Monday, September 30, 2013

PAPAKU, SAHABATAKU & TEMAN DISKUSIKU..... ... I Miss You Pap

Papaku dilahirkan dan bertumbuh di Solo, kota budaya dan jantungnya pulau Jawa (kata sebagian orang). Solo merupakan kota dengan kerajaan  yang sebetulnya umurnya lebih tua dari Jogja tetapi karena pilihan yang salah dari Sultan Solo pada masa kemerdekaan maka peran Solo tidak sebesar Kesultanan Jogja dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Tapi budaya Solo yang memang sudah sangat tua membuat masyarakat disana tumbuh dengan budaya yang unik, mereka penuh dengan toto kromo seperti kebanyakan budaya jawa tetapi di sisi lain juga proletar dan anti kemapanan. Hampir tidak ada batas atau sekat antara orang tua dengan anak dan antara keluarga kerjaan dengan rakyat. Di budaya seperti inilah Papa dibesarkan, dia pribadi yang sangat menghormati dan mencintai orang tuanya tetapi juga keras dalam memperjuangkan kemauannya/cita-citanya.

Papa lahir sebagai anak tertua dari dua bersaudara yang keduanya laki-laki. Papa sempat diambil anak oleh Paman dari orang tua kandungnya karena Pamannya ini tidak punya anak. Di keluarga angkatnya ini Papa cukup dimanjakan dan mendapatkan apa yang dia inginkan terutama makanan kesukaan beliau. Mungkin ini juga awal Papa tidak biasa makan sayur dan menjadi penggemar daging khususnya kambing, he’s real meat lover.

Rumah orang tua angkat Papa dekat dengan pasar Klewer dan pasar kambing di pasar kliwon, ini juga membuat pergaulan papa menjadi luas dan membuat dia menjadi pribadi yang sangat mudah bergaul. Dia mudah untuk berteman dan cepat akrab serta bisa membangun suasana akrab. Dia juga pribadi yang tidak membeda-bedakan latar belakang temanya dan bergaul dengan siapa saja. Papa juga tidak sungkan menolong orang tanpa pernah berfikir untung dan rugi. Kebiasaan ini terbawa sampai akhir hayatnya dan selalu membuat rumah kami ramai dengan teman Papa. Teman Papa yang banyak terlihat juga dengan banyaknya orang yang berduka dengan kepergiannya dan rela meluangkan waktu untuk melihat beliau yang terakhir kali.

Papa juga seorang yang keras dan pendidik yang baik. Hal ini mudah dilihat dengan banyaknya saudara atau teman beliau yang menitipkan anak mereka ke rumah kami. Ini juga membuat rumah selalu ramai dan mereka semua sudah seperti  kakakku sendiri.  Aku juga tidak pernah kekurangan teman bermain semenjak kecil dan membuat aku juga menjadi terbiasa bermain dengan anak yang labih tua dan real man (baca Bandel dimata dunia). Mereka semua sekarang rata-rata sudah jadi orang dan punya kedudukan dan tetap menganggap Papa sebagai orang tua mereka.

Papa juga teman yang baik dan selalu mengingat temannya serta mau bersusah payah untuk mengurus temannya, tidak heran sampai usia tuanya beliau masih aktif di alumni SMP dan SMA nya selain alumni AMN tentunya. Beliau juga cukup aktif di kegiatan alumni tersebut dan kegiatan alumni SMA dan SMP beliau juga cukup  banyak kegiatannya. Beliau suka bilang di usia tua maka teman adalah hal yang paling berharga dan pesan ini yang selalu terngiang di telinga saya sampai sekarang.

Selulus SMA Papa sempat kuliah di Fakultas Ekonomi UI tetapi karena masa sulit pada saat itu maka beliau kesulitan membayar uang kos, makan dan uang kuliah ditambah semangat mandiri beliau yang tidak mau menyusahkan orang tuanya maka beliau memtuskan untuk masuk AKABRI dan diterima di tahun 1961 di AMN dan mulailah beliau pindah studi ke Magelang. Di kota ini Papa mulai bertemu dengan Mama dan mungkin ini juga cara TUHAN menyatukan cinta mereka berdua. Setelah diterima di AMN Papa berencana memberitahukan ke orang tua perihal perpindahannya dari UI ke AMN dengan mengenakan seragam kebesaran AMN nya. Orang tua Papa tidak tahu karena Papa punya orang tua angkat dan di aktenya nama orang tua angkat yang tertera sehingga orang tua angkatnyalah yang memberi persetujuan. Bisa dibayangkan betapa terkejutnya Orang tua kandung Papa melihat anaknya pulang dengan pakaian AMNnya dengan bangga. Orang tua papa cukup marah dan kecewa karena gagal melihat anaknya menjadi sarjana ekonomi lulusan UI tetapi Papa dengan sabar menjelaskan alasannya diantara terbebasnya orang tua papa dari tanggungjawab membiayai dan kepastian mendapat pekerjaan yang di saat itu cukup susah. Orang tua papa bisa mengerti walau tetap tidak setuju dan meminta Papa menasehati adik laki satu-satunya untuk tidak mengikuti jejaknya masuk AMN. Papa menuruti perintah orang tuanya dan meminta adik satu-satunya tidak masuk AMN tetapi menyarankan untuk masuk AAU atau AAL dan adik papa setelah lulus SMA memutuskan untuk masuk AAL. Hal ini yang selalu diceritakan berulang-ulang oleh almarhum kakek saya sambil masih ada rasa gondok sama anak tertuanya tetapi juga terselip kebanggaan karena kedua anak laki-lakinya bisa menjadi orang yang bisa dibanggakan.

Sebagai ABRI Papa sangat bangga dengan Negara dan Korpsnya. Papa rela dikirim kemedan tempur atau kemana saja asal demi membela kepentingan Negara dan dimata Papa semua idealis dan tidak ada warna abu-abu. Papa Cuma punya warna hitam dan putih serta sangat ketat memegang kepercayaannnya. Tidak ada yang bisa mempengaruhi dia baik itu orang tua, anak, istri, teman dll. Asal demi Negara  buat Papa tidak ada untung dan rugi.

Semoga sekilas latar belakang  Papa ini bisa memudahkan kita yang membaca dan tidak mengenal Papa untuk menyadari latar belakang  tindakan, perkataan dan perbuatannya kepada kita anak-anaknya, istrinya, temannnya dan juga adiknya Papa berserta anak-anaknya serta saudara saudara lainnya.

Masa Kecilku
Aku lahir di Padang 45 tahun yang lalu, lahir sebagai anak yang karena kondisi menjadi sulung. Seharusnya aku anak kedua tetapi kakak perempuanku dipanggil TUHAN ketika dilahirkan karena kalung usus. Masalah yang harusnya mudah ditangani dan tidak harus merenggut nyawa kakakku jika teknologi saat itu di Padang sudah tersedia. Hanya memang semua sudah direncanakan oleh TUHAN dan saya akhirnya menjadi anak yang kelahirannya sangat ditunggu-tunggu sebagai pengganti kakak yang meninggal dan sekaligus cucu pertama dari keluarga besar Papa.

Lahir dalam kondisi sangat diharapkan banyak orang pasti membuat kehadiranku di dunia seperti di Surga dan limpahan kasih sayang aku rasakan  dari semua orang di sekitarku. Seolah-olah aku melalui masa kecil tanpa harus banyak meminta semua yang kuperlukan sudah tersedia.  Makanan dan minuman yang bergizi aku dapatkan dan mungkin ini yang membuat badanku lebih tinggi dari saudaraku dan mungkin tertinggi di keluarga besar  Papaku. Kalau di keluarga besar mama memang banyak yang tinggi dan aku termasuk juga dalam kelompok yang cukup tinggi. Kalau di TV banyak dilihat anak kecil yang kekurangan gizi maka jaman aku balita dokter pernah menyarankan ke orang tuaku untuk mengurangi asupan makanan khususnya  yang berbahan  dasar dari kuning telur.

Sebagai anak satu satunya aku rasakan selama 2 tahun dan kemudian adiku lahir setiap 2 tahun yang pertama perempuan dan yang paling bungsu laki-laki. Adik perempuanku lahir di Pekanbaru Riau dan adik laki-lakiku lahir di Solok Sumatra Barat. Kami bertiga benar-benar PUJAKUSUMA alias Putra jawa kelahiran Sumatra. Inilah resiko anak militer yang tugasnya selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya.

Sebagai anak militer masa Balitaku di Sumatra juga dihabiskan banyak di Hutan menemani Papa menyalurkan hobi berburu. Kebiasaan berburu dan makan binatang buruan ini yang mungkin juga membuat aku menjadi meat lover sejati alias pencinta daging. Seolah-olah aku hanya kenal satu jenis makanan yaitu serba daging dan Cuma kenal satu jenis sayuran yaitu sayur daging hehehehehe…..hampir semua jenis burung dan mamalia di hutan aku pernah makan dan biasa aku makan semenjak kecil. Bahkan kalong/kelelawar besar pun mamaku bisa mengolahnya menjadi masakan yang enak dan bumbunya serta cara mengolahnya didapat dari teman Mama dan Papa yang berasal dari Menado. Saat itu bener-bener tidak ada binatang hutan yang tidak bisa dimakan dan pada saat itu berburu belum dilarang karena binatang masih banyak di hutan.

Pada saat di Sumatra ini tidak ada hari yang kami lewati tanpa kehadiran papa dan mama. Papa walaupun seorang militer punya banyak waktu buat kami. Apalagi Papa saat itu selalu menjadi kepala/komandan karena saat itu lulusan AKABRI/AMN masih sedikit . Rumah kami selalu di dekat kantor Papa dan ini juga menyebabkan interaksi dengan Papa menjadi mudah karena makan pagi, siang dan Malam hamper selalu kami lewatkan bersama, kecuali papa mendapat tugas ke luar kota.

Seperti biasa semua kesatuan militer di daerah biasanya punya sekolah binaan dan Mama sebagai istri komandan biasanya juga dipercaya memimpin yayasan sekolah di tempat Papa ditugaskan.  Kondisi ini membuat saya punya kesempatan sekolah lebih cepat, karena biasanya mama mengajak saya kalau sedang bertugas di sekolah dan menitipkan saya ke guru di sekolah itu. Akhirnya tanpa sengaja saya bosen sekolah bermain (Tk) dan mulai   menuntut untuk masuk ke sekolah yang serius SD padahal saat itu umur saya belum 5 tahun. Di saat Papa dan Mama pusing dengan permintaan saya,  Papa mendapatkan penugasan untuk sekolah militer lagi di Cimahi. 

Ketika Papa melanjutkan sekolah di Cimahi aku dan kedua adiku dititipkan ke orang tua papaku di Solo dan kebetulan sekali rumah Embahku pas di depan SD. Akhirnya aku bisa sekolah di SD dengan status dititipkan dan kepala sekolahnya tidak enak sama embahku. Melewati hari yang menyenangkan sebagai anak SD yang punya sekolah pas di depan rumah membuat aku merasa sekolah bukan beban dan malah menyenangkan membuat aku bisa mengikuti semua pelajaran dan akhirnya aku malah bisa mendapat nilai yang cukup baik .
Tanpa terasa masa sekolah Papa sudah selesai dan papa ditugaskan menjadi guru di PUSDIKPOM dan mendapat rumah dinas di Cimahi. Akhirnya saya dan adik-adik ikut pindah ke cimahi dan menempati rumah dinas yang di depannya ada lapangan sepakbola, Voley dll yang cukup luas.  Lokasi yang menyenangkan untuk melewati masa kanak-kanak dimana jika mau bermain di lapangan cukup ke depan rumah, jika mau main ke sawah cukup ke belakang rumah dan jika mau main ke sungai cukup ke samping rumah. Lokasi yang pada saat itu seperti surge rasanya buat kami anak-anak kecil dan saya menghabiskan 9 tahun umur saya di Cimahi sampai kelas 3 SMP.

Di Cimahi ini aku meraskan juga kedekatan dengan Papa dimana setiap sore kami pasti bermain bola bersama dan papa mengajariku. Pagi hari sebelum sekolah Papa juga selalu mengajak aku lari pagi dan sepulang sekolah atau hari libur Papa selalu memaksa aku untuk berenang. Papa tidak pernah meminta aku ikut les atau ikut pelajaran tambahan yang materinya ada di sekolah, Papa meminta aku untuk aktif berolahraga dan beliau tidak hanya menyuruh tetapi menemani. Kalau dari sisi teman Papa mereka bilang bukan Papa yang menemani aku tetapi sebenernya Papa yang meminta aku menemani beliau berolahraga yang merupakan hobinya.  Buat aku kedua pendapat itu tidak penting yang penting bisa bermain dan berolahraga bersama.

Setiap hari minggu sebulan sekali  sepulang gereja biasanya Papa dan Mama ajak aku ke taman lalu-lintas dan bermain disana. Dulu taman lalu lintas sepertinya menjadi satu-satunya taman bermain di Cimahi-Bandung .  Kalau bosan maka kebun binatang menjadi alternatifnya dan lokasinya kebetulan berdekatan. Sepulangnya kami sekeluarga berjalan-jalan ke alun-alun dan mengunjungi mungkin satu-satunya toko besar di Bandung yang bernama DESON dan kemudian ketika saya sudah SMP mulai ada Dallas dengan bioskopnya. Sedikitnya jumlah mall saat itu membuat aktifitas di luar rungan kita jaman kecil menjadi cukup banyak. Di masa kecil ini saya juga cukup aktif mengikuti kegiatan Pramuka yang diadakan di kesatuan Papa dan akibatnya saya tidak aktif di Pramuka sekolah. Pramuka dengan kempingnya masih merupakan kegiatan yang cool dan menarik buat banyak anak kecil pada masa itu. Di Pramuka ini peran mama lebih menonjol karena Mama kebetulan aktif di Pramuka semenjak kecil dan di Gugus Pramuka di kesatuan Papa , mama punya posisi cukup sentral.

Kebersamaan kami ini agak terusik sedikit ketika aku kelas 5 Papaku dipindahkan ke Jakarta. Hal ini membuat aku punya kegiatan rutin setiap akhir minggu secara berganti-gantian berkunjung ke Jakarta atau Papa yang pulang ke Cimahi. Mulanya kondisi ini menggangu tetapi dalam waktu tidak terlalu lama menjadi aktifitas yang menyenangkan buat aku dan sekaligus membuang kebosanan.  Lebih menyenangkan lagi karena Papa dapat rumah dinas di daerah Kwitang Senen yang masih termasuk pusat kota dan deket dengan Proyek Senen sebagai salah satu pusat perbelanjaan dan permaianan anak di Jakarta serta Gelanggang Olahraga Senen sebagai tempat berenang yang menyenangkan pada saat itu. Menyenangkan sekali bisa bermain di Jakarta dan Cimahi secara bergantian dan membuat hidup menjadi lebih menarik dan berwarna. Papa juga memberi warna lebih karena ada saja ide beliau untuk membuat kami anak-anaknya cukup bisa menikmati masa kanak-kanak seperti pergi bersama ke Sumatra atau secara rutin setiap lebaran kami kembali ke kampong Mama dan Papa di Magelang dan Solo. Walaupun kami tidak merayakan lebaran tetapi keluarga besar kami banyak yang merayakan lebaran dan kesempatan berkumpul di saat lebaran adalah kesempatan yang menyenangkan buat kami semua.

Masa-masa di Padang, Solok dan Pekanbaru….
Aku lahir di Padang ketika Papa harus bertugas di Denpom Padang setelah beliau menikah dengan Mama di tahun 1965. Mama dan Papa sebetulnya dikarunia Tuhan anak pertama wanita yang sayangnya ternyata TUHAN lebih sayang dengan dia dan harus kembali ke pangkuan Tuhan sebelum sempat merasakan dunia.  Padang ketika itu belum banyak faslitas kesehatan dan kakakku tidak bsia dilahirkan dengan selamat karena kalung usus. Papa dan Mama sangat terpukul dan kegembiraan karena lahirnya jabang bayi pertama di pernikahan mereka juga hilang sudah dan mereka harus kembali menata hati dan hidup mereka bersama. Tetapi Tuhan baik dan berselang setahun kemudian saya hadir dan menjadi anak yang seolah-olah sangat diharapkan dan menjadi pengganti dari kakak yang meninggal ketika dilahirkan. Di keluarga papa aku juga cucu pertama dan pasti juga merupakan cucu yang diharapkan sama kakek dan kakek angkatku.

Di Padang aku juga masih terlalu kecil untuk mengingat kejadian disana karena ketika berumur belum dua tahun aku sudah harus ikut Papa pindah ke Pekanbaru dan disini adikku Dewi dilahirkan.  Dia adalah cucu pertama wanita di keluarga besar  Papa dan mungkin juga wanita pertama di trah keluarga Papa setelah papa dan adiknya yang keduanya laki-laki. Di Pekanbaru juga tidak terlalu lama kami jalani dan kami kembali harus kembali pindah mengikuti perpindahan tugas Papa ke Solok. Tidak terlalu banyak juga memoriku ttg Pekanbaru karena umurku belum 4 tahun ketika harus pindah ke Solok dan disini juga adiku Agung/Tio yang  dilahirkan. Di Solok kami juga tidak terlalu lama karena ketika umur 5 tahun Papa sudah dipindahkan kembali ke Jawa untuk ikut sekolah/kursus lanjutan perwira (Suslapa).

Masa kecilku di Sumatra sebagai anak tentara aku terbiasa diajak keluar masuk hutan untuk menemani Papa menyalurkan hobi berburunya.  Biasanya Burung, Rusa, Babi Hutan, Tupai, kalong atau binatang yang tidak dilindungi (pada masa itu) serta menjadi hama buat perkebunan masyarakat yang  dijadikan sasaran Papa berburu.  Hobi berburu Papa ini membuat asupan protein hewani yang cukup terjamin untuk aku dan adik-adik ku semenjak kecil. Kebiasaan makan daging ini juga membuat aku menjadi seorang meat lover seperti Papa.  Selain itu kebiasaan keluar masuk hutan dan bergaul dengan siapa saja membuat tanpa disadari Papa sudah mengajarkan kepadaku cara bergaul dan terbiasa memulai pergaulan dengan orang yg asing/baru kita kenal. Kebiasaan keluar masuk hutan ini juga membuat kami tidak tumbuh menjadi anak yang jijikan atau terlalu menjaga kebersihan walau kami juga tidak jorok. Papa dari kecil sangat memperhatikan kerapihan penampilan dan kita tidak boleh keluar rumah kalau baju tidak rapi dan dimasukan, rambut rapi, pakai ikat pinggang dll. Kombinasi yang menarik dari didikan masa kecilku bersama papa dimana keberanian, petualangan tetapi juga dicampur dengan kedisplinan dengan salah satu cirinya kerapihan yang menjadi ciri militer tetapi tidak kaku menjadi ciri kepribadianku yang ditanamkan Papa padaku.



Masa di Magelang dan Solo :
Tahun 1973 Papa harus pindah ke Cimahi karena harus mengikuti pendidikan lanjutan sebagai Perwira AD. Dalam proses perpindahan ini aku dan adik-adik dititipkan di rumah Eyang (ibunya mama) di Magelang.  Aku tinggal bersama Eyang dan Kakak Mama (Bude) dan anak-anaknya. Kebetulan Bude adalah guru di salah satu TK dan untuk membuang waktu bosan dirumah maka aku ikutan juga sekolah di TK tempat Bude mengajar.   Proses pengurusan perpindahan ini memakan waktu sekitar 6 bulan dan Mama medampingi Papa untuk kembali ke Sumatra dan mengurus semua dokumen perpindahan serta melakukan proses serah terima pekerjaa Papa kepada penggantinya.

Tahun 1974 aku harus pindah tinggal di Solo karena Papa harus mengikuti pendidikan di Cimahi. Aku dan adik-adik tinggal sama Embah di Solo (Orang tua Papa) dan kebetulan rumah Embah pas di depan SD Dadap Sari Sangkrah Solo maka akupun kembali bisa sekolah dengan mudah dan dekat. Kebetulan ketika pindah ini sudah masuk tahun ajaran baru dan pindah ke Solo akan memudahkan aku ke sekolah dibandingkan aku harus tinggal di Magelang dan berjalan cukup jauh ke sekolah.
Perpindahan dari Solok-Magelang-Solo yang dilakukan dalam waktu cuma 6 bulan sampai 1 tahun  ini mungkin juga salah satu cara Papa mengajariku caranya beradaptasi dengan lingkungan baru. Aku menghabiskan kelas 1 ku selama 2 catur wuan di SD Dadapsari Sangkrah jadi sekitar 6 bulanan juga aku tinggal dan bersekolah di Solo.

Masa enam bulan tinggal di Magelang  dan enam bulan tinggal di Solo juga merupakan masa indahku untuk mengenal Eyang  dan Embah  yang belum aku kenal sama sekali. Aku yg lahir di Sumatra dan jauh dari mereka saat itu punya kesempatan tinggal bersama mereka dan merasakan didikan yang pernah didapat juga oleh Mama dan Papaku dari orang tuanya.

Masa tinggal sama Eyang dan Embah juga masa yang indah karena di saat itu kami bertiga benar benar dimanja.  Masa kecil yang menyenangkan sayang kembali kami harus pindah ke Cimahi untuk tinggal bersama Papa dan Mama. Papa saat itu sudah menjadi guru militer di sekolah militer Pusdikpom  di Cimahi. Kembali aku harus pindah dan punya teman baru serta bahasa yang baru juga , dari bahasa jawa menjadi bahasa sunda. Untung  bahasa Indonesia sudah mulai dipakai di sekolah jadi aku tidak perlu berganti ganti bahasa walau pindah-pindah 4 daerah dalam waktu hanya satu tahun terakhir mulai dari Solok di Sumatra Barat,  Magelang dan Solo di Jawa Tengah dan Cimahi di Jawa Barat. Masa kecil yang cukup sulit untuk selalu beradaptasi dengan sekolah dan teman baru.

Masa di Solo walau hanya aku lewatkan sebentar tetapi teman SD ku relative aku kenal sampai sekarang karena rata-rata temanku di sekolah adalah anak yang tinggals atu kamping dengan embahku.  Aku juga banyak menghabiskan masa liburan sekolah di Solo sampai aku lulus SMP jadi relative hubungan pertemanan bisa terjaga.



Masa di Cimahi
Tahun 1974 bulan Agustus  pertama kali aku pindah ke Cimahi dan pertama kali juga aku harus tinggal di komplek Militer.  Kita penghuni komplek  banyak yang bersekolah di sekolah yang sama dan kami bisa ikut ke sekolah dengan mobil jemputan Bapak-bapak kami ke kantor.

Teman bermain di rumah dan sekolah yang mirip dan banyak yang sama ini membuat suasana sekolah menjadi lebih akrab dan sekolah menjadi menyenangkan. Cimahi juga bukan kota besar dan mayoritas komplek tentara sehingga membuat suasana sekolah makin akrab, apalagi ditambah teman sekolah biasanya juga anak dari teman Papa di AMN atau di kesatuan yang sama. Suana penuh rasa kekeluargaan yang terjaga sampai sekarang.  Kami cukup lama menghabiskan masa kecil di Cimahi dari mulai SD sampai SMP kelas 3 atau sekitar 9 tahun, ini juga membuat hubungan pertemanan dengan teman-teman menjadi semakin akrab karena bermain bersama dalam masa yang cukup lama.

Di Cimahi ini aku juga menghabiskan banyak waktu-waktu indah bersama Papa. Mulai dari Papa yang membangunkan aku setiap pagi dan mengajak berlari pagi, berenang bersama, bermain sepatu roda atau bermain sepakbola bersama. Papa bener-bener menjadi teman bermainku bersama teman-teman. Papa juga menjadi hakim yang baik jika da pertengkaran sesame anak kecil dan terkadang cara menyelesaikannya diluar kebiasaan. Pernah satu kali ketika sedang rebut sama teman bermainku dia memakai pancing yang menyebabkan luka yang cukup serius di wajahku.  Aku sangat marah dan Papa mencoba meminta aku memaafkan temanku hanya aku begitu marahnya dan tidak mau mendengar saran Papa. Tiba-tiba Papa menggandeng tanganku ke rumah temanku yang melukaiku yang kebetulan juga rumah temannya. Setelah Papa berdiskusi dengan temannya maka anaknya dipanggil dan kami diminta berkelahi di depan mereka berdua. Kami berkelahi sampai capai dan akhirnya berdamai. Setelah damai aku dan temanku bertanya ke Papa , apa yang dia bicarakan sehingga kami bisa diadu begini. Papa bilang ini anak-anak berkelahinya sudah pakai alat dan berbahaya, daripada mereka berkelahi dibelakang kita lebih baik kita adu saja tapi harus dengan tangan kosong sehingga tidaka da sakit hati lagi diantara anak-anak ini dan orang tua teman saya (teman papa juga) setuju. Akhirnya kita diadu sampai damai.

Banyak sekali kenangan masa kecilku dengan Papa termasuk hamper setiap minggu beliau mengajak aku dana dik-adik ke Taman Lalu lintas atau kebun binatang atau sekedar jalan-jalan ke Deson dan alun-alun Bandung.

Pola didikan keras, disiplin ala militer bercampur dengan kasih sayang yang tulus dan besar dari Papa kepada anaknya itulah yang aku dan adik-adikku rasakan semasa kecil.   Papa juga mengajariku untuk berbagi hidup dengan sesame bukan dengan kata-kata tetapi dengan tindakan beliau mengambil anak angkat/menyekolahkan /mecarikan pekerjaan anak mantan anak buahnya atau saudara –saudara di Solo. Papa juga banyak membantu orang yang dimarginalkan atau dipidanakan bukan karena kesalahan nya. Papa bener membantu dengan tulus dan tidak pernah hitung hitungan untung dan rugi. Kebiasan Papa berbagi hidup yang ditunjukan dengan teladan kepada kami ini yang membuat kami terbiasa untuk hidup buat orang lain juga dan tidak hanya untuk diri sendiri. Memang teladan itu memberi kesan lebih kuat dari sejuta kata-kata nasehat.

Masa di Jakarta :
Tahun 1983 aku pertama kali pindah full time di Jakarta setelah semenjak akhir tahun 1970 an hanya sesekali di hari Sabtu Minggu aku menghabiskan waktu dengan Papa di Jakarta. Aku dan adik-adik masih di Cimahi sementara Papa karena tugasnya harus menghabiskan waktu di Jakarta. Akhir minggu jika Papa tidak bisa ke Cimahi maka kami yang ke Jakarta. Kehidupan terpisah ini membuat kerohanianku sedikit terganggu karena waktu ke Gereja ku menjadi terganggu dan jika harus ke Gereja di Jakarta aku tidak ikut Sekolah Minggu tetapi di ibadah dewasa.

Tahun 1983 ketika aku pindah Jakarta aku masih ingat hari pertama aku masuk sekolah ujian akhir SMP untuk mata pelajaran praktek olahraga sudah dimulai dan   karena banyak cabang olahraga yang diujikan maka aku harus langsung mengikutinya. Berenang adalah mata pelajaran pertama yang harus aku ikuti ujiannya dan tantanganku bukan berenangnya karena sebagai anak tentara berenang adalah makanan sehari-hari, tetapi menemukan Kolam Renang Mester karena itu hari pertamaku di Jakarta. Setelah berkenalan dengan beberapa teman baru di SMP 20 akupun janjian dengan mereka untuk jalan bersama ke kolam renang dan ujian renangpun sukses. Ujian olahraga hamper semua tidak ada kendala yang berarti karena Papa mengajariku hampir semua olahraga. Pelajaran sekolah dan ujian-ujiannya di SMP baruku di Jakarta juga tidak terlalu sulit aku lewati karena kebetulan di Cimahi sekolahku sudah menyelesaikan semua bahan pelajaran, jadi aku mengikuti pelajaran di Jakarta seolah-olah ulangan pelajaran saja. Akupun lulus dengan hasil yang baik dan ini juga startegi Papa yang ingin aku anaknya melanjutkan sekolah di SMA Negri di Jakarta. Papa melihat jika aku menamatkan SMP ku di Cimahi maka akan susah masuk SMA di Jakarta dari jalur normal.

Papa seolah sudah mengatur jalan hidupku dan mengarahkan sedemikian rupa tanpa harus memaksa anaknya dengan kekerasan. Untuk mempengaruhi aku masuk sekolah SMA  favorit dan yang diingini Papa maka Papa cukup ajak aku ke beberapa sekolah di Jakarta Timur dan membiarkan aku memilih yang menurut aku terbaik. Untuk mempengaruhi aku supaya mau masuk Fakultas Tehnik dari SD aku sudah diajak sama Papa untuk bergaul dengan temannya yang memiliki pabrik atau bergelut di bidang business yang berhubungan dengan kemampuan engineering.  Relatif cita-citaku dari kecil tidak pernah berubah dan kalau ditanya orang selalu bilang ingin jadi insinyur.  Hanya jurusannya yang sedikit berubah-rubah dari ingin jadi insinyur Tehnik Sipil karena meilihat banyak gedung bagus di Jakarta, terus berubah jadi insinyur mesin karena melihat banyak mobil bagus sampai akhirnya ketika SMA bulat mau jadi insiyur Kimia karena ternyata saya jatuh cinta sama pelajaran Fisika dan kimia.  Di perjalanan cita-citaku ini papa selalu menjadi teman diskusi yang sepadan dan di banyak case dia cukup membawa ke temannya dan melihat usaha temannya jika ingin menjawab pertanyaanku. Ini juga sekalian mengajari aku untuk senang bergaul dan berteman dengan banyak orang karena itulah yang akan membuat hidup kita menjadi lebih mudah di kemudia hari.

Selain mendorong aku untuk terus belajar, Papa juga mendorong  aku untuk aktif di organisasi baik di gereja maupun di tempat lain. Sebagai anak militer aku juga sempat ikut di  organisasi anak tentara dan anehnya disini Papa sedikit marah dan mengarahkanku. Aku masih ingat Papa bilang kamu mau jadi professional di organisasi itu atau mau serius sekolah. Papa takut pergaulan anak tentara waktu itu yang dekat dengan dunia kekerasan mempengaruhi aku. Papa meminta aku lebih aktif di organisasi gereja, sosial atau sekolah dengan alas an aku masih terlalu muda untuk masuk ke organisasi anak tentara yang rentang umurnya hampir tidak dibatasi, ada yang masih SMA da nada ada yang sudah seusia Papa pada saat itu atau 45-50 an. Disini aku bersyukur Papa mengarahkanku dengan cara yang elegan dan seolah-olah itu keputusannku dan aku juga tidak merasa dipaksa ketika memilih organisasi yang papa setujui tapi aku senangi untuk aku geluti. Papa dukung aku luar biasa untuk keaktifanku di organisasi Gereja, social atau sekolah. Papa tidak pernah marah jika aku pakai vilanya atau mobilnya atau bahkan uangnya untuk acara-acara di organisasi itu. Buat Papa pengalaman organisasi sama pentingnya dengan pengalaman belajar di sekolah dan Papa terus dukung aku untuk mau aktif dan terlibat dalam kepengurusan, karena menurut beliau itu akan sangat membantu aku di masa depan.  Papa juga selalu mengingatkan aku untuk buat persiapan sebelum rapat di organisasi yang aku ikuti dan tidak hanya sekedar datang, beliau juga mau aku serius dan punya motivasi melayani orang lain, membantu teman dan memberi manfaat ke banyak orang ketika menuangkan pemikiran aku.  Kebiasaan persiapan sebelum rapat membuat aku seringkali diminta memmpin organisasi atau minimal rapat yangs edang berlangsung. Aku bersyukur punya Papa yang wawasannya jauh ke depan dan membuat hidupku sekarang relative mudah.

Masa-masa di Jakarta bukanlah lagi masa-masa bermain bersama, walau kami tetap melakukan perjalanan bersama setiap lebaran ke jawa atau ketika liburan sekolah ke Sumatara atau tempat wisata lainnya bersama. Masa di Jakarta adalah masa Papa membantu pembentukan karakterku, cara bergaulku, cara pandangku dll. Di masa ini juga Papa terus terapkan pentingnya untuk peduli dengan kesulitan orang lain dan tidak itung-itungan ketika membantu orang. Buat Papa kebaikan TUHAN ke kita sudah lebih dari cukup dan kalau kita bisa bantu orang lain itu tidak sebanding dengan yang sudah DIA lakukan untuk kita. Terus berbuat untuk orang lain karena hidup kita dinilai dari manfaat yang kita berikan untuk banyak orang. Papa pegang sekali pandangan hidup ini walau sekali-kali beliau masih kompromi dengan kesenangan pribadinya, tapi itu biasa tidak ada manusia yang bisa 100% waktunya diberikan untuk orang lain.

Aku suka cara Papa membentuk karakterku & adik-adik dan aku pikir ini yang harus kita sama-sama pelajari untuk bisa kita pakai mendidik anak-anak kita. Memang sangat Tidak mudah dan sangat memakan waktu, jauh lebih mudah langsung saja marah dan kasih perintah ke nak sesuai mau kita. Tetapi dari efektifitas  mungkin cara Papa akan jauh lebih baik dan relative tidak ada masalah berarti dengan anak-anaknya. Walau di bidang lain Papa punya kelemahan dan kadang membuat kita sebagai anak sakit hati, tetapi untuk cara mendidik kita harus akui Papa memang sabar.

Dari semua pretasi yang aku pernah buat baik juara di sekolah, juara lomba karya ilmiah LIPI di jaman SMP,  hanya berhasil masuk FTUI yang membuat Papa sangat bangga. Dia selalu dengan bangga menceritakan ke semua teman-temannya tentang aku. Di sisi lain ini sangat membebani aku karena aku harus buktikan kalau aku layak dan bisa lulus cepat juga dari FTUI. Keberhasilan aku lulus sebagai salah satu lulusan tercepat di angkatan aku kembali membuat Papa bangga dan ini juga kali pertama Papa datang ke kampusku untuk menghadiri Wisudaku. Karena ingin membahagiakan beliau maka aku berusaha mencari undangan VIP dari beberapa Profesor di kampus yang tidak bisa hadir wisuda, supaya mobil Papaku bisa parker dekat dengan balairung tempat wisudaku. Aku benar-benar bisa melihat wajah bangga Papa ketika hadir di Wisudaku dan berfoto bersama.

Papa memang papa dengan pribadi dan kepribadiannya yang menarik dan unik. Beliau akan selalu dikenang banyak orang mulai dari rakyat kecil sampai pengusaha besar. Beliau memang  pribadi yang tidak menempatkan uang tidak di atas rasa sosialnya dan semangat membantunya tetapi bukan juga tidak penting. Posisi yang win win dan bisa membuat keluarag tidak keleleran tetapi juga tidak perlu hidup berkelimpahan.


MASA PAPA SAKIT :
Papa sudah lama sekali kena penyakit asam urat +darah Tinggi dan dokter sudah bilang kalau diet adalah satu-satunya obat untuk asam urat. Diet itu artinya berpantang makan yang dia suka untuk Papa, padahal Papa tidak bisa makan kalau tidak ada daging atau jerohan seperti otak, limpha, Ati, Usus dkk.  Papa Cuma kenal satu macam sayur yaitu sayur gulai hehehehehehe….
Artinya Diet makanan menjadi sesuatu yang mustahil buat beliau. Pernah satu kali ketika beliau terpaksa masuk RS karena  karena tekanan darahnya naik sampai 240/140, kami minta ahli gizi dan doter jantung untuk diskusi mengenai pentingnya menjaga pola makan di usia senja.  Kami masih ingat sekali kata-kata Papa di akhir diskusi dengan para ahli itu “ Jika saya harus jaga pola makan saya, maka saya pasti sehat dan itu saya tahu. Tidak perlu sekolah kedokteran atau Gizi tinggi-tinggi buat tahu hokum sebab akibat itu. Tapi karena Dokter sudah sekolah tinggi maka bisakah memebri nasehat ke saya supaya saya bisa tetap makan enak dan tetap sehat ?” Pertanyaan mendasar dan sangat logis tetapi susah dijawab sama para ahli sekalipun.

Singkat kata Papa tetap makan seperti biasa dan sebagai kompensasinya dokter memberikan dia obat supaya dia bisa tetap beraktifitas dan asam uratnya tidak membuat persendiannya kaku atau tekanan darahnya menjadi naik tidak terkendali yang membahayakan jiwanya. Kebiasaan makan obat dan makan sembarangan ini membuat  ginjal Papa menyerah dan akhirnya fungsinya terus menurun. Akibatnya tidak ada cara lain selain cuci darah.

Papa mulai rutin cuci darah semenjak Juli tahun 2009 dan seminggu dua kali beliau pasti harus ke rumah sakit untuk cuci darah. Cuci darah juga membuat Papa bebas makan makanan kesukaannya  terutama menjelang cuci darah. Dari semua jenis makanan hanya buah-buahan (selain papaya) yang sangat dilarang untuk dimakan oleh Papa.  Pernah sekali di tahun 2011 karena sangking inginnya beliau memesan rujak di tukang lewat dan memakannya, akibatnya beliau harus tinggal di RS selama satu minggu karena kesulitan bernafas. Semenjak itu beliau tidak mau lagi makan buah , tetapi Gulai tetap menjadi menu harian beliau setiap hari.
Papa selalu taat dan disiplin cuci darah setiap minggu karena buat beliau ini satu-satunga tiket untuk bisa makan enak. Beliau tetap tidak kehilangan keceriaan walau harus cuci darah rutin dan selalu membawa suasana ceria di ruang cuci darah dengan deretan pasien cuci darah di RSPAD Gatot Subroto yang jumlahnya puluhan itu . Papa membawa sukacita dan keceriaan untuk banyak teman beliau cuci darah yang mulai putus asa. Beliau selalu mengajak bercanda dan menyemangati teman-teman cuci darah beliau yang kehilangan sukacita karena penyakitnya.

Papa tidak pernah kehilangan pengharapannya dalam TUHAN dan sukacitanya walau sakitnya sudah sangat parah. Papa yakin sekali kalau TUHAN sudah menyelamatkan dia dan dia pasti dijemput TUHAN ketika ajal meraihnya. Papa sangat tidak takut dengan kematian dan kamilah yang tidak bisa rela melepas kepergian beliau. Kami selalu merasa suasana sukacita di rumah kami bisa hilang jika sumber sukacita itu pergi meninggalkan kami.

Hari Sabtu dan Minggu adalah hari yang selalu ditunggu-tunggu sama Papa dan biasanya dari pagi beliau sudah mandi dan menunggu kedatangan cucu-cucunya. Cucu memang menjadi salah satu motivator besar buat Papa melalui hari-harinya yang sudah tidak bsia beraktifitas seperti dulu lagi. Tenaga beliau menurun drastis setelah cuci darah dan bermain dengan cucu di rumah menjadi aktifitas yang sangat menyenangkan buat beliau. Cucu-cucu juga senang bermain bersama Papa atau sekedar bermain dengan sesama cucu di depan Eyangnya. Papa selalu sukacita ketika melihat cucunya bermain bersama atau bersama dia. Anak-anak memang selalu membawa energy positif untuk semua kita.

Cucu-cucu baik itu anak saya atau anak adik saya atau kakak angkat saya adalah orang-orang yang nasehatnya masih didengar sama Papa lebih dari dokter dan kita anak-anaknya atau bahkan istrinya. Cucu-cucu bisa menasehati Eyang buat disiplin makan obat, mengurangi porsi daging atau jerohan di makanan eyang, mengajak Eyangnya sedikit berolahraga dll….Cucu-cucu bisa bebas bicara sama Papa tanpa harus takut Papa menjadi tersinggung.


Waktu Terakhir Papa bersama kami :
Februari 2013 adalah masa-masa terakhir Papa bersama kami.  Awal February Papa kembali masuk RS dan setelah dirawat selama bebrapa hari diperbolehkan pulang. Papa sudah bisa kembali bicara dan diskusi tentang banyak hal terutama dengan adik ku Tio dan Mama yang sering menunggu beliau di RS.
Februari tanggal 16 di hari Sabtu aku ajak anak ku yang kebetulan sedang sakit juga untuk menengok eyangnya. Aku putuskan ke rumah Papa dulu sebelum ke RS karena mama menelpon kalau Papa susah makan dan merasa kesakitan badannya. Grace anak ku datang dan mengajak Eyangnya makan, anak yang kalau di rumah suka minta disuapin kalau mau makan ….hari itu dia menawari untuk menyuapi eyangnya. Eyangnya mau dan makan beberapa sendok disuapi Grace. Senang kami melihat Papa bisa makan dan tersenyum.

Siangnya setelah makan siang jam 2 an kami ijin untuk antar Greace ke RS juga dan kami pergi meninggalkan rumah Eyang menuju RS anak di Cibubur. Dokter yang memeriksa Grace memutuskan supaya Grace dirawat karena Deman Berdarah dan siang itu juga Grace harus mulai masuk RS. Di sisi lain Mama menelpon aku kalau Papa anfal lagi dan harus diabwa ke RS. Aku telp adik ku laki-laki supaya menamani dan aku jelaskan ke mama aku harus temani Grace di RS juga.

Singkat cerita Papa dibawa ke RS dan semenjak itu Papa tidak bisa lagi berkomunikasi dengan kami. Papa diberi alat bantu pernafasan dan selang untuk makan. Hal ini membuat beliau tidak bisa berkomunikasi.  Papa kondisinya terus turun dan aku membagi waktu antara menunggu Papa dan anakku yang keduanya dirawat di RS. 

Setiap aku tengok Papa di hati kecilku aku selalu percaya beliau pasti bisa segera pulih lagi. Drop yang saat ini aku rasa tidak separah tahun 2011 yang lalu dan aku sangat percaya beliau akan bisa pulih lagi. Tidak terlintas sekecil apapun dikepalaku kalau Papa akan segera meninggalkan mama, aku, adik-adik dan kami semua. Papa yang mantan Militer dengan kekuatan fisik yang luar biasa serta selalu bisa melewati semua masa sulit, aku percaya saat ini pasti beliau bisa juga.

Hari kamis tanggal 21 Februari aku putuskan menunggu anak ku di RS dank arena kondisiku sangat lelah aku langsung tertidur di RS anakku sepulang kerja.  Aku tidur dan semua HP ku dalam kondisi silent. Jam 3.30 HP istriku berbunyi dan dia mengangkatnya dan kemudian aku dengar samar-samar dia menangis….aku tanya ada apa dan aku dapat kabar kalau Mama menelpon dan memebritahukan kalau Papa sudah kembali ke rumah Bapa di surga. Papa kembali dalam tenang di pelukan Mama dan setelah minta ijin ke Mama kalau mau kembali dan Mama mengijinkan. Semua berlangsung dengan damai tetapi berita itu buat aku di pagi buta itu tetap seperti gledek yang mengagetkan.

Semua seolah berlangsung tdk sesuai dengan kehendakku dan rencanaku. Semua terjadi tidak sesuai dengan perkiraanku. Aku belum siap mendengar berita itu , kami semua masih butuh Papa tetapi kami sadar TUHAN lebih sayang dengan  Papa dan tidak mau melihat Papa menderita dengan penyakitnya lebih lama lagi. Kami harus relakan dan iklaskan kepergiannya dan perpisahan sementara ini. Kami yakin pasti akan bertemu kembali di Rumah Bapa yang kekal.


Saat Saat Pemakaman Papa
Jumat 22 Feb 2013, jam 9 an , jenasah Papa sudah selesai dimandikan dan dipakaikan baju kesukaannya (JAS Putih). Ambulance dari Tabitha juga sudah sampai dan siap membawa Papa kembali ke rumahd ari RSPAD. Kembali ke rumah dengan kondisi yang berbeda dari biasanya dan dengan cara yang berbeda dan ini adalah perjalanan kembali ke rumah terakhir dari Papa. Sengaja kami membawa jenasah Papa kembali ke rumah karena kami tidak ingin membuat sahabat, tetangga dan teman Papa kesulitan jika harus datang ke Rumah Duka RSPAD yang cukup jauh dari rumah kami.

