai cukup ke
samping rumah. Lokasi yang pada saat itu seperti surge rasanya buat kami
anak-anak kecil dan saya menghabiskan 9 tahun umur saya di Cimahi sampai kelas
3 SMP.
Di Cimahi ini aku meraskan juga kedekatan dengan Papa dimana setiap sore kami pasti bermain bola bersama dan papa mengajariku. Pagi hari
sebelum sekolah Papa juga selalu mengajak aku lari pagi dan sepulang sekolah
atau hari libur Papa selalu memaksa aku untuk berenang. Papa tidak pernah
meminta aku ikut les atau ikut pelajaran tambahan yang materinya ada di
sekolah, Papa meminta aku untuk aktif berolahraga dan beliau tidak hanya
menyuruh tetapi menemani. Kalau dari sisi teman Papa mereka bilang bukan Papa
yang menemani aku tetapi sebenernya Papa yang meminta aku menemani beliau
berolahraga yang merupakan hobinya. Buat
aku kedua pendapat itu tidak penting yang penting bisa bermain dan berolahraga
bersama.
Setiap hari minggu sebulan sekali sepulang gereja biasanya Papa dan Mama ajak
aku ke taman lalu-lintas dan bermain disana. Dulu taman lalu lintas sepertinya
menjadi satu-satunya taman bermain di Cimahi-Bandung . Kalau bosan maka kebun binatang menjadi
alternatifnya dan lokasinya kebetulan berdekatan. Sepulangnya kami sekeluarga
berjalan-jalan ke alun-alun dan mengunjungi mungkin satu-satunya toko besar di
Bandung yang bernama DESON dan kemudian ketika saya sudah SMP mulai ada Dallas
dengan bioskopnya. Sedikitnya jumlah mall saat itu membuat aktifitas di luar
rungan kita jaman kecil menjadi cukup banyak. Di masa kecil ini saya juga cukup
aktif mengikuti kegiatan Pramuka yang diadakan di kesatuan Papa dan akibatnya
saya tidak aktif di Pramuka sekolah. Pramuka dengan kempingnya masih merupakan
kegiatan yang cool dan menarik buat banyak anak kecil pada masa itu. Di Pramuka
ini peran mama lebih menonjol karena Mama kebetulan aktif di Pramuka semenjak
kecil dan di Gugus Pramuka di kesatuan Papa , mama punya posisi cukup sentral.
Kebersamaan kami ini agak terusik sedikit ketika aku kelas 5
Papaku dipindahkan ke Jakarta. Hal ini membuat aku punya kegiatan rutin setiap
akhir minggu secara berganti-gantian berkunjung ke Jakarta atau Papa yang
pulang ke Cimahi. Mulanya kondisi ini menggangu tetapi dalam waktu tidak
terlalu lama menjadi aktifitas yang menyenangkan buat aku dan sekaligus
membuang kebosanan. Lebih menyenangkan
lagi karena Papa dapat rumah dinas di daerah Kwitang Senen yang masih termasuk
pusat kota dan deket dengan Proyek Senen sebagai salah satu pusat perbelanjaan
dan permaianan anak di Jakarta serta Gelanggang Olahraga Senen sebagai tempat
berenang yang menyenangkan pada saat itu. Menyenangkan sekali bisa bermain di
Jakarta dan Cimahi secara bergantian dan membuat hidup menjadi lebih menarik
dan berwarna. Papa juga memberi warna lebih karena ada saja ide beliau untuk
membuat kami anak-anaknya cukup bisa menikmati masa kanak-kanak seperti pergi
bersama ke Sumatra atau secara rutin setiap lebaran kami kembali ke kampong Mama
dan Papa di Magelang dan Solo. Walaupun kami tidak merayakan lebaran tetapi
keluarga besar kami banyak yang merayakan lebaran dan kesempatan berkumpul di
saat lebaran adalah kesempatan yang menyenangkan buat kami semua.
Masa-masa di Padang, Solok dan Pekanbaru….
Aku lahir di Padang ketika Papa harus bertugas di Denpom
Padang setelah beliau menikah dengan Mama di tahun 1965. Mama dan Papa
sebetulnya dikarunia Tuhan anak pertama wanita yang sayangnya ternyata TUHAN lebih
sayang dengan dia dan harus kembali ke pangkuan Tuhan sebelum sempat merasakan
dunia. Padang ketika itu belum banyak
faslitas kesehatan dan kakakku tidak bsia dilahirkan dengan selamat karena
kalung usus. Papa dan Mama sangat terpukul dan kegembiraan karena lahirnya
jabang bayi pertama di pernikahan mereka juga hilang sudah dan mereka harus
kembali menata hati dan hidup mereka bersama. Tetapi Tuhan baik dan berselang
setahun kemudian saya hadir dan menjadi anak yang seolah-olah sangat diharapkan
dan menjadi pengganti dari kakak yang meninggal ketika dilahirkan. Di keluarga
papa aku juga cucu pertama dan pasti juga merupakan cucu yang diharapkan sama
kakek dan kakek angkatku.
Di Padang aku juga masih terlalu kecil untuk mengingat
kejadian disana karena ketika berumur belum dua tahun aku sudah harus ikut Papa
pindah ke Pekanbaru dan disini adikku Dewi dilahirkan. Dia adalah cucu pertama wanita di keluarga
besar Papa dan mungkin juga wanita
pertama di trah keluarga Papa setelah papa dan adiknya yang keduanya laki-laki.
Di Pekanbaru juga tidak terlalu lama kami jalani dan kami kembali harus kembali
pindah mengikuti perpindahan tugas Papa ke Solok. Tidak terlalu banyak juga
memoriku ttg Pekanbaru karena umurku belum 4 tahun ketika harus pindah ke Solok
dan disini juga adiku Agung/Tio yang dilahirkan. Di Solok kami juga tidak terlalu
lama karena ketika umur 5 tahun Papa sudah dipindahkan kembali ke Jawa untuk
ikut sekolah/kursus lanjutan perwira (Suslapa).
Masa kecilku di Sumatra sebagai anak tentara aku terbiasa
diajak keluar masuk hutan untuk menemani Papa menyalurkan hobi berburunya. Biasanya Burung, Rusa, Babi Hutan, Tupai,
kalong atau binatang yang tidak dilindungi (pada masa itu) serta menjadi hama
buat perkebunan masyarakat yang
dijadikan sasaran Papa berburu. Hobi berburu Papa ini membuat asupan protein
hewani yang cukup terjamin untuk aku dan adik-adik ku semenjak kecil. Kebiasaan
makan daging ini juga membuat aku menjadi seorang meat lover seperti Papa. Selain itu kebiasaan keluar masuk hutan dan
bergaul dengan siapa saja membuat tanpa disadari Papa sudah mengajarkan
kepadaku cara bergaul dan terbiasa memulai pergaulan dengan orang yg asing/baru
kita kenal. Kebiasaan keluar masuk hutan ini juga membuat kami tidak tumbuh
menjadi anak yang jijikan atau terlalu menjaga kebersihan walau kami juga tidak
jorok. Papa dari kecil sangat memperhatikan kerapihan penampilan dan kita tidak
boleh keluar rumah kalau baju tidak rapi dan dimasukan, rambut rapi, pakai ikat
pinggang dll. Kombinasi yang menarik dari didikan masa kecilku bersama papa
dimana keberanian, petualangan tetapi juga dicampur dengan kedisplinan dengan
salah satu cirinya kerapihan yang menjadi ciri militer tetapi tidak kaku
menjadi ciri kepribadianku yang ditanamkan Papa padaku.
Masa di Magelang dan Solo :
Tahun 1973 Papa harus pindah ke Cimahi karena harus
mengikuti pendidikan lanjutan sebagai Perwira AD. Dalam proses perpindahan ini
aku dan adik-adik dititipkan di rumah Eyang (ibunya mama) di Magelang. Aku tinggal bersama Eyang dan Kakak Mama
(Bude) dan anak-anaknya. Kebetulan Bude adalah guru di salah satu TK dan untuk
membuang waktu bosan dirumah maka aku ikutan juga sekolah di TK tempat Bude
mengajar. Proses pengurusan perpindahan
ini memakan waktu sekitar 6 bulan dan Mama medampingi Papa untuk kembali ke
Sumatra dan mengurus semua dokumen perpindahan serta melakukan proses serah
terima pekerjaa Papa kepada penggantinya.
Tahun 1974 aku harus pindah tinggal di Solo karena Papa
harus mengikuti pendidikan di Cimahi. Aku dan adik-adik tinggal sama Embah di
Solo (Orang tua Papa) dan kebetulan rumah Embah pas di depan SD Dadap Sari
Sangkrah Solo maka akupun kembali bisa sekolah dengan mudah dan dekat.
Kebetulan ketika pindah ini sudah masuk tahun ajaran baru dan pindah ke Solo
akan memudahkan aku ke sekolah dibandingkan aku harus tinggal di Magelang dan
berjalan cukup jauh ke sekolah.
Perpindahan dari Solok-Magelang-Solo yang dilakukan dalam
waktu cuma 6 bulan sampai 1 tahun ini
mungkin juga salah satu cara Papa mengajariku caranya beradaptasi dengan
lingkungan baru. Aku menghabiskan kelas 1 ku selama 2 catur wuan di SD
Dadapsari Sangkrah jadi sekitar 6 bulanan juga aku tinggal dan bersekolah di
Solo.
Masa enam bulan tinggal di Magelang dan enam bulan tinggal di Solo juga merupakan
masa indahku untuk mengenal Eyang dan
Embah yang belum aku kenal sama sekali.
Aku yg lahir di Sumatra dan jauh dari mereka saat itu punya kesempatan tinggal
bersama mereka dan merasakan didikan yang pernah didapat juga oleh Mama dan
Papaku dari orang tuanya.
Masa tinggal sama Eyang dan Embah juga masa yang indah
karena di saat itu kami bertiga benar benar dimanja. Masa kecil yang menyenangkan sayang kembali
kami harus pindah ke Cimahi untuk tinggal bersama Papa dan Mama. Papa saat itu
sudah menjadi guru militer di sekolah militer Pusdikpom di Cimahi. Kembali aku harus pindah dan punya
teman baru serta bahasa yang baru juga , dari bahasa jawa menjadi bahasa sunda.
Untung bahasa Indonesia sudah mulai
dipakai di sekolah jadi aku tidak perlu berganti ganti bahasa walau
pindah-pindah 4 daerah dalam waktu hanya satu tahun terakhir mulai dari Solok
di Sumatra Barat, Magelang dan Solo di
Jawa Tengah dan Cimahi di Jawa Barat. Masa kecil yang cukup sulit untuk selalu
beradaptasi dengan sekolah dan teman baru.
Masa di Solo walau hanya aku lewatkan sebentar tetapi teman
SD ku relative aku kenal sampai sekarang karena rata-rata temanku di sekolah
adalah anak yang tinggals atu kamping dengan embahku. Aku juga banyak menghabiskan masa liburan
sekolah di Solo sampai aku lulus SMP jadi relative hubungan pertemanan bisa
terjaga.
Masa di Cimahi
Tahun 1974 bulan Agustus
pertama kali aku pindah ke Cimahi dan pertama kali juga aku harus
tinggal di komplek Militer. Kita
penghuni komplek banyak yang bersekolah
di sekolah yang sama dan kami bisa ikut ke sekolah dengan mobil jemputan
Bapak-bapak kami ke kantor.
Teman bermain di rumah dan sekolah yang mirip dan banyak
yang sama ini membuat suasana sekolah menjadi lebih akrab dan sekolah menjadi
menyenangkan. Cimahi juga bukan kota besar dan mayoritas komplek tentara sehingga
membuat suasana sekolah makin akrab, apalagi ditambah teman sekolah biasanya
juga anak dari teman Papa di AMN atau di kesatuan yang sama. Suana penuh rasa
kekeluargaan yang terjaga sampai sekarang.
Kami cukup lama menghabiskan masa kecil di Cimahi dari mulai SD sampai
SMP kelas 3 atau sekitar 9 tahun, ini juga membuat hubungan pertemanan dengan
teman-teman menjadi semakin akrab karena bermain bersama dalam masa yang cukup
lama.
Di Cimahi ini aku juga menghabiskan banyak waktu-waktu indah
bersama Papa. Mulai dari Papa yang membangunkan aku setiap pagi dan mengajak
berlari pagi, berenang bersama, bermain sepatu roda atau bermain sepakbola
bersama. Papa bener-bener menjadi teman bermainku bersama teman-teman. Papa
juga menjadi hakim yang baik jika da pertengkaran sesame anak kecil dan
terkadang cara menyelesaikannya diluar kebiasaan. Pernah satu kali ketika
sedang rebut sama teman bermainku dia memakai pancing yang menyebabkan luka
yang cukup serius di wajahku. Aku sangat
marah dan Papa mencoba meminta aku memaafkan temanku hanya aku begitu marahnya
dan tidak mau mendengar saran Papa. Tiba-tiba Papa menggandeng tanganku ke
rumah temanku yang melukaiku yang kebetulan juga rumah temannya. Setelah Papa
berdiskusi dengan temannya maka anaknya dipanggil dan kami diminta berkelahi di
depan mereka berdua. Kami berkelahi sampai capai dan akhirnya berdamai. Setelah
damai aku dan temanku bertanya ke Papa , apa yang dia bicarakan sehingga kami
bisa diadu begini. Papa bilang ini anak-anak berkelahinya sudah pakai alat dan
berbahaya, daripada mereka berkelahi dibelakang kita lebih baik kita adu saja
tapi harus dengan tangan kosong sehingga tidaka da sakit hati lagi diantara
anak-anak ini dan orang tua teman saya (teman papa juga) setuju. Akhirnya kita
diadu sampai damai.
Banyak sekali kenangan masa kecilku dengan Papa termasuk
hamper setiap minggu beliau mengajak aku dana dik-adik ke Taman Lalu lintas
atau kebun binatang atau sekedar jalan-jalan ke Deson dan alun-alun Bandung.
Pola didikan keras, disiplin ala militer bercampur dengan
kasih sayang yang tulus dan besar dari Papa kepada anaknya itulah yang aku dan
adik-adikku rasakan semasa kecil. Papa juga mengajariku untuk berbagi hidup
dengan sesame bukan dengan kata-kata tetapi dengan tindakan beliau mengambil
anak angkat/menyekolahkan /mecarikan pekerjaan anak mantan anak buahnya atau
saudara –saudara di Solo. Papa juga banyak membantu orang yang dimarginalkan
atau dipidanakan bukan karena kesalahan nya. Papa bener membantu dengan tulus
dan tidak pernah hitung hitungan untung dan rugi. Kebiasan Papa berbagi hidup
yang ditunjukan dengan teladan kepada kami ini yang membuat kami terbiasa untuk
hidup buat orang lain juga dan tidak hanya untuk diri sendiri. Memang teladan
itu memberi kesan lebih kuat dari sejuta kata-kata nasehat.
Masa di Jakarta :
Tahun 1983 aku pertama kali pindah full time di Jakarta
setelah semenjak akhir tahun 1970 an hanya sesekali di hari Sabtu Minggu aku
menghabiskan waktu dengan Papa di Jakarta. Aku dan adik-adik masih di Cimahi
sementara Papa karena tugasnya harus menghabiskan waktu di Jakarta. Akhir
minggu jika Papa tidak bisa ke Cimahi maka kami yang ke Jakarta. Kehidupan
terpisah ini membuat kerohanianku sedikit terganggu karena waktu ke Gereja ku
menjadi terganggu dan jika harus ke Gereja di Jakarta aku tidak ikut Sekolah
Minggu tetapi di ibadah dewasa.
Tahun 1983 ketika aku pindah Jakarta aku masih ingat hari
pertama aku masuk sekolah ujian akhir SMP untuk mata pelajaran praktek olahraga
sudah dimulai dan karena banyak cabang
olahraga yang diujikan maka aku harus langsung mengikutinya. Berenang adalah
mata pelajaran pertama yang harus aku ikuti ujiannya dan tantanganku bukan
berenangnya karena sebagai anak tentara berenang adalah makanan sehari-hari,
tetapi menemukan Kolam Renang Mester karena itu hari pertamaku di Jakarta.
Setelah berkenalan dengan beberapa teman baru di SMP 20 akupun janjian dengan
mereka untuk jalan bersama ke kolam renang dan ujian renangpun sukses. Ujian
olahraga hamper semua tidak ada kendala yang berarti karena Papa mengajariku hampir
semua olahraga. Pelajaran sekolah dan ujian-ujiannya di SMP baruku di Jakarta
juga tidak terlalu sulit aku lewati karena kebetulan di Cimahi sekolahku sudah
menyelesaikan semua bahan pelajaran, jadi aku mengikuti pelajaran di Jakarta
seolah-olah ulangan pelajaran saja. Akupun lulus dengan hasil yang baik dan ini
juga startegi Papa yang ingin aku anaknya melanjutkan sekolah di SMA Negri di
Jakarta. Papa melihat jika aku menamatkan SMP ku di Cimahi maka akan susah
masuk SMA di Jakarta dari jalur normal.
Papa seolah sudah mengatur jalan hidupku dan mengarahkan
sedemikian rupa tanpa harus memaksa anaknya dengan kekerasan. Untuk
mempengaruhi aku masuk sekolah SMA
favorit dan yang diingini Papa maka Papa cukup ajak aku ke beberapa
sekolah di Jakarta Timur dan membiarkan aku memilih yang menurut aku terbaik.
Untuk mempengaruhi aku supaya mau masuk Fakultas Tehnik dari SD aku sudah
diajak sama Papa untuk bergaul dengan temannya yang memiliki pabrik atau
bergelut di bidang business yang berhubungan dengan kemampuan engineering. Relatif cita-citaku dari kecil tidak pernah
berubah dan kalau ditanya orang selalu bilang ingin jadi insinyur. Hanya jurusannya yang sedikit berubah-rubah
dari ingin jadi insinyur Tehnik Sipil karena meilihat banyak gedung bagus di
Jakarta, terus berubah jadi insinyur mesin karena melihat banyak mobil bagus
sampai akhirnya ketika SMA bulat mau jadi insiyur Kimia karena ternyata saya
jatuh cinta sama pelajaran Fisika dan kimia.
Di perjalanan cita-citaku ini papa selalu menjadi teman diskusi yang
sepadan dan di banyak case dia cukup membawa ke temannya dan melihat usaha
temannya jika ingin menjawab pertanyaanku. Ini juga sekalian mengajari aku
untuk senang bergaul dan berteman dengan banyak orang karena itulah yang akan
membuat hidup kita menjadi lebih mudah di kemudia hari.
Selain mendorong aku untuk terus belajar, Papa juga
mendorong aku untuk aktif di organisasi
baik di gereja maupun di tempat lain. Sebagai anak militer aku juga sempat ikut
di organisasi anak tentara dan anehnya
disini Papa sedikit marah dan mengarahkanku. Aku masih ingat Papa bilang kamu
mau jadi professional di organisasi itu atau mau serius sekolah. Papa takut
pergaulan anak tentara waktu itu yang dekat dengan dunia kekerasan mempengaruhi
aku. Papa meminta aku lebih aktif di organisasi gereja, sosial atau sekolah
dengan alas an aku masih terlalu muda untuk masuk ke organisasi anak tentara
yang rentang umurnya hampir tidak dibatasi, ada yang masih SMA da nada ada yang
sudah seusia Papa pada saat itu atau 45-50 an. Disini aku bersyukur Papa
mengarahkanku dengan cara yang elegan dan seolah-olah itu keputusannku dan aku
juga tidak merasa dipaksa ketika memilih organisasi yang papa setujui tapi aku
senangi untuk aku geluti. Papa dukung aku luar biasa untuk keaktifanku di
organisasi Gereja, social atau sekolah. Papa tidak pernah marah jika aku pakai
vilanya atau mobilnya atau bahkan uangnya untuk acara-acara di organisasi itu.
Buat Papa pengalaman organisasi sama pentingnya dengan pengalaman belajar di
sekolah dan Papa terus dukung aku untuk mau aktif dan terlibat dalam
kepengurusan, karena menurut beliau itu akan sangat membantu aku di masa
depan. Papa juga selalu mengingatkan aku
untuk buat persiapan sebelum rapat di organisasi yang aku ikuti dan tidak hanya
sekedar datang, beliau juga mau aku serius dan punya motivasi melayani orang
lain, membantu teman dan memberi manfaat ke banyak orang ketika menuangkan
pemikiran aku. Kebiasaan persiapan
sebelum rapat membuat aku seringkali diminta memmpin organisasi atau minimal
rapat yangs edang berlangsung. Aku bersyukur punya Papa yang wawasannya jauh ke
depan dan membuat hidupku sekarang relative mudah.
Masa-masa di Jakarta bukanlah lagi masa-masa bermain
bersama, walau kami tetap melakukan perjalanan bersama setiap lebaran ke jawa
atau ketika liburan sekolah ke Sumatara atau tempat wisata lainnya bersama.
Masa di Jakarta adalah masa Papa membantu pembentukan karakterku, cara
bergaulku, cara pandangku dll. Di masa ini juga Papa terus terapkan pentingnya
untuk peduli dengan kesulitan orang lain dan tidak itung-itungan ketika
membantu orang. Buat Papa kebaikan TUHAN ke kita sudah lebih dari cukup dan
kalau kita bisa bantu orang lain itu tidak sebanding dengan yang sudah DIA
lakukan untuk kita. Terus berbuat untuk orang lain karena hidup kita dinilai
dari manfaat yang kita berikan untuk banyak orang. Papa pegang sekali pandangan
hidup ini walau sekali-kali beliau masih kompromi dengan kesenangan pribadinya,
tapi itu biasa tidak ada manusia yang bisa 100% waktunya diberikan untuk orang
lain.
Aku suka cara Papa membentuk karakterku & adik-adik dan
aku pikir ini yang harus kita sama-sama pelajari untuk bisa kita pakai mendidik
anak-anak kita. Memang sangat Tidak mudah dan sangat memakan waktu, jauh lebih
mudah langsung saja marah dan kasih perintah ke nak sesuai mau kita. Tetapi
dari efektifitas mungkin cara Papa akan
jauh lebih baik dan relative tidak ada masalah berarti dengan anak-anaknya.
Walau di bidang lain Papa punya kelemahan dan kadang membuat kita sebagai anak
sakit hati, tetapi untuk cara mendidik kita harus akui Papa memang sabar.
Dari semua pretasi yang aku pernah buat baik juara di
sekolah, juara lomba karya ilmiah LIPI di jaman SMP, hanya berhasil masuk FTUI yang membuat Papa
sangat bangga. Dia selalu dengan bangga menceritakan ke semua teman-temannya
tentang aku. Di sisi lain ini sangat membebani aku karena aku harus buktikan
kalau aku layak dan bisa lulus cepat juga dari FTUI. Keberhasilan aku lulus
sebagai salah satu lulusan tercepat di angkatan aku kembali membuat Papa bangga
dan ini juga kali pertama Papa datang ke kampusku untuk menghadiri Wisudaku.
Karena ingin membahagiakan beliau maka aku berusaha mencari undangan VIP dari
beberapa Profesor di kampus yang tidak bisa hadir wisuda, supaya mobil Papaku
bisa parker dekat dengan balairung tempat wisudaku. Aku benar-benar bisa
melihat wajah bangga Papa ketika hadir di Wisudaku dan berfoto bersama.
Papa memang papa dengan pribadi dan kepribadiannya yang
menarik dan unik. Beliau akan selalu dikenang banyak orang mulai dari rakyat
kecil sampai pengusaha besar. Beliau memang
pribadi yang tidak menempatkan uang tidak di atas rasa sosialnya dan
semangat membantunya tetapi bukan juga tidak penting. Posisi yang win win dan
bisa membuat keluarag tidak keleleran tetapi juga tidak perlu hidup
berkelimpahan.
MASA PAPA SAKIT :
Papa sudah lama sekali kena penyakit asam urat +darah Tinggi
dan dokter sudah bilang kalau diet adalah satu-satunya obat untuk asam urat.
Diet itu artinya berpantang makan yang dia suka untuk Papa, padahal Papa tidak
bisa makan kalau tidak ada daging atau jerohan seperti otak, limpha, Ati, Usus
dkk. Papa Cuma kenal satu macam sayur
yaitu sayur gulai hehehehehehe….
Artinya Diet makanan menjadi sesuatu yang mustahil buat
beliau. Pernah satu kali ketika beliau terpaksa masuk RS karena karena tekanan darahnya naik sampai 240/140,
kami minta ahli gizi dan doter jantung untuk diskusi mengenai pentingnya
menjaga pola makan di usia senja. Kami
masih ingat sekali kata-kata Papa di akhir diskusi dengan para ahli itu “ Jika saya harus jaga pola makan saya, maka
saya pasti sehat dan itu saya tahu. Tidak perlu sekolah kedokteran atau Gizi
tinggi-tinggi buat tahu hokum sebab akibat itu. Tapi karena Dokter sudah
sekolah tinggi maka bisakah memebri nasehat ke saya supaya saya bisa tetap
makan enak dan tetap sehat ?” Pertanyaan mendasar dan sangat logis tetapi
susah dijawab sama para ahli sekalipun.
Singkat kata Papa tetap makan seperti biasa dan sebagai
kompensasinya dokter memberikan dia obat supaya dia bisa tetap beraktifitas dan
asam uratnya tidak membuat persendiannya kaku atau tekanan darahnya menjadi
naik tidak terkendali yang membahayakan jiwanya. Kebiasaan makan obat dan makan
sembarangan ini membuat ginjal Papa
menyerah dan akhirnya fungsinya terus menurun. Akibatnya tidak ada cara lain
selain cuci darah.
Papa mulai rutin cuci darah semenjak Juli tahun 2009 dan
seminggu dua kali beliau pasti harus ke rumah sakit untuk cuci darah. Cuci
darah juga membuat Papa bebas makan makanan kesukaannya terutama menjelang cuci darah. Dari semua
jenis makanan hanya buah-buahan (selain papaya) yang sangat dilarang untuk
dimakan oleh Papa. Pernah sekali di
tahun 2011 karena sangking inginnya beliau memesan rujak di tukang lewat dan memakannya,
akibatnya beliau harus tinggal di RS selama satu minggu karena kesulitan
bernafas. Semenjak itu beliau tidak mau lagi makan buah , tetapi Gulai tetap
menjadi menu harian beliau setiap hari.
Papa selalu taat dan disiplin cuci darah setiap minggu
karena buat beliau ini satu-satunga tiket untuk bisa makan enak. Beliau tetap
tidak kehilangan keceriaan walau harus cuci darah rutin dan selalu membawa
suasana ceria di ruang cuci darah dengan deretan pasien cuci darah di RSPAD
Gatot Subroto yang jumlahnya puluhan itu . Papa membawa sukacita dan keceriaan
untuk banyak teman beliau cuci darah yang mulai putus asa. Beliau selalu
mengajak bercanda dan menyemangati teman-teman cuci darah beliau yang
kehilangan sukacita karena penyakitnya.
Papa tidak pernah kehilangan pengharapannya dalam TUHAN dan
sukacitanya walau sakitnya sudah sangat parah. Papa yakin sekali kalau TUHAN
sudah menyelamatkan dia dan dia pasti dijemput TUHAN ketika ajal meraihnya.
Papa sangat tidak takut dengan kematian dan kamilah yang tidak bisa rela
melepas kepergian beliau. Kami selalu merasa suasana sukacita di rumah kami
bisa hilang jika sumber sukacita itu pergi meninggalkan kami.
Hari Sabtu dan Minggu adalah hari yang selalu
ditunggu-tunggu sama Papa dan biasanya dari pagi beliau sudah mandi dan
menunggu kedatangan cucu-cucunya. Cucu memang menjadi salah satu motivator
besar buat Papa melalui hari-harinya yang sudah tidak bsia beraktifitas seperti
dulu lagi. Tenaga beliau menurun drastis setelah cuci darah dan bermain dengan
cucu di rumah menjadi aktifitas yang sangat menyenangkan buat beliau. Cucu-cucu
juga senang bermain bersama Papa atau sekedar bermain dengan sesama cucu di
depan Eyangnya. Papa selalu sukacita ketika melihat cucunya bermain bersama
atau bersama dia. Anak-anak memang selalu membawa energy positif untuk semua kita.
Cucu-cucu baik itu anak saya atau anak adik saya atau kakak
angkat saya adalah orang-orang yang nasehatnya masih didengar sama Papa lebih
dari dokter dan kita anak-anaknya atau bahkan istrinya. Cucu-cucu bisa
menasehati Eyang buat disiplin makan obat, mengurangi porsi daging atau jerohan
di makanan eyang, mengajak Eyangnya sedikit berolahraga dll….Cucu-cucu bisa
bebas bicara sama Papa tanpa harus takut Papa menjadi tersinggung.
Waktu Terakhir Papa bersama kami :
Februari 2013 adalah masa-masa terakhir Papa bersama
kami. Awal February Papa kembali masuk
RS dan setelah dirawat selama bebrapa hari diperbolehkan pulang. Papa sudah
bisa kembali bicara dan diskusi tentang banyak hal terutama dengan adik ku Tio
dan Mama yang sering menunggu beliau di RS.
Februari tanggal 16 di hari Sabtu aku ajak anak ku yang
kebetulan sedang sakit juga untuk menengok eyangnya. Aku putuskan ke rumah Papa
dulu sebelum ke RS karena mama menelpon kalau Papa susah makan dan merasa
kesakitan badannya. Grace anak ku datang dan mengajak Eyangnya makan, anak yang
kalau di rumah suka minta disuapin kalau mau makan ….hari itu dia menawari
untuk menyuapi eyangnya. Eyangnya mau dan makan beberapa sendok disuapi Grace.
Senang kami melihat Papa bisa makan dan tersenyum.
Siangnya setelah makan siang jam 2 an kami ijin untuk antar
Greace ke RS juga dan kami pergi meninggalkan rumah Eyang menuju RS anak di
Cibubur. Dokter yang memeriksa Grace memutuskan supaya Grace dirawat karena
Deman Berdarah dan siang itu juga Grace harus mulai masuk RS. Di sisi lain Mama
menelpon aku kalau Papa anfal lagi dan harus diabwa ke RS. Aku telp adik ku
laki-laki supaya menamani dan aku jelaskan ke mama aku harus temani Grace di RS
juga.
Singkat cerita Papa dibawa ke RS dan semenjak itu Papa tidak
bisa lagi berkomunikasi dengan kami. Papa diberi alat bantu pernafasan dan
selang untuk makan. Hal ini membuat beliau tidak bisa berkomunikasi. Papa kondisinya terus turun dan aku membagi
waktu antara menunggu Papa dan anakku yang keduanya dirawat di RS.
Setiap aku tengok Papa di hati kecilku aku selalu percaya
beliau pasti bisa segera pulih lagi. Drop yang saat ini aku rasa tidak separah
tahun 2011 yang lalu dan aku sangat percaya beliau akan bisa pulih lagi. Tidak
terlintas sekecil apapun dikepalaku kalau Papa akan segera meninggalkan mama,
aku, adik-adik dan kami semua. Papa yang mantan Militer dengan kekuatan fisik
yang luar biasa serta selalu bisa melewati semua masa sulit, aku percaya saat
ini pasti beliau bisa juga.
Hari kamis tanggal 21 Februari aku putuskan menunggu anak ku
di RS dank arena kondisiku sangat lelah aku langsung tertidur di RS anakku
sepulang kerja. Aku tidur dan semua HP
ku dalam kondisi silent. Jam 3.30 HP istriku berbunyi dan dia mengangkatnya dan
kemudian aku dengar samar-samar dia menangis….aku tanya ada apa dan aku dapat
kabar kalau Mama menelpon dan memebritahukan kalau Papa sudah kembali ke rumah
Bapa di surga. Papa kembali dalam tenang di pelukan Mama dan setelah minta ijin
ke Mama kalau mau kembali dan Mama mengijinkan. Semua berlangsung dengan damai
tetapi berita itu buat aku di pagi buta itu tetap seperti gledek yang
mengagetkan.
Semua seolah berlangsung tdk sesuai dengan kehendakku dan
rencanaku. Semua terjadi tidak sesuai dengan perkiraanku. Aku belum siap
mendengar berita itu , kami semua masih butuh Papa tetapi kami sadar TUHAN
lebih sayang dengan Papa dan tidak mau
melihat Papa menderita dengan penyakitnya lebih lama lagi. Kami harus relakan
dan iklaskan kepergiannya dan perpisahan sementara ini. Kami yakin pasti akan
bertemu kembali di Rumah Bapa yang kekal.
Saat Saat Pemakaman Papa
Jumat 22 Feb 2013, jam 9 an , jenasah Papa sudah selesai
dimandikan dan dipakaikan baju kesukaannya (JAS Putih). Ambulance dari Tabitha
juga sudah sampai dan siap membawa Papa kembali ke rumahd ari RSPAD. Kembali ke
rumah dengan kondisi yang berbeda dari biasanya dan dengan cara yang berbeda
dan ini adalah perjalanan kembali ke rumah terakhir dari Papa. Sengaja kami
membawa jenasah Papa kembali ke rumah karena kami tidak ingin membuat sahabat,
tetangga dan teman Papa kesulitan jika harus datang ke Rumah Duka RSPAD yang
cukup jauh dari rumah kami.
Setibanya di rumah kami sekeluarga mengadakan rapat keluarga
dan semua pesan Papa kepada mama, aku dan adik-adik kita ingat-ingat lagi dan
kita list. Permintaanya tidak ada yang
merepotkan seperti :
1.
Papa ingin dimakamkan di Pondok Rangon dan tidak
mau di Taman Makam Pahlawan walau beliau punya bintang jasa karena terlibat
perang/bertempur atas nama Negara.
Alasan Papa supaya nanti bisa tetap dekat sama Mama, karena kalau di TMP mama
tdk bisa dimakamkan dekat beliau.
2.
Papa ingin dimakamkan sebagai rakyat biasa dan
tanpa upacara militer. Alasan Papa karena beliau sudah pensiun dan menjadi
rakyat serta beliau merasa sebagai milik keluarga. Kalau ikut upacara militer
maka jenasah Papa harus dberikan ke Negara/kesatuan dan ini Papa tidak inginkan
selain itu upacara militer hanya akan memberikan perbedaan kasta/pangkat dari
semua yang hadir. Papa mau semua kita merasa sama saat itu, sama-sama teman
Papa dan tidak ada perbedaan.
3.
Papa tidak ingin dalam perjalanan ke makam
memakai Voorijder/Pembuka Jalan baik militer maupun sipil karena selama dia
hidup dia juga paling sebal sama orang meninggal yang ke makam dikawal. Beliau
selalu bilang kenapa sudah meninggal saja harus buru-buru dan membuat yang
hidup harus menunggu dan mengalah.
Beliau mau perjalanan ke makam sabar saja dan tidak usah merpotkan
apalagi sampai merugikan orang lain. Mungkin ini pendapat Papa saja dan
keyakinan beliau saja.
Pada dasarnya Cuma 3 hal di atas saja permintaan Papa,
tetapi pada saat kami akan menjalankan amanat itu, tantangannya sangat tidak
mudah. Kesatuan Papa meminta tanda jasa Papa dan rencana pemakaman disampaikan
dan mereka akan mengatur protokolernya. Kami sampaikan bahwa Papa ingin semua
sederhana dan dilakukan keluarga, jika teman di kesatuan Papa ingin
berpartisipasi silahkan jika akan memberi sambutan atau ingin mengantar. Kami sekeluarga juga tahu kalau yang diutus
dari kesatuan harus berhasil dan ini perintah atasan mereka, tapi di sisi lain
kami juga ingin menjalankan amanat Papa kami.
Setelah terus berdiskusi sampai pagi dan berbicara melalui telepon
sampai kepada komandan dari kesatuan Papa akhirnya mereka bisa menerima. Puji
Tuhan akhirnya pemakaman Papa bisa dilakukan dengan cara kami yang sederhana
dan tanpa ada tembakan salvo dan upacara militer.
Jenasah Papa kami semayamkan di rumah satu hari di hari
Jumat itu dengan maksud memberi kesempatan semua saudara, teman sekolah Papa,
teman gereja dan koor Papa, teman main tennis Papa, teman business Papa,
tetangga dll yang kenal Papa dan ingin memberi penghormatan terakhir bisa
bertemu dengan beliau. Kami betul terharu karena dari jam 10 pagi sampai jam 1
pagi tamu yang datang tidak putus-putus, ini membuktikan kecintaan banyak orang
pada Papa. Ada anak buah Papa yang sampai menangis karena kehilangan, ada
pedagang kecil yang merasa dibantu Papa ketika dia punya masalah, ada tukang
ojek dan supir taksi yang ikut datang, dll dll pokoknya banyak sekali yang
datang dan dari berbagai kalangan sampai kita terheran-heran dengan banyaknya
teman Papa yang datang. Memang orang baik pasti akan meninggalkan kesedihan
ketika dia berpulang ke rumah BAPA di SURGA, walau kami tahu Papa mungkin
kelakuannya tidak 100% benar terus, tetapi minimal dia sudah berbuat baik untuk
banyak orang dan banyak orang yang kehilangan.
Hari Sabtu pagi kami semua mengantar jenasah Papa ke
pemakaman, kami jalan jam 10 pagi dari rumah dan walau tanpa pengawalan dan
Vooreijder kami semua bisa bersukacita sepanjang perjalanan. Kami melihat
deretan mobil yang mengantar ke makam sampai sekitar 100 mobil + dua bus (yg
sengaja kami sediakan buat tetangga yang ingin mengantar tetapi tdk punya
kendaraan)… semua mobil-mobil itu berderet dengan rapid an berjalan
perlahan-lahan tanpa harus menganggu pengguna jalan lain yang ingin sampai
lebih cepat ke tujuannya. Papa sudah sampai di Surga dan bertemu TUHAN, kami
tidak harus terburu-buru dalam mengantar jasad beliau ke peristirahatan
terakhir dan tidak perlu membuat orang lain kesal. Perjalanan yang sungguh
berkesan dan memberi pelajaran kepada kami anak-anaknya arti EMPATI pada orang
lain.
Kami memerlukan waktu tidak lebih dari 30 menit dari Kramat
Jati sampai Pondok Rangon dan karena anugrah TUHAN , Papa bisa mendapatkan
tanah makam di depan dekat dengan tempat parker tidak harus bejalan jauh sampai
kedalam. Ini sangat memudahkan kami untuk menengok beliau di kemudian hari dan
juga pastinya sangat memudahkan semua teman beliau yang mengantar ke
peristirahatan terakhir.
Ada pemadangan yang baik di upacara pemakaman Papa yaitu
ketika teman Papa yang punya pangkat bintang, melati ataupun anak buah Papa
yang masih rendah pangkatnya ataupun kami semua yang tidak punya pangkat bisa duduk dan berdiri berampingan tanpa
sekat pembatas. Semua punya tujuan satu mengantar jasad Papa ke
peristirahatannya yang terakhir. Satu pelajaran lagi kalau kita semua sama
didepan TUHAN diberikan pada kami.
Kami benar-benar belajar dan mendapat pelajaran berharga
dari upacara pemakaman Papa kami. Papa mengajarkan kesederhanaan, kesamaan
status, persahabatan sejati dan banyak lagi melalui amanat beliau untuk upacara
pemakaman beliau. Semua saudara dan
teman Papa surprise dengan jalannya
rangkaian acara pemakaman Papa yang tidak terganggu walau tanpa upacara
militer dan pengawalan/Vooreijder sekalipun. Sangat hikmat dan membawa kesan
mendalam buat semua yang datang. Luar Biasa. Selamat jalan Papa dan kami bangga
jadi anakmu
