Saya tergugah untuk menulis serta share perenungan pribadi saya selama ini dan mengupas masalah ini dikarenakan ketika saya menghadiri seminar bulan keluarga di GKI Kranggan Hari Rabu tanggal 15 Oktober dengan topic Pergaulan Bebas dan Penyalahgunaan NARKOBA serta beberapa diskusi dengan teman-teman selama ini. Saya melihat satu masalah dan GAP besar antara Harapan Orang Tua (ORTU) dan Keadaan Anak saat ini. GAP yang harusnya tidak ada kalau kedua belah pihak menyadarinya serta mau saling merendahkan hati untuk menerima keadaan yang ada. GAP yang seharusnya tidak ada, serta GAP ini bisa menjadi pemicu memanasnya suasana Rumah yang menyebabkan semua pihak menjadi tidak nyaman berada di rumah. Mungkin beberapa orang merasa terlalu naïf kalau kita meniadakan GAP atau masalah antara ORTU dan ANAK ini. Tetapi mari kita renungkan hal ini secara seksama dan semoga tulisan ini tidak terasa mengajari serta bisa menjadi bahan renungan kita bersama. Melalui tulisan ini saya akan bahas GAP-GAP terbesar yang ada dan semoga GAP ini bisa hilang sehingga anak dan ORTU hubungan menjadi nyaman dan bisa menghindari anak mencoba-coba pergaulan bebas dan NARKOBA.
GAP yang paling banyak timbul adalah Ortu melihat anak kita menjadi jauh lebih manja dari masa muda kita dulu. Banyak Ortu melihat anak sekarang begitu malasnya/maunya instant tidak kayak jaman para Ortu masih muda dimana mereka harus bersepeda cukup jauh ke sekolah setiap hari, Mandi dengan menimba air, Membantu pekerjaan Ortu dari para Ortu sekarang, Ikut kegiatan Pramuka or Pencinta alam or Karang Taruna or Organisasi lainnya, Main bola or bulu tangkis or olahraga lainnya. Pokoknya kegiatan seabrek tapi tetap bisa ke handle semua serta di sekolah bisa berprestasi serta sampai sekarang terbukti bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Saya sengaja garis bawahi dan miringkan statement terakhir karena itulah sumber masalahnya. Tanpa kita sadari tingkat hidup kita meningkat atau kalau dalam bahasa lain derajat atau kasta kita meningkat seiring dengan peningkatan ekonomi kita. Kita menjadi mampu untuk menyediakan rumah yang relative bagus dan ada pompa airnya sehingga anak cukup buka keran tanpa harus menimba dan mencari air, menyekolahkan anak kita ke sekolah yang relative bagus, mengantar mereka ke sekolah (walau mungkin hanya dengan motor) sehingga anak tidak perlu berusaha keras/berjuang untuk sampai ke sekolah, mengirim mereka untuk ikut les menambah pelajaran di sekolah sehingga anak tidak perlu berusaha keras untuk menguasai pelajaran dll dll. Semua kegiatan yang tanpa kita sadari membuat anak kita menjadi malas, tergantung sama orang lain (terutama orang tuanya), menjadi lebih berfikir instant dan tidak mau berjuang. Kalau saja para ORTU menyadari dan mau mengajarkan kemandirian semenjak dini ke anak-anak mereka maka GAP yang satu ini tidak harus muncul.