Setibanya di rumah kami sekeluarga mengadakan rapat keluarga dan semua pesan Papa kepada mama, aku dan adik-adik kita ingat-ingat lagi dan kita list.  Permintaanya tidak ada yang merepotkan seperti :
1.       Papa ingin dimakamkan di Pondok Rangon dan tidak mau di Taman Makam Pahlawan walau beliau punya bintang jasa karena terlibat perang/bertempur  atas nama Negara. Alasan Papa supaya nanti bisa tetap dekat sama Mama, karena kalau di TMP mama tdk bisa dimakamkan dekat beliau.

2.       Papa ingin dimakamkan sebagai rakyat biasa dan tanpa upacara militer. Alasan Papa karena beliau sudah pensiun dan menjadi rakyat serta beliau merasa sebagai milik keluarga. Kalau ikut upacara militer maka jenasah Papa harus dberikan ke Negara/kesatuan dan ini Papa tidak inginkan selain itu upacara militer hanya akan memberikan perbedaan kasta/pangkat dari semua yang hadir. Papa mau semua kita merasa sama saat itu, sama-sama teman Papa dan tidak ada perbedaan.

3.       Papa tidak ingin dalam perjalanan ke makam memakai Voorijder/Pembuka Jalan baik militer maupun sipil karena selama dia hidup dia juga paling sebal sama orang meninggal yang ke makam dikawal. Beliau selalu bilang kenapa sudah meninggal saja harus buru-buru dan membuat yang hidup harus menunggu dan mengalah.  Beliau mau perjalanan ke makam sabar saja dan tidak usah merpotkan apalagi sampai merugikan orang lain. Mungkin ini pendapat Papa saja dan keyakinan beliau saja.

Pada dasarnya Cuma 3 hal di atas saja permintaan Papa, tetapi pada saat kami akan menjalankan amanat itu, tantangannya sangat tidak mudah. Kesatuan Papa meminta tanda jasa Papa dan rencana pemakaman disampaikan dan mereka akan mengatur protokolernya. Kami sampaikan bahwa Papa ingin semua sederhana dan dilakukan keluarga, jika teman di kesatuan Papa ingin berpartisipasi silahkan jika akan memberi sambutan atau ingin mengantar.  Kami sekeluarga juga tahu kalau yang diutus dari kesatuan harus berhasil dan ini perintah atasan mereka, tapi di sisi lain kami juga ingin menjalankan amanat Papa kami.  Setelah terus berdiskusi sampai pagi dan berbicara melalui telepon sampai kepada komandan dari kesatuan Papa akhirnya mereka bisa menerima. Puji Tuhan akhirnya pemakaman Papa bisa dilakukan dengan cara kami yang sederhana dan tanpa ada tembakan salvo dan upacara militer.

Jenasah Papa kami semayamkan di rumah satu hari di hari Jumat itu dengan maksud memberi kesempatan semua saudara, teman sekolah Papa, teman gereja dan koor Papa, teman main tennis Papa, teman business Papa, tetangga dll yang kenal Papa dan ingin memberi penghormatan terakhir bisa bertemu dengan beliau. Kami betul terharu karena dari jam 10 pagi sampai jam 1 pagi tamu yang datang tidak putus-putus, ini membuktikan kecintaan banyak orang pada Papa. Ada anak buah Papa yang sampai menangis karena kehilangan, ada pedagang kecil yang merasa dibantu Papa ketika dia punya masalah, ada tukang ojek dan supir taksi yang ikut datang, dll dll pokoknya banyak sekali yang datang dan dari berbagai kalangan sampai kita terheran-heran dengan banyaknya teman Papa yang datang. Memang orang baik pasti akan meninggalkan kesedihan ketika dia berpulang ke rumah BAPA di SURGA, walau kami tahu Papa mungkin kelakuannya tidak 100% benar terus, tetapi minimal dia sudah berbuat baik untuk banyak orang dan banyak orang yang kehilangan.

Hari Sabtu pagi kami semua mengantar jenasah Papa ke pemakaman, kami jalan jam 10 pagi dari rumah dan walau tanpa pengawalan dan Vooreijder kami semua bisa bersukacita sepanjang perjalanan. Kami melihat deretan mobil yang mengantar ke makam sampai sekitar 100 mobil + dua bus (yg sengaja kami sediakan buat tetangga yang ingin mengantar tetapi tdk punya kendaraan)… semua mobil-mobil itu berderet dengan rapid an berjalan perlahan-lahan tanpa harus menganggu pengguna jalan lain yang ingin sampai lebih cepat ke tujuannya. Papa sudah sampai di Surga dan bertemu TUHAN, kami tidak harus terburu-buru dalam mengantar jasad beliau ke peristirahatan terakhir dan tidak perlu membuat orang lain kesal. Perjalanan yang sungguh berkesan dan memberi pelajaran kepada kami anak-anaknya arti EMPATI pada orang lain.
Kami memerlukan waktu tidak lebih dari 30 menit dari Kramat Jati sampai Pondok Rangon dan karena anugrah TUHAN , Papa bisa mendapatkan tanah makam di depan dekat dengan tempat parker tidak harus bejalan jauh sampai kedalam. Ini sangat memudahkan kami untuk menengok beliau di kemudian hari dan juga pastinya sangat memudahkan semua teman beliau yang mengantar ke peristirahatan terakhir.
Ada pemadangan yang baik di upacara pemakaman Papa yaitu ketika teman Papa yang punya pangkat bintang, melati ataupun anak buah Papa yang masih rendah pangkatnya ataupun kami semua yang tidak punya pangkat  bisa duduk dan berdiri berampingan tanpa sekat pembatas. Semua punya tujuan satu mengantar jasad Papa ke peristirahatannya yang terakhir. Satu pelajaran lagi kalau kita semua sama didepan TUHAN diberikan pada kami.


Kami benar-benar belajar dan mendapat pelajaran berharga dari upacara pemakaman Papa kami. Papa mengajarkan kesederhanaan, kesamaan status, persahabatan sejati dan banyak lagi melalui amanat beliau untuk upacara pemakaman beliau. Semua  saudara dan teman Papa surprise dengan jalannya  rangkaian acara pemakaman Papa yang tidak terganggu walau tanpa upacara militer dan pengawalan/Vooreijder sekalipun. Sangat hikmat dan membawa kesan mendalam buat semua yang datang. Luar Biasa. Selamat jalan Papa dan kami bangga jadi anakmu