GAP kedua adalah adanya tuntutan daari ORTU untuk bisa mengikuti profesi kita. Apalagi akalu si Ortu adalah lulusan terbaik semenjak SD sampai kuliah dan selalu kuliah di sekolah terbaik dan Fakultas terbaik serta mendapat pekerjaan di tempat etrbaik juga. Kita cenderung mau memaksa anak kita meniru jejak hidup kita dan kita paksakan dia. Kita lupa bahwa TUHAN ciptakan manusia dengan talenta dan bakat masing-masing dengan kelebihan di otak kanan atau kirinya, dengan bakat di bidang ilmu pengetahuan atau seni. Tuhan ciptakan juga motorik halus dan kasar yang melatar belakangi bakat olahraga seseorang. Seharusnya kita sebagai Ortu mau mengerti kondisi anaknya serta mensyukuri/menerimanya dengan kelebihan dan kekurangannya. Jika kita mau mengerti kondisi ini maka saya rasa satu GAP yang ini dalam rumahtangga juga akan hilang dan damai sejahtera akana da di hati kita, anak kita dan Rumahtangga kita. Kita akan bisa bangga dengan anak kita yang nilai matematikannya jelek tapi nilai pelajaran yang menghafalnya tinggi, kita bisa bangga dengan anak yang semua nilai pelajarannya tidak terlalu baik tapi bisa main Gitar dengan sangat baik, kita juga akan tetap bisa bersyukur ketika anak kita presntasi di sekolahnya tidak sebagus prestasinya di lapangan sepakbola atau olahraga lainnya. Di sisi lain anak-anak juga tidak hanay mau minat dimengerti tapi juga mau belajar mencari bakat yang ada padanya dan mengembangkan kemampuannnya semaksimal mungkin dengan kesadaran penuh bahwa mereka dilahirkan dengan tugas mengembangkan talenta yang TUHAN berikan kepadanya.
GAP yang juga sangat memprihatinkan adalah tuntutan untuk selalu jadi yang terbaik. Mungkin sebagai Ortu kita sudah mendukung pilihan anak kita untuk mandalami bidang seni, olahraga atau pelajaran formal di sekolah. Hanya kita tuntut anak kita selalu menjadi yang terbaik. Kita lupa bahwa mungkin talenta yang diberikan TUHAN hanya satu atau dua saja dan bukan sepuluh atau seratus. Artinya anak kita tidak mungkin bersaing dengan temennya yang punya talenta lebih dan mau berusaha sama kerasnya dengan anak kita untuk sukses. Tuntutan orang tua yang di luar kemampuan seorang anak akan men trigger seoarang anak untuk meningkatkan talentanya dengan cara tidak sah/wajar seperti mencontek di sekolah dan cara-cara sukses yang instant. Di sisi lain seorang anak juga harus bisa memaksimalkan kemampuannya.
Contoh di atas adalah beberapa GAP antara orang tua dan anak yang biasanya membuat hubungan dalam keluarga menjadi buruk. Di sisi lain hubungan dalam keluarga yang buruk, tekanan berprestasi yang besar pada anak, kebiasaan membandingkan prestasi anak anak sendiri maupun dengan anak orang oleh ORTU, tawaran kehidupan yang lebih mudah untuk anak yang berprestasi memancing anak kita keluar dari hidup nyata ke kehidupan khayal melalui pemakaiaan NARKOBA atau masuk dalam kehidupan yang lebih instant untuk mendapatkan kesenangan dan uang melalui seks bebas.
Memang susah untuk menyelesaikan masalah yang kalau dibahas seolah-olah kecil tapi sesunguhnya perlu hubungan pribadi yang sangat dekat dengan TUHAN sang pencipta untuk bisa mengerti siapa kita dan apa bakat kita. Tanpa hikmat yang didapat dari hubungan yang dekat dengan SANG PENCIPTA maka mungkin kita bisa mendapatkankan yang kita inginkan tapi kita mengorbankan hal lain. Misal kita bisa sukses di karir hanya gagal dalam hubungan di keluarga, anak kita bisa sukses di sekolah tapi sebetulnya dia pribadi yang tidak bahagia dan berada dalam tekanan berat yang cepat atau lambat bisa menggangu jiwanya dan masalah lainnya. Jadi hanya rasa syukur dan kebanggan yang kita sadari karena sudah bisa menerima tanggung jawab dari TUHAN untuk mengembangkan talenta dan tanggung jawab yang TUHAN berikan, yang bisa membuat SUASANA KELUARGA KITA TETAP HANGAT DAN NYAMAN. Saya yakin suasana Surga itu bisa kita mulai rasakan di keluarga kita dan bukan setelah kita mati.
Tuesday, October 21, 2008
Subscribe to:
Comments (Atom